Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 47


__ADS_3

Loveta sampai di apartemen. Segera dia masuk ke apartemennya. Menaiki lift yang berada di dekat tempat parkir. Loveta menuju ke apartemen miliknya yang disewa oleh Liam.


Saat lift berhenti, Loveta segera keluar dari lift. Menuju ke unit apartemen yang ditempati Liam.


Langkahnya terhenti tepat di depan apartemen Liam. Tentu saja sebelum masuk, dia harusnya menekan bel terlebih dahulu.


Sesaat kemudian Liam membukakan pintu. Dilihatnya Loveta berada di depan apartemennya. Liam merasa bersyukur karena ternyata Loveta mau datang. Jadi dia bisa menjelaskan padanya.


“Ayo, masuk.” Liam melebarkan pintu. Mempersilakan Loveta untuk masuk.


Loveta masuk. Mengayunkan langkahnya ke ruang tamu.


Liam segera menutup kembali pintu apartemen. Kemudian menyusul Loveta di ruang tamu.


“Bibir Kak Liam tidak apa-apa?” Loveta cukup khawatir sekali dengan Liam.


“Sudah aku obati.” Liam berusaha untuk menenangkan Loveta.


Loveta sedikit lebih tenang. “Apa Kak Liam bisa jelaskan semua ini? Aku benar-benar masih bingung dengan keadaan ini. Kenapa bisa Kak Liam adalah kakak tiri Leo? Bagaimana bisa Kak Liam merebut restoran?” Loveta menatap Liam.


“Aku akan jelaskan. Semua itu—“ Ucapan Liam terpotong ketika terdengar suara bel. Liam dan Loveta segera mengalihkan pandangan pada pintu.


Loveta juga ikut mengalihkan pandangan ke arah pintu. “Kak Liam punya janji?” tanyanya memastikan.


“Tidak.” Liam menggeleng. “Aku akan cek dulu.” Liam segera berdiri. Namun, kali ini sebelum membuka pintu, dia melihat pada monitor yang menampilkan penampakan di depan pintu apartemen. Memastikan siapa yang datang.

__ADS_1


“Leo.” Seketika nama itu disebut Liam.


Loveta membulatkan matanya. Dia tidak menyangka jika Leo akan datang ke apartemen. Padahal tadi Leo bilang jika dia akan pulang.


Loveta segera mengecek monitor yang sedang dilihat Liam. Benar saja. Dia melihat Leo di sana.


“Bagaimana ini?” Loveta bingung.


“Temuilah, kita bisa bicara lagi saat waktu yang tepat. Aku haya minta kamu percaya padaku.” Liam menatap Loveta penuh harap.


Loveta masih yakin jika Liam tidak sejahat yang dipikirkan Leo.


“Aku akan urus Leo. Kak Liam tenang saja. Aku akan percaya pada Kak Liam.” Loveta meyakinkan Liam.


Loveta segera mengambil tasnya di sofa. Kemudian mengayunkan langkahnya ke pintu. Sebelum membuka pintu, Loveta menenangkan dirinya.


Saat merasa jauh lebih tenang, Loveta segera membuka pintu.


“Leo, kenapa kamu di sini?” tanya Loveta seraya membuka pintu. Langkahnya segera diayunkan keluar dari apartemen dan kemudian menutup pintu apartemen.


Leo memerhatikan Loveta. Ada yang aneh pada sang kekasih.


“Aku yang harusnya bertanya. Sedang apa kamu di apartemen?” Leo begitu penasaran sekali.


Tadi Leo pikir Loveta akan menemui Liam. Namun, ternyata kekasihnya itu ke apartemen.

__ADS_1


“Saat sampai rumah, mami meminta foto apartemen. Karena ada yang mau menyewa. Karena foto yang lama sudah aku hapus, aku harus foto ulang.” Loveta memberikan alasan yang tepat untuk Leo.


Leo memikirkan alasan yang diberikan Loveta itu.


“Kenapa bisa kamu menemukan aku di sini? Bukankah tadi kamu pulang?” Loveta segera mengalihkan pembicaraan dengan Leo. Tak mau Leo terlalu lama berpikir tentang kedatangannya ke apartemen.


“Aku-aku—“


“Kamu mengikuti aku? Kamu tadi tidak pulang, tapi memantau aku?” Loveta melemparkan tuduhan itu.


Leo jelas tidak bisa mengelak. Apalagi yang dituduhkan Loveta.


“Aku takut kamu menemui Liam. Jadi aku menunggu di sekitar rumahmu.” Leo pun jujur mengatakan hal itu.


Loveta sudah menebak. Jika Liam akan melakukan hal itu. Karena tidak mungkin, dia menemukan dirinya di sini.


“Kamu masih tidak percaya padaku? Tega sekali.” Loveta mengayunkan langkahnya pergi dari apartemen. Pura-pura marah pada Leo.


Melihat Loveta yang marah, membuat Leo tidak enak. Dia segera mengejar sang kekasih.


“Lo, dengarkan aku dulu. Aku hanya takut saja. Jadi aku memilih mengikutimu.” Leo menarik tangan Loveta untuk menghentikan langkahnya.


“Kamu memperlakukan aku seperti penjahat yang harus diikuti, apa itu normal?” Loveta meluapkan kekesalannya.


“Iya, aku tahu. Maaf. Aku hanya tidak mau kehilanganmu. Liam bisa merebut restoran, bisa saja dia merebutmu dariku.” Leo menundukkan kepalanya. Sejujurnya ada ketakutan itu yang sedang dirasakannya.

__ADS_1


__ADS_2