
Keesokan paginya, Ara baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya. Wanita itu meregangkan tangannya agar menghilangkan rasa kaku pada ototnya. Saat wanita itu membuka mata, di sampingnya sudah tidak ada lagi penghuni yang semalam menemani tidurnya.
Wanita itu mengintip ke dalam selimut yang kini membelit tubuhnya. Dia sudah mengira hal ini memang yang akan terjadi. Baju berbentuk jaring-jaring yang ia namakan perangkap ikan itu sudah terlepas dari badannya. Sekarang, ia hanya menggunakan selimut tebal itu saja.
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya, Ara menoleh ke arah kamar mandi. Dari sana muncul seorang pria tampan yang sangat ia cintai hanya menggunakan handuk dan rambut yang masih basah.
Laki-laki itu tersenyum ketika pandangannya bertemu dengan sang istri. Dia melangkah ke arah sebuah lemari untuk mengambil baju miliknya yang sudah ia persiapkan untuk menginap di rumah mertuanya.
"Moon, kamu mandi, yah. Aku tungguin kita sholat bersama," ucap Ali tanpa melihat sang istri.
Tidak mendapatkan jawaban dari sang istri, laki-laki itu menoleh ke ranjang yang tadi masih menjadi tempat berbaring istrinya, tetapi saat itu sudah tidak ada apapun di tempat itu. Bahkan selimut tebal yang membelit wanita itu ikut menghilang dari tempatnya. Ali menggelengkan kepalanya lalu menoleh ke kamar mandi yang pintunya sudah tertutup.
"Beginilah kalau punya istri mafia handal," ujarnya disertai tawa ringan.
Ali meneruskan kegiatannya mengambil baju dan sarung lalu memakainya. Laki-laki itu juga mengambil mukenah serta sajadah milik sang istri. Dengan telaten Ali menata tempat untuk mereka melakukan ibadah sholat subuh berjamaah.
Baralih pada wanita yang kini tengah sibuk dengan cermin di hadapannya. Dia menyentuh beberapa bekas merah yang ada di lehernya. Walaupun ini bukan pertama kali, tetapi tetap saja ia merasa tidak nyaman. Takut jika orang lain melihat bekas berwarna merah kebiruan itu.
Menunggu sang istri yang tidak kunjung keluar, Ali melangkah mendekat ke arah kamar mandi. Di ketuknya pintu kamar mandi secara pelan. Takut mengganggu mandi istrinya, tetapi jika sang istri terlalu lama di kamar mandi dia takut waktu subuh akan segera berakhir.
"Moon, cepatlah."
Mendapat panggilan beserta ketukan pintu yang walau perlahan namun dengan ritme cepat membuat wanita itu agak kesal, tetapi saat teringat dengan alasan suaminya melakukan hal itu akhirnya Ara keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Setelah sang istri keluar dari kamar mandi. Mereka berdua bergegas melaksanakan ibadah sholat subuh sebelum terbitnya fajar. Ali menjadi seorang imam yang baik untuk Ara. Laki-laki itu dengan sangat perlahan membaca setiap bacaan agar sang istri dapat cepat mengerti apa saja bacaan yang harus dibaca saat melakukan sholat.
Selesai dengan dua rokaat wajib yang di lakukan setiap umat muslim. Keduanya memanjatkan doa masing-masing lalu mengaminkan secara bersama-sama.
Ali menoleh ke belakang, mengulurkan tangan kanannya untuk sang istri. Ara dengan senang hati menerima uluran tangan sang suami lalu menciumnya begitu lama.
Wanita itu amat bersyukur karena sang suami dapat menerima masa lalunya, bahkan tidak melarangnya untuk tetap terlibat dalam kelompok mafianya. Tujuan Ara baik, bukan jahat pada orang baik. Melainkan memberi kesempatan dan jalan taubat untuk mereka yang selama ini menjadi orang jahat.
Jika suaminya itu melarang dirinya untuk tetap berada dalam kelompok Deadly Scorpion, ia takut tidak dapat membantu sang kakak dalam hal kebaikan lagi. Karena dia akan melakukan apapun yang di minta oleh sang suami.
Setelah selesai melaksanakan ibadah wajib mereka, Ara melipat mukenahnya lalu menyimpan alat sholatnya itu ke dalam lemari miliknya. Ketika sudah menyimpan mukenah itu, dia membalik tubuhnya menghadap sang suami dengan bibir cemberut.
