
Mobil sampai di rumah keluarga Fabrizio. Liam ikut turun untuk menyapa Mami Neta.
“Kalian sudah datang.” Mami Neta menyapa Liam dan Loveta.
Loveta dan Lia segera menyapa Mami Neta. Mendaratkan kecupan di punggung tangan Mami Neta.
“Aku pamit dulu, Kak.” Liam langsung berpamitan. Karena tidak berniat lama-lama di rumah keluarga Fabrizio.
“Kenapa buru-buru pulang? Ayo makan malam di sini dulu. Kemarin kamu sudah menolak. Sekarang aku tidak menerima penolakan.” Sejak ke rumah keluarga Fabrizio memang Liam belum makan malam bersama. Jadi kali ini dia harus memaksa.
Liam jelas tidak bisa menolak jika Mami Neta memaksa. Apalagi kemarin-kemarin dia sudah menolak
“Baiklah.” Liam mengangguk.
Liam masuk ke rumah bersama dengan Mami Neta dan juga Loveta. Mereka menuju ke ruang keluarga. Agar lebih nyaman menunggu.
“Aku mandi dulu.” Loveta berpamitan. Karena dia harus mandi lebih dulu sebelum makan malam.
Liam mengangguk. Kini tinggal Mami Neta dan Liam saja di ruang keluarga. Menunggu keluarga untuk makan malam.
“Hai, Kak Liam.” Nessia menyapa Liam. Dia yang mendengar suara segera mengecek siapa yang datang.
“Hai, Kak Liam.” Danish di belakang Nessia ikut menyapa.
__ADS_1
“Hai.” Liam menyapa Danish dan Nessia.
“Karena ada Nessia dan Danish, kamu ditemani mereka sebentar. Aku ingin menyiapkan makan malam.” Mami Neta berpamitan. Dia harus ke dapur menyelesaikan pekerjaannya.
“Iya, Kak.” Liam tentu tidak masalah jika ditemani si kembar. Tentu saja dia mau saja.
Mami Neta meninggalkan Liam dengan anak kembarnya. Nessia langsung duduk di samping Liam ketika melihat Liam.
“Kak Liam dari mana?” tanya Nessia.
“Dari apartemen.” Liam tersenyum.
“Oh ... ya Kak Liam sudah pindah ke apartemen ya. Apa Kak Cinta sudah selesai merapikan apartemen?” tanya Nessia.
“Wah ... berarti aku boleh main ke sana.” Nessia begitu bersemangat sekali.
“Mainlah bersama Danish.” Liam jelas mengizinkan adik-adik Loveta ke apartemennya.
“Malas sekali pergi dengannya.” Nessia melirik Danish yang duduk di samping Liam. Dua anak itu memang tidak pernah akur.
“Lagi pula siapa yang mau pergi denganmu.” Danish menatap malas pada Nessia.
Liam tersenyum melihat si kembar yang berdebat. “Kalau begitu pergilah dengan Kak Cinta.” Dulu dia adalah penengah untuk adik-adiknya.
__ADS_1
Nessia menekuk bibirnya. Pergi dengan kakaknya pasti tidak akan leluasa. Namun, mau bagaimana pasti mami dan papinya tidak akan mengizinkan pergi sendiri.
Saat mereka sedang asyik menikmati mengobrol, Papi Dathan datang. Liam segera menyapa Papi Dathan.
Papi Dathan harus segera mandi jadi dia pergi ke kamar. Meninggalkan Liam bersama anak kembarnya lagi.
Loveta yang selesai segera bergabung dengan Liam dan adiknya. Saat menghampiri ternyata Liam sedang bercerita tentang sekolah dengan adik-adiknya. Tampak asyik sekali.
“Sepertinya asyik sekali.” Loveta ikut duduk di sofa.
“Kak, nanti ajak aku ke apartemen Kak Liam.” Nessia menatap kakaknya.
“Iya, nanti saat libur.” Walaupun terlihat keras pada adiknya, Loveta tetap sayang pada adik-adiknya. Menuruti keinginan mereka selama masih masuk akal.
Nessia tersenyum. Tentu saja dia tidak sabar untuk berkunjung ke apartemen Liam.
Mami Neta yang selesai menyiapkan makanan bergabung dengan Liam dan anak-anaknya. Mereka menunggu Papi Dathan untuk menikmati makan bersama.
“Kak Liam, kata Kak Cinta, Kak Liam sudah punya calon istri?” Nessia melemparkan pertanyaan di sela-sela obrolan.
Loveta membulatkan matanya. Tidak menyangka jika adiknya bertanya seperti itu.
“Kamu sudah punya calon istri, Liam? Siapa?” Mami Neta begitu terkejut. Dia tidak tahu jika adiknya itu punya kekasih.
__ADS_1
Di saat seperti ini Liam bingung harus menjawab apa. Padahal niatnya mengatakan itu untuk membuat Loveta lebih nyaman. Dia memilih jawaban.