Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 107


__ADS_3

Liam dan Loveta sampai di apartemen. Mereka merapikan barang-barang yang mereka beli. Liam membantu Loveta menyusun belanjaan. Baru setelah itu mereka memasak.


Rencananya mereka akan memasak spaghetti. Mengingat Loveta tidak mau makan terlalu berat malam ini.


Liam meminta Loveta menunggu duduk manis di kursi yang berada di depan meja bar.


Loveta hanya pasrah. Jika masak spaghetti diambil alih Liam. Karena memang harusnya sebagai orang Italia, dia jagonya membuat spaghetti.


Liam memakai apron ditubuhnya. Menggulung kemeja yang dipakainya agar lebih leluasa. Pemandangan itu begitu memesona. Loveta sampai tidak berkedip memandangi sang suami. Dia merasa ketampanan sang suami berlipat-lipat ganda.


“Apa jika orang Italia asli yang buat spaghettinya akan jauh lebih enak?” Loveta menggoda sang suami. Tangannya berpangku dagu sambil memandangi sang suami.


“Kamu coba saja, dan rasakan apakah berbeda.” Liam tersenyum.


“Baiklah, aku akan coba nanti.” Loveta begitu penasaran sekali dengan masakan Liam. Tentu saja dia ingin merasakan masakan Liam.


Liam sibuk membuat masakan untuk makan malam. Dia begitu lihat sekali.


“Apa mamamu yang mengajari memasak?” tanya Loveta penasaran. Liam memasak sudah seperti chef saja.


“Kamu tahu bukan jika restoran awalnya yang membuat adalah mama. Jadi tentu saja mama hebat dalam memasak.” Liam memang belajar dari sang mama. Walaupun di Italia mamanya tidak membuka restoran. Karena merasa begitu trauma sekali.


“Andai mama masih ada, pasti aku bisa belajar masakan Italia.” Loveta ingin sekali merasakan memiliki mertua, tapi sayangnya orang tua Liam tidak ada.


“Andai mama masih ada. Pasti dia akan senang bisa memiliki menantu secantik kamu.” Liam mendaratkan kecupan. Walaupun terhalang meja bar, tetap saja dia tidak menghalangi mencium sang istri.


“Nanti saat ke Italia. Ajak aku berkunjung ke makam mama. Aku ingin berkenalan dengan mama.”


“Tentu saja aku akan mengajakmu.” Liam mengangguk dengan pasti.


Akhirnya Liam selesai juga memasak. Loveta benar-benar tak sabar menikmati masakan sang suami. Apalagi tampak menggoda sekali.

__ADS_1


Dengan segera Loveta memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Benar saja. Rasa masakan Liam benar-benar enak. Serasa makan masakan chef ternama.


“Bagaimana rasanya?” tanya Liam penasaran.


“Ini enak sekali.” Loveta kehabisan kata untuk memuji masakan Liam.


Liam senang karena Loveta suka dengan masakannya.


“Jika kamu suka, aku akan memasakan lagi untukmu.” Liam bersemangat sekali ketika sang istri mau makan.


“Aku tidak mau.” Loveta langsung menolak.


Liam bingung kenapa sang istri menolak. “Kenapa?” tanya Liam.


“Aku tidak mau jika masak spaghetti lag. Jika yang lain aku mau.” Loveta tersenyum manis. Merayu sang suami.


Liam tertawa. Bisa-bisanya istrinya beralasan itu. Dia pikir sang istri benar-benar tidak mau. “Aku akan memasakkan banyak menu untukmu. Kamu ingat bukan jika aku adalah fotocopy dari mamaku yang jago masak.”


Loveta berbinar. Tak sabar menjajal masakan Liam yang diajarkan oleh sang mama.


 


Loveta meraih tubuh Liam untuk dipeluk. Sayangnya, dia tidak menemukan tubuh kekar itu. Saat membuka matanya, ternyata Liam tidak ada di sisinya. Rasa penasaran Loveta membuatnya bangun.


Sebelum turun dari tempat tidur, dia meraih baju tidurnya di lantai berlapis karpet. Memakainya tanpa pakaian dalam.


Loveta keluar dari kamar. Aroma manis yang tercium membuat Loveta merasa penasaran.


Rasa penasaran itu mengantarkan Loveta mencari sumbernya. Dan aroma manis itu berasal dari dapur.


Alangkah terkejutnya Loveta ketika melihat sang suami yang sedang asyik  memasak pagi-pagi. Suara musik yang terdengar merdu membuat syahdu suasana pagi ini.

__ADS_1


Yang lebih menarik adalah ketika Liam memasak tanpa mengenakan baju. Membiarkan tubuh bagian atas terbuka.  


Punggung lebar Liam tampak indah sekali. Punggung yang nyaman untuk menyandarkan kepalanya.


Loveta mengayunkan langkahnya perlahan menghampiri Liam. Langkahnya dibuat pelan agar tidak menimbulkan suara.


Benar saja. Langkahnya yang mendekat tidak dirasakan oleh Liam. Pria itu masih asyik memasak.


Loveta yang gemas dengan aksi sang suami pun memilih langsung memeluk dari belakang. Kemudian mendaratkan kecupan-kecupan lembut di punggung sang suami.


Liam yang mendapat pelukan tiba-tiba serta kecupan di punggung benar-benar dibuat terkejut. Dia langsung menoleh. Alangkah terkejutnya ketika mendapati jika itu adalah istrinya.


Mendapati tatapan sang suami, Loveta  tersenyum manis. Membuat Liam begitu gemas.


“Kenapa kamu datang tanpa suara?” tanya Liam memutar tubuh. Sebelum berbalik, dia mematikan kompor terlebih dahulu.


“Kamu asyik memasak dan mendengarkan musik. Jadi kamu tidak mendengar aku datang.” Loveta berbohong. Padahal dia sengaja mengejutkan sang suami.


“Tetap saja. Aku pastinya dengar sekali pun sibuk memasak dan mendengarkan musik.” Liam masih merasa alasan istrinya tidak pas. “Apa jangan-jangan yang di depanku sekarang adalah hantu?” Liam menatap ketakutan.


“Mana ada hantu  secantik aku?” tanya Loveta kesal.


“Bisa saja kamu menyerupai istriku yang cantik.” Liam pura-pura tidak percaya.


Loveta membulatkan matanya. Bagaimana bisa sang suami mengiranya adalah hantu.


“Iya, aku hantu. Apa kamu tergoda denganku.” Tangan Loveta membelai lembut dada sang suami. Sebuah kecupan singkat pun mendarat di dada bidang itu.


Liam memejamkan matanya. Merasakan kecupan itu mengantarkan tubuhnya meremang.


Loveta melihat jelas jika suaminya menikmati sentuhannya itu. Ada rasa puas ketika menggoda balik sang suami.

__ADS_1


“Jika aku hantu, mana bisa aku menyentuhmu.” Loveta langsung melepaskan kecupannya itu, dan menjauhkan tubuhnya.


 


__ADS_2