
Ketika Ara sedang akan mengajukan keberatan atas persetujuan dari pria remaja itu, dari belakang justru sang kakak ikut menyusul.
"Ace, kau tahu, firasat Dean tentangmu itu sangat kuat! Aku bahkan tidak menyangka jika bocah tengil ini akan begitu pedulinya denganmu walau di luar pekerjaan." Reiner memegang bahu sang adik.
"Tuan Rei salah, mau di manapun Nona Ace berada. Nona adalah seseorang yang harus ku jaga dengan baik, bahkan dengan seluruh nyawaku sekalipun," ujar Dean tanpa memandang Reiner.
Walaupun ucapan Dean terlihat frontal, akan tetapi Reiner begitu bangga terhadap kesetiaan remaja itu. Meski sikapnya jauh berbeda dari sang kakak, tetapi sifat yang ada dalam diri Ferry mengalir di tubuh pria remaja itu tanpa terlewat sedikitpun.
"Kau beruntung sekali memilikinya, Ace. Jangan kecewakan dia dengan menolak permintaannya," bisik Reiner di telinga sang adik.
"Tapi, Kak, kalau aku tidak boleh bekerja lalu siapa yang akan mengurus ARDA Corp? Ribuan karyawan bergantung pada perusahaan itu, Kak."
"Perusahaanmu tidak akan bangkrut hanya jika kamu berhenti bekerja sementara, lagi pula Dean bisa mengurusnya untukmu!"
Perempuan itu memicingkan sebelah matanya ketika sang kakak mengucapkan bahwa tangan kanannya itu bisa menggantikan dirinya.
"Bukankah kamu masih memiliki misi bersama Boy, Dek?" tanya Ara kepada Dean.
Pandangan Ara tertuju kepada remaja itu. Anak remaja yang begitu gigih dalam menyelesaikan tugas yang di berikan padanya.
"Aku akan alihkan Dean untuk bekerja di kantor, sesekali dia tetap bisa membantuku, biar tugasnya di ambil alih oleh Ferry. Mau di paksakanpun aku tahu pikirannya hanya tertuju pada Nona Mudanya," jawab Reiner.
Meski bukan dirinya yang di tanya, akan tetapi dia paham dengan gerak-gerik Dean. Dia sangat mengerti keinginan dari pria remaja itu. Namun, pria itu sadar tidak memiliki kuasa untuk menolak tugas darinya.
"Kau serius, Kak? Baiklah, kalau begitu aku setuju."
Raut wajah Ara langsung berubah, dari awal dia memang tidak suka dengan misi yang di lakukan oleh Dean. Itu terlalu membahayakan remaja itu, karena dia harus menyusup di markas musuh.
Ara memang tidak tahu, dimanakah sang tangan kanan melakukan penyusupan, mereka tidak pernah mau memberi tahu wanita itu lokasinya.
__ADS_1
Hal itu di manfaatkan Aracelia untuk menarik Dean dari tugas berbahayanya. Lagi pula, Dean memang sangat di butuhkan olehnya. Selain setia, remaja itu memiliki IQ di atas rata-rata.
Seperti pikirannya sudah di persiapkan dengan matang, sebelum terjun sebagai tangan kanan Ara.
Sementara di sisi lain, Dean berusaha menahan rasa bahagianya. Pria itu akhirnya bisa kembali bertugas dan bekerja untuk Nona mudanya. Bukan dia tidak mau menjalani misi itu, hanya saja sejak awal dia memang tugasnya bersama dengan wanita cantik yang tidak pernah memperlakukannya layaknya bawahan.
"Sial, aku sepertinya salah bicara. Kalian langsung terlihat bahagia seperti itu!" gerutu Reiner seraya melangkah meninggalkan kedua manusia itu.
Ara hanya tertawa lepas ketika melihat sang kakak layaknya orang frustasi. Pria itu bersikap seolah-olah sedang menyesal dengan keputusannya. Namun, Ara sangat paham bahwa pria yang sudah bertahun-tahun lamanya menjadi kakak angkatnya itu tidak pernah menyesal karena berusaha memberikan yang terbaik untuk sang adik.
