
Senin pagi ini Liam akan bertemu dengan keluarga Smith. Tentu saja akan membahas tentang perihal pembagian harta warisan. Agenda kali ini adalah upaya damai. Jadi akan dipertemukan dua belah pihak. Untuk mencari solusi diselesaikan secara kekeluargaan.
Saat datang Liam melihat jika papanya tidak sendiri. Dia bersama anak dan istrinya. Liam heran juga Leo juga ikut serta datang padahal orang tuanya yang bermasalah.
Saat melihat keluarga Smith, Liam tidak menegur sama sekali. Memilih untuk diam saja.
Mereka masuk ke salah satu ruangan sebelum persidangan dimulai. Di dalam ruangan mereka duduk saling berhadapan. Hakim akan mendamaikan mereka dan menyelesaikan secara kekeluargaan. Jika tidak ditemukan titik terang, barulah berlanjut dengan persidangan.
“Pihak kami akan memberikan uang senilai modal yang gunakan Ibu Marlene Julia. Ini nilai yang diberikan.” Pengacara keluarga smith memberikan berkas pada pengacara.
Pengacara Liam segera mengambilnya. Kemudian membacanya dan memberikan pada Liam.
Liam hanya tersenyum melihat nilai yang diberikan. Dia tidak butuh uang yang ditawarkan.
“Modal adalah sebuah investasi. Jadi nilainya bisa tak terhingga dan tidak bisa dikembalikan begitu saja dengan modal. Kami sudah punya bukti pembelian aset, pembukuan lima dua tahun dipegang oleh Ibu Marlene. Artinya restoran ini murni milik Ibu Marlene.” Pengacara Liam justru menampar keras fakta yang ada. Memberikan kenyataan jika Josep Smith tidak ikut serta membangun restoran. Apalagi dana yang didapat oleh mama Liam berasal dari ayahnya yang tinggal di Italia. Bukan menggunakan uang Josep.
Josep langsung melihat berkas yang diberikan. Dia begitu terkejut ketika Liam memiliki begitu banyak bukti. Tentu saja itu membuatnya sadar jika dia akan kalah.
“Pa, bagaimana ini?” tanya Bella panik.
__ADS_1
Leo hanya bisa diam sambil memandangi Liam. Terlihat jelas Liam tampak tenang. Artinya Liam punya kekuatan penuh.
“Kami akan tetap lanjutkan persidangan.” Josep yakin masih ada celah untuk mempertahankan restoran. Dia yakin jika masih ada cara.”
“Baiklah, kita bertemu di persidangan.” Liam jelas tidak mempermasalahkan hal itu.
Mereka keluar dari ruangan tersebut. Menuju ke tempat persidangan.
Persidangan kali ini pembacaan gugatan. Tentu saja hakim akan mempelajari lebih dulu pengajuan yang diajukan pihak Liam.
Seusai persidangan mereka keluar. Liam menyempatkan untuk menyapa keluarga papanya itu.
“Hai, dengar, aku tidak akan membiarkan kamu merebut restoran.” Bella yang terpancing emosi langsung meluapkannya.
“Ma.” Leo berusaha untuk tetap tenang.
Liam hanya bisa tertawa. “Apa Anda lupa jika Anda hanya pelayan restoran yang mencoba merayu. Jadi jangan coba ikut campur!.” Liam benar-benar membenci Bella. Wanita iblis yang merusak kebahagiaan keluarganya. Tidak ada rasa hormat untuk wanita semacam itu.
“Jaga ucapanmu!” Leo yang tadinya diam, ikut juga terpancing emosi. Dia tidak terima dengan ucapan Liam.
__ADS_1
Liam tampak tenang. Tidak terpancing emosi dengan Leo. “Baiklah, kita bertemu di persidangan selanjutnya.” Tak mau berlama-lama Liam memutuskan untuk pergi.
“Pa, bagaimana ini?” Bella panik. Bukti yang dimiliki Liam terlalu sulit untuk dikalahkan.
“Persidangan ini akan sulit, Pak. Mengingat lawan memiliki bukti yang cukup banyak.” Pengacara memberitahu Josep.
“Aku pikir dia hanya butuh uang saja. Ternyata tidak.” Josep merasa bingung. Karena niat utama Liam bukan tentang uang saja.
“Saya rasa Pak Wiliam tidak butuh uang. Karena dia memiliki bisnis yang cukup menjanjikan.” Pengacara segera mengeluarkan majalah yang baru saja diterimanya pagi ini. Kemudian memberikan pada Josep.
Josep segera meraih majalah yang diberikan pengacara. Bella dan Leo juga ikut melihat.
Terdapat foto Liam di cover depan. Dengan tagline “Pembukaan toko sepatu Marlene yang mencuri perhatian” . Jelas itu membuat mereka semua terkejut.
“Jadi pemilik sepatu Marlene yang terkenal dari Italia adalah dia?” Bella menatap sang pengacara. Dia adalah pengguna sepatu itu. Beberapa dia beli secara daring karena teman-temannya adalah pelanggan. Sejenak dia ingat jika teman-temannya mengajak untuk datang ke acara pembukaan toko, tetapi karena tidak bisa, dia tidak ikut.
“Iya, Bu. Informasi yang saya dapat, dia adalah pemilik toko sepatu itu.” Pengacara menjelaskan.
Josep hanya bisa terdiam. Anaknya benar-benar jauh lebih sukses darinya. Kini yang dikejar anaknya bukan sekadar uang, tapi hak atas restoran itu. Josep merasa jika lawannya kali ini cukup berat.
__ADS_1