
Pagi ini semua menikmati sarapan. Sebelum memutuskan untuk pulang. Semua menikmati makanan yang disajikan pihak restoran.
“Semalam kamu tidur jam berapa?” Papi Dathan menatap sang anak.
Loveta melirik ke arah Liam. Dia curiga jika papinya semalam melihatnya.
“Setelah masuk kamar aku tidur.” Loveta memberikan alasan pada sang papi.
Papi Dathan yang mendapati jawaban sang anak memikirkan jika pasti semalam benar jika yang di dengarnya bukanlah suara sang anak.
Papi Dathan pun kembali menikmati makanannya.
Saat sang papi sudah kembali makan, Loveta sedikit tenang. Karena tidak harus banyak bicara.
“Kak Cinta semalam tidur jam sepuluh lebih ‘kan?” tanya Nessia berbisik pada Loveta.
Loveta langsung memberikan isyarat tangan di depan bibirnya. Meminta sang adik diam.
Nessia langsung diam ketika melihat sang kakak memintanya diam. Namun, di tentu saja tidak mau rugi sama sekali.
“Berikan uang jajan dulu, maka aku akan diam.” Nessia mengambil keuntungan dari sang kakak.
Loveta menatap malas pada adiknya. Bisa-bisanya sang adik memanfaatkannya. Karena tidak mau sampai adiknya ember, akhirnya Loveta mengambil uang di dompetnya. Kemudian memberikannya pada Nessia. Loveta memberikan selembar uang berwarna merah pada adiknya. Sengaja dia memberikan lewat bawah meja. Agar tidak ada yang melihat.
“Kurang.” Nessia menyeringai.
__ADS_1
Loveta membulatkan matanya ketika sang adik meminta uang lagi.
“Pa—“ Nessia menggerakkan mulutnya untuk memanggil sang papi.
Loveta buru-buru langsung memberikan selembar uang lagi. Akhirnya Nessia langsung berhenti. Tidak jadi memanggil sang papi.
“Kalian sedang apa?” Danish melihat kakak dan saudara kembarnya sedang berbisik merasa penasaran.
“Aku dapat dua ratus ribu dari Kak Cinta.” Nessia meledek Danish sambil memamerkan uang dua ratus.
Loveta dibuat tercengang dengan aksi sang adik. Bukan menyembunyikan, justru memamerkannya. Loveta hanya bisa menepuk dahinya. Jika sudah begini, dia pasrah.
“Kenapa Nessia saja yang diberi?” Danish protes.
Dari pada berisik, akhirnya Loveta memberikan satu lembar pada adiknya.
Loveta hanya bisa pasrah. Karena sang adik tak mau kalah. Terpaksa dia memberikan dua lembar juga.
“Aku?” Alca menadahkan tangannya. Dia juga tak mau kalah meminta uang dari sang kakak.
Loveta mengembuskan napasnya. Terpaksa di memberikan juga pada adiknya agar adil.
“Uang apa itu?” tanya Mama Arriel.
“Uang jajan mereka saja, Ma. Aku baru dapat uang sewa apartemen. Jadi aku berbagi.” Terpaksa Loveta berbohong.
__ADS_1
“Kalau begitu Mama juga dapat jatah?” tanya Mama Arriel.
“Uang Mama sudah banyak. Untuk apa?” Loveta menyindir.
“Mama juga mau dapat uang dari anak Mama. Jadi tidak apa-apa ‘kan?” Mama Arriel tersenyum.
“Mama menunggu aku gajian saja.” Loveta tersenyum.
“Baiklah.” Mama Arriel sebenarnya tidak benar-benar meminta. Hanya saja dia senang menggoda anaknya.
Mereka semua menikmati sarapan. Setelah sarapan mereka kembali pulang masing-masing. Liam mengantarkan Bu Kania. Loveta ikut serta dengan Liam mengantarkan Bu Kania.
...****************...
“Kak Leo.” Nessia yang turun lebih dulu berpapasan dengan Leo yang datang.
“Halo, Nes.” Leo menyapa Nessia. Dia memerhatikan orang-orang yang keluar dari mobil. Ada Mami Neta, Papi Dathan, dan Danish. Sayangnya, tidak ada Loveta di sana.
“Di mana Lolo?” Leo menatap Nessia yang berdiri di depannya.
“Dia bersama dengan Kak Liam mengantarkan Bu Kania ke panti asuhan.” Dengan polosnya Nessia menjawab. Dia memang tidak tahu apa-apa. Jadi dia mengatakan apa adanya.
“Kak Liam?” Leo mengulang nama itu ketika mendengar jawaban Nessia.
Mami Neta dan Papi Dathan begitu terkejut. Tidak menyangka jika Nessia memberitahu Leo jika Loveta bersama Liam.
__ADS_1
“Bagaimana ini?” tanya Mami Neta lirih.