Melihat istrinya cemberut, Ali bukannya takut justru gemas dengan apa yang di lakukan oleh Ara. Dia bangkit dari posisinya yang masih setia berada di atas sajadah. Laki-laki itu mengambil sajadah miliknya lalu melipatnya dengan rapi. Dia berjalan mendekati sang istri lalu tangannya meraup bibir Ara yang masih terlipat. Setelah itu Ali tetap melanjutkan langkahnya membuka lemari, laki-laki itu menyimpan sajadah dan melepaskan sarung miliknya untuk di simpan juga.
Ara yang merasa semakin kesal akhirnya memukul punggung suaminya itu pelan. Kalau ia memukul dengan keras, dia tidak yakin Ali akan masih baik-baik saja. Begitu mendapat pukulan pelan dari sang istri, Ali kembali membalikkan tubuhnya menghadap sang istri. Tangan besarnya mencekal pergelangan tangan Ara yang siap meluncurkan pukulan berikutnya.
Wanita itu menyentak tangannya yang masih di genggam oleh sang suami dengan pelan hingga terlepas, karena Ali memang menggenggamnya tidak terlalu kuat.
"Siapa suruh kamu berulah!" hardik Ara dengan lirikan matanya.
Ali mengernyitkan dahinya hingga kedua alisnya menyatu dengan sempurna. "Maksud kamu, aku berulah apa? bukankah aku hanya mengajakmu sholat subuh?" tanya Ali sedikit kesal.
"Ini, ini, ini, ini apa, Sun?" Ara menunjuk beberapa bekas merah yang kini berubah warna agak keunguan.
__ADS_1
Saat melihat apa yang di tunjuk oleh istrinya, Ali justru tersenyum lebar. Laki-laki itu menaik turunkan kedua alisnya sebagai bentuk rasa bangganya.
"Ini, mahakaryaku yang sangat indah bukan?" tanya Ali seraya menyentuh leher sang istri yang terdapat noda atas perbuatannya.
Mendengar jawaban suaminya Ara mendelik tajam. Wanita itu kini mendaratkan pukulan maut di dada suami anehnya itu hingga Ali mengasuh kesakitan. Menurut Ara, Ali sama sekali tidak berpikir saat melakukan perbuatan itu.
"Kau sudah berani melakukan KDRT, Moon. Tega sekali memukul tubuh ringkihku ini," ujarnya memekik kesakitan.
Ara sama sekali tidak peduli dengan teriakan sang suami. Ia memang sedang sangat kesal dengan perbuatan yang di lakukan laki-laki itu. Sama sekali tidak berpikir dampaknya akan seperti apa. Apa lagi di rumah itu sekarang masih ada sang kakak. Wanita itu tidak ingin menjadi bulan-bulanan kakaknya yang memang memiliki hobi mengejek orang.
"Siapa suruh kamu berkarya di leherku. Kamu enggak mikir apa? Reiner masih di sini. Kakak si*lan itu pasti nanti mengejekku habis-habisan. Pokoknya hari ini aku tidak akan keluar dari kamar," Ara yang kesal kini berjalan menuju ranjang.
Wanita cantik itu naik ke atas ranjang, duduk bersandarkan bantal empuk yang sudah di tata olehnya. Tangan mungilnya meraih sebuah bantal guling untuk ia taruh di pangkuannya. Setelah itu Ara juga membuka laci nakas yang ada di sampingnya. Wanita itu mengeluarkan sebuah laptop dan earphone.
Seorang suami yang baru sadar dengan kesalahan yang di perbuat olehnya itu kini membalik tubuhnya dan segera melangkah mendekati sang istri dengan raut wajah penyesalan. Laki-laki itu duduk di samping sang istri dengan wajah menghadap istri cantiknya itu.
Ali dengan cepat meraih tangan sang istri ke dalam genggaman eratnya. Melihat wajah kesal istrinya itu, kini Ali merasa takut. Bukan takut jika sang istri tidak mau memberikan jatah untuknya, melainkan takut jika Ara menodongkan senjata miliknya.
"Iya, iya, aku minta maaf. Kamu tidak perlu keluar kamar, biar aku saja yang melayani kamu. Segala yang kamu butuhkan biar aku yang siapkan," ucap Ali dengan tulus.
"Benar, yah, apapun?" tanya Ara antusias.
Bersambung ...
__ADS_1
Kak, boleh mampir kuy ke karya teman aku. Di jamin suka deh. Karya Teh Ijo dengan judul Menikahi Ketua OSIS.