
Sejujurnya, sejak Liam datang, hatinya Loveta sudah goyah. Rasa cintanya semasa kecil yang dipikirnya hanya cinta monyet saja, berubah jadi nyata. Namun, saat itu Loveta sadar jika masih punya Leo. Tidak mungkin dia meninggalkan Leo demi Liam yang baru saja datang.
Perlahan, perubahan Leo membuat Loveta lebih nyaman pada Liam. Sayangnya, tetap saja Loveta tidak bisa melepaskan Leo karena merasa beban hubungan yang sudah cukup lama terjalin. Sampai akhirnya Tuhan tunjukan jalan. Leo yang tidur dengan wanita lain, membuat Loveta memutuskan untuk mengakhiri semua.
Sekarang di depannya ada Liam yang begitu mencintainya. Namun, entah kenapa Loveta ragu.
Apa pantas wanita yang baru saja berpisah dengan kekasihnya, menerima pria baru secepat itu?
Pertanyaan itu menghiasi pikiran Loveta. Dia merasa dirinya begitu cepat sekali move on.
Untuk sejenak Loveta memikirkan hal itu. Namun, ada hal penting yang dipikirkannya. Yaitu rasa cinta yang tumbuh dalam hatinya. Rasa itu tidak bisa dipungkiri Loveta.
Liam adalah pria baik yang pernah dikenalnya. Sikapnya yang tenang bisa mengimbangi sikapnya yang sedikit panik dan ceroboh. Liam juga begitu penyayang. Dia begitu perhatian dengan orang-orang di sekitarnya.
Lalu apa yang Loveta harus pikirkan lagi jika Liam sesempurna itu baginya. Tentu saja Loveta harusnya tak perlu ragu menjadikan Liam sandaran dalam hidupnya.
“Aku mau.” Dengan penuh keyakinan Loveta mengangguk. Setelah begitu banyak pertanyaan di dalam hatinya. Akhirnya dia mendapatkan jawaban. Yaitu Liam memang pantas untuknya.
__ADS_1
Tepat saat jawaban Loveta diberikan, lampu menyala. Kini keduanya terlihat lebih jelas. Wajah Liam yang berbinar ketika Loveta menerimanya pun juga terlihat jelas. Kini penantian panjangnya berakhir sudah.
Dengan segera Liam menyematkan cincin yang sudah dipersiapkannya.
Loveta tersenyum. Cincin yang dipilihnya, akhirnya dipakai sendiri. Ternyata sejak tadi dia iri pada dirinya sendiri. Karena ternyata tidak pernah ada calon istri Liam. Semua hanya bualan belaka.
Liam berdiri. Sebuah kecupan mendarat di dahi Loveta. Bibir Liam berhenti sejenak di dahi Loveta. Saat itu seolah waktu ikut berhenti sejenak. Keduanya merasakan perasaan hangat di hati. Keduanya benar-benar merasakan perasaan cinta yang mendalam.
Saat Liam melepaskan kecupan itu, tatapannya yang begitu memuja tak henti diberikan pada Loveta.
“Aku mencintamu.” Satu kata yang selalu terasa berat untuk dikatakan dari dulu. Kini kata itu terasa ringan sekali. Keberanian yang mengiringinya membuat kata itu mudah diucapkan.
Liam membelai lembut wajah Lovata. Perlahan wajahnya mulai mendekat. Loveta langsung memejamkan matanya ketika wajah Liam nyaris mendekat. Dia seolah tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Sayangnya, alih-alih mencium Loveta, Liam justru memeluk Loveta. Tentu saja itu membuat Loveta terkejut.
“Ada banyak orang di sini.” Liam berbisik. Sejak tadi Liam meminta karyawan menyalakan lampu. Jadi jika Liam mencium Loveta kali ini, akan jadi tontonan gratis untuk mereka.
__ADS_1
Loveta tersipu malu. Dia sudah memejamkan mata, tetapi ternyata tidak jadi dicium. Jadi dia malu sekali.
“Ayo, kita nikmati makan malam.” Liam melepaskan pelukannya.
Loveta mengangguk.
Liam segera menarik kursi untuk Loveta. Mempersilakan Loveta untuk duduk. Bunga yang tadi dibelinya bersama Loveta diberikannya saat itu juga.
Loveta terus tersenyum. Hari ini benar-benar menjadi hari bahagianya. Karena sejak tadi dia dihujani cinta oleh Liam.
“Kenapa Kak Liam berbohong padaku? Padahal semua untukku, tetapi kenapa tidak bilang?” tanya Loveta menatap Liam sedikit kesal.
“Jika aku bilang namanya bukan kejutan.” Liam menyeringai.
Pramusaji menyajikan makanan untuk Liam dan Loveta. Sajian khusus dipesan Liam untuk makan malam mereka. Alunan musik pun mengiringi makan malam mereka.
“Jadi pesta pernikahan tetap akan dilaksanakan. Apa kamu sudah siap?” Liam menatap Loveta di tengah-tengah makan.
__ADS_1
“Pernikahan tetap bisa dilaksanakan, tapi sesuai dengan izin papi. Jadi Kak Liam harus meminta izin pada papi.” Loveta tetap tidak bisa memutuskan hal itu. Sekali pun dia menerima Liam, tetap saja papinya harus memberikan izin.
“Baiklah, aku akan meminta pada papimu langsung.” Liam tentu tidak akan takut melakukannya.