Tatapan Ara kini beralih pada Dean, pria remaja itu masih setia menundukkan pandangan. Mungkin dia baru merasa melakukan kesalahan karena sudah bersikap lancang dan berani.
"Dek, kau dengarkan perintah dari kakakku? Kau sudah harus kembali ke perusahaan. Jadi tidak perlu lagi menyamar di tempat yang tidak aku ketahui,"
"Baik, Nona."
"Ah, melihatmu ada disini, aku jadi ingin sesuatu. Kau tahu, 'kan kalau orang hamil pasti memiliki rasa keinginan yang aneh, yang biasa di sebut dengan ngidam?" tanya Ara kepada remaja di sampingnya.
"Nona mau apa? Biar saya carikan," tawar Dean dengan serius.
Ara yang awalnya menatap lurus ke depan, kini menoleh hingga pandangan kedua orang itu bertemu. "Kau benar-benar akan menuruti kemauanku, Dek?" tanya Ara memastikan.
Kedua mata perempuan itu bahkan menunjukkan rasa memohon, terbukti dari matanya yang terlihat seperti ekspresi mata kucing. Yang berarti dia sangat ingin jika keinginannya harus terwujud.
Dean mengalihkan pandangan, rasanya melihat sang nona muda sekarang, dirinya juga merasa sedikit gemas. Apakah memang orang hamil akan terlihat menggemaskan, tanya Dean di dalam hatinya.
"Saya akan lakukan apapun untuk anda, Nona."
Perempuan itu menerbitkan senyum kemenangan. Ini hanyalah akal-akalannya saja, bukan ngidam Ara yang aneh, melainkan pikiran perempuan itu memang sulit untuk di tebak.
__ADS_1
"Baiklah, keluarkan motor Harleyku sekarang juga!"
Perintah perempuan itu tidak main-main, akan tetapi hal itu membuat Dean merasa khawatir. Dia takut jika sang Nona Muda ingin mengendarai motor itu seperti biasanya. Jika ketika biasa dalam keadaan sendiri itu tidak masalah, hanya saja sekarang sudah berbeda. Di dalam rahim perempuan itu tengah menjadi tempat tinggal sementara dari kedua calon penerus keluarga Gunawan.
"Untuk apa, Nona?" tanyanya bingung.
"Cepat keluarkan, atau aku berubah pikiran!" ancam perempuan itu seraya menuruni anak tangga dari teras hingga halaman.
Mau tidak mau, remaja itu menurut. Dia mengambil sebuah motor yang di sebutkan oleh nona mudanya tadi. Remaja itu membawa motor itu ke hadapan sang nona.
"Kau pulanglah, istirahat di markas." Perempuan itu membalikkan badannya untuk pergi dari hadapan sang tangan kanan.
"Lalu, motor ini untuk apa, Nona? Anda tidak ingin menaikinya?" pertanyaan Dean menghentikan langkah Ara.
Perempuan itu kembali membalikkan tubuhnya, tetapi tetap pada posisi tidak mendekat ataupun menjauh dari remaja yang merupakan orang kepercayaannya.
"Kau tidak dengar? Pulanglah."
"Baiklah, Nona."
Dean semakin tidak mengerti dengan pemikiran sang nona. Tadi perempuan itu menyuruhnya untuk mengeluarkan motor dari garasi, tetapi sekarang malah menyuruhnya untuk pulang. Namun, karena tidak ingin membantah, Dean akan kembali memasukan motor itu ke garasi.
"Mau di bawa kemana? Memangnya kau pulang ke garasi, Dek?" tanya Ara kesal.
"Mengembalikan motor ini ke garasi, Nona. Baru setelah itu saya akan kembali ke markas," jawab Dean yang akan segera mengendarai motor itu masuk ke garasi.
"Siapa yang suruh? Aku menyuruhmu untuk pulang bersama motor itu. Kau tahu, Dek, aku ngidam memberikan kamu motor kesayanganku," ujarnya tanpa beban sedikitpun.
Sementara Dean terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh nona mudanya. Apakah dia tidak salah dengar bahwa sang nona memiliