Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 158


__ADS_3

Liam tahu apa yang dipikirkan Loveta. Apalagi jika bukan jawabannya tadi pada dokter. “Jika keadaanmu memungkinkan aku tentu saja mengizinkan, tetapi saat keadaanmu tidak memungkinkan tentu saja aku tidak akan mengizinkan.” Liam tetap akan mengizinkan sang istri, tetapi tetap dengan alasan tertentu.


“Aku masih harus menyelesaikan proyek kita. Kamu tahu bukan akan soft launching.” Loveta menatap sang suami penuh harap. Dia sadar jika harus menyelesaikan pekerjaanya dulu.


Liam tersenyum sambil membelai lembut rambut sang istri. “Aku akan selesaikan yang di toko. Kamu tinggal datang saja nanti. Untuk sementara kamu istirahat saja. Agar kamu bisa menyelesaikan pembukaan di Malya.” Dia mencoba memberitahu sang istri.


Loveta bersyukur sekali karena sang suami masih mengizinkan. Kini tinggal keadaannya saja. Kuat atau tidak.


Di luar Mama Arriel membuka pintu. Ternyata bukan Mami Neta dan Papi Dathan yang datang. Melainkan pengantar makanan dari restoran mengantarkan makanan. Sekarang sudah lewat makan siang. Jadi wajar Liam memesan makanan. Mama Arriel segera menerima makanan tersebut.


“Ini.” Mama Arriel memberikan tips pada pengantar makanan.


“Terima kasih, Bu.” Pengantar makanan segera pergi.


Tepat saat pengantar makanan pergi, Mami Neta dan Papi Dathan datang. Mereka ikut masuk bersama dengan Mama Arriel. Mami Neta dan Mama Arriel langsung menyiapkan makanan di atas meja. Dari semua makanan terdapat satu bubur yang diyakini itu untuk Loveta. Karena itu Mami Neta segera memindahkan ke mangkuk untuk segera diberikan pada sang anak.


Mami Neta meminta suaminya untuk mengantarkan makanan ke kamar anaknya. Sekaligus memberikan vitamin yang diambilnya tadi.


Papi Dathan yang ke kamar Loveta, mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk ke kamar. Tak mau main masuk sembarangan. Saat ada jawaban dari dalam kamar, barulah dia masuk.


“Papi bawakan makanan dan vitamin untukmu.” Papi Dathan menghampiri anaknya.


Liam dengan sigap mengambil makanan yang dibawakan oleh sang mertua. Merasa tidak enak ketika istrinya dilayani oleh mertuanya. Harusnya dia yang tadi mengambilkan makanan.


“Terima kasih, Pi,” ucap Liam sambil meminta makanan.

__ADS_1


“Sama-sama.” Papi Dathan sangat senang dengan kehadiran cucunya di rahim sang anak. Jadi melakukan hal ini bukanlah sesuatu yang berat untuknya. “Makanlah dulu, Sayang, setelah itu minum vitaminnya.” Papi Dathan menatap sang putri.


“Terima kasih, Pi.” Loveta terharu sekali. Papinya begitu baik. Mau mengantarkan makanan sampai ke kamar.


“Sama-sama.” Papi Dathan tersenyum. Dia segera pergi untuk memberikan ruang pada anaknya makan.


Liam segera menyuapi sang istri. Memastikan untuk makan. Loveta sebenarnya mual, tetapi sesuai dengan perintah dokter. Dia harus berusaha untuk tetap makan agar anaknya dapat nutrisi.


“Ini pertama kali kamu menyuapi aku.” Loveta tersenyum manis menatap sang suami.


Liam terdiam sejenak sambil mengingat-ingat. “Iya, ini pertama kali, dan akan aku lakukan lagi nanti.” Tentu saja dia ingin memanjakan sang istri. Apalagi ketika hamil seperti ini.


“Kenapa melakukan lagi? Aku bisa makan sendiri jika nanti sehat.” Loveta melayangkan protesnya.


“Jika kamu bisa melakukan sendiri, tentu saja aku tidak akan memaksa.” Liam menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut sang istri.


Di saat Loveta sedang asyik makan, Mami Neta dan Mama Arriel masih sibuk merapikan makanan. Memindahkan ke piring saji.


“Kira-kira kita nanti mau dipanggil apa?” tanya Mami Neta pada Mama Arriel. Dia sudah sibuk memikirkan nama panggilan untuk cucunya, padahal cucunya belum lahir.


“Nenek, grandma, atau oma.” Mama Arriel memberikan saran beberapa panggilan


Mami Neta tampak berpikir. “Kalau nenek, kita terasa seperti nenek-nenek.” Mami Neta tetap tidak mau terlihat tua. “Kalau grandma, walaupun sesuai dengan Liam yang berasal dari luar negeri, tetapi tetap tidak pas untuk kita.” Dia bingung dengan dua panggilan itu.


“Kalau begitu oma saja.” Mama Arriel memberikan saran.

__ADS_1


“Itu sepertinya cocok.” Mami Neta setuju dengan saran panggilan itu.


“Tapi, nanti jika mereka memanggil kita. Pasti akan bingung.” Mama Arriel menambahkan. Dia berpikir cucunya akan punya dua kakek dan nenek. Jika semua dipanggil oma pasti susah.”


“Iya, juga, pasti susah.” Mami Neta membenarkan ucapan dari Mama Arriel.


Papi Dathan yang mendengar obrolan itu hanya bisa menggeleng heran. Padahal cucunya saja belum lahir. Mereka sudah memikirkan nama panggilan saja.


“Kenapa susah. Tinggal panggil. Oma Neta dan Oma Arriel.” Papi Dathan ikut memberikan saran.


“Tidak seru. Terlalu panjang.” Mami Neta menolak saran sang suami.


Papi Dathan hanya pasrah. Wanita memang terlalu rumit. Hanya nama panggilan panjang sedikit saja tidak mau.


“Bagaimana jika kamu dipanggil oma dan aku dipanggil omi. Itu lucu sekali.” Mami Neta seketika bersemangat sekali.


Mama Arriel merasa panggilan itu lucu. Jadi cucunya bisa membedakan. Jika memanggil oma, artinya itu dirinya. Jika memanggil omi, artinya itu Mami Neta.


“Boleh-boleh.” Mama Arriel langsung setuju.


Papi Dathan semakin heran. Bagaimana para wanita itu sesuka itu dengan panggilan itu. Padahal menurutnya aneh sekali panggilan itu.


“Jika Neta dipanggil omi, aku dipanggil opi.” Tiba-tiba Papi Dathan ikut berkomentar.


“Iya, benar. Kamu dipanggil opi.” Mami Neta yang dengar langsung membenarkan hal itu.

__ADS_1


Papi Dathan langsung membulatkan matanya. Bisa-bisanya dirinya dipanggil dengan panggilan aneh itu. Membayangkan saja dia tidak sanggup.


__ADS_2