Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 99


__ADS_3

Nessia langsung menutup pintu. Dia benar-benar terkejut sekali ketika hampir melihat kakaknya berciuman.


“Kenapa?” tanya Danish yang kebetulan melintas di kamar Loveta. Dia melihat kembarannya tampak terkejut sekali. Seperti baru saja melihat setan.


“Kak Cinta dan Kak Liam sedang akan berciuman.” Nessia menjelaskan apa yang baru dilihatnya.


“Makanya jangan penasaran dengan praktik biologi.” Danish tertawa. Senang sekali saudaranya itu kena batunya.


“Menyebalkan!” Nessia menatap Danish malas.


“Cepat pergi, sebelum Kak Cinta marah padamu.” Danish menakut-nakuti Nessia.


Nessia langsung pergi. Dia tahu jika kakaknya marah urusannya panjang. Kakaknya pasti akan mencari ke kamar. Jadi dia memilih untuk pergi ke lantai bawah.


Nessia berlari ke lantai bawah. Menyusul sang mami yang sedang duduk di ruang keluarga.


“Kenapa?” tanya Mami Neta yang melihat anaknya lari-larian.


“Aku tidak sengaja melihat Kak Cinta mau berciuman dengan Kak Liam.” Nessia menceritakan apa yang baru saja terjadi.


“Mami sudah bilang kan jangan masuk kamar saudaramu sembarangan. Apalagi sekarang kakakmu punya suami.” Mami Neta menjewer telinga Nessia. Nessia memang agak susah dinasehati. Jadi kadang bikin Mami Neta sakit kepala.


“Iya, Mi aku tidak akan mengulangi.” Setelah ini, dia akan ingat pesan sang mami. Agar matanya tidak ternoda dengan apa yang dilihatnya.


Di kamar, Loveta segera menuju ke pintu. Alih-alih mengejar sang adik. Dia memilih mengunci pintu.


Liam merasa tidak enak sekali ketika baru saja ketahuan mencium istrinya. Walaupun Loveta sah istrinya. Tak pantas dia melakukan di depan sang adik ipar.


“Kebiasaan sekali dia langsung masuk sembarangan!”  Loveta menggerutu. Adiknya memang seperti itu. Namun, kali ini dia sudah tidak sendiri. Jadi harusnya adiknya tidak melakukannya.


Loveta menghampiri sang suami. “Ayo lanjutkan.” Dengan polosnya dia mengajak Liam berciuman lagi.

__ADS_1


Liam hanya terperangah. Bisa-bisanya Loveta melakukan hal itu. Padahal baru saja mereka baru saja ketahuan.


“Sayang, aku ....” Liam menggantung ucapannya.


“Kamu tidak mau melakukannya lagi? Pintunya sudah aku tutup.” Loveta merasa tidak ada alasan untuk menghentikan aksinya.


Liam masih ragu. Dia tahu pintu sudah ditutup, tapi dia masih tidak nyaman.


“Baiklah jika tidak mau.” Liam langsung berbalik.


Baru saja berbalik, Liam segera menarik Loveta dan mendaratkan bibirnya. Melanjutkan niatnya mencium sang istri.


Loveta tersenyum. Ternyata sang suami melakukannya. Jadi dia cukup senang.


Keduanya larut dalam ciuman itu. Keduanya menikmati kegiatan pertukaran saliva tersebut.


Saat merasa cukup puas, Liam melepaskan tautan bibir itu. Senyuman manis pun menghiasi wajah keduanya.


“Iya, sepertinya memang kita harus segera pindah. Aku akan kemasi pakaianku besok. Agar kita bisa segera pindah.” Loveta memang merasa akan lebih aman jika mereka segera pergi. Tak ada yang mengganggu mereka berdua.


“Baiklah.” Liam mengangguk.


 


...****************...


Loveta turun ke lantai bawah untuk membantu maminya menyiapkan makan malam. Sambil turun dia mencari keberadaan adiknya. Sayangnya, tidak ada adiknya itu.


“Ada yang bisa dibantu, Mi?” tanya Loveta.


“Pindahkan saja sayur itu ke piring saji.” Mami Neta menunjuk ke arah piring saji.

__ADS_1


Loveta segera mengerjakan apa yang diminta sang mami. Sambil mengerjakan, dia melihat ke sekitar. Mencari keberadaan adiknya.


“Cari siapa?” tanya Mami Neta.


“Cari Nessia.” Loveta menjelaskan siapa yang dicarinya.


Mami Neta tahu kenapa anaknya mencari adiknya itu.  


“Tadi, Nessia sudah bilang jika dia masuk ke kamarmu. Mami sudah nasehati dia.” Mami Neta menjelaskan pada anaknya agar tidak ada pertengkaran antar saudara.


“Bagus kalau Mami sudah bilang.” Loveta merasa jika memang tidak perlu menasihati adiknya jika sang mami sudah memberitahu sang adik.


Loveta melanjutkan membantu sang mami untuk mempersiapkan makan malam.


Liam turun ke lantai bawah untuk bergabung dengan mertuanya. Mereka mengobrol sedikit tentang bisnis sebelum makan malam.


Nessia yang turun ke bawah bersama Danish memilih bersembunyi di belakang Danish.


“Kamu kenapa?” tanya Danish menoleh ke belakang.


“Aku takut Kak Cinta marah.” Nessia berdebar-debar ketika makan malam bersama kakaknya. Masalahnya, sudah berkali-kali dia main masuk ke kamar kakaknya itu. Jadi wajar saja jika dia takut dimarahi.


Danish tersenyum. Dia senang sekali jika Nessia dimarahi oleh sang kakak.


“Kak Cinta.” Danish sengaja sekali memanggil cinta.


“Menyebalkan!” Nessia memukul bahu Danish kesal. Saudaranya itu tidak memahami sekali perasaan berdebarnya.


“Apa?” Loveta mengalihkan pandangan pada Danish. Penasaran kenapa adiknya memanggil.


Nessia menelan salivanya ketika sang kakak menatapnya. Nyalinya langsung ciut.

__ADS_1


 


__ADS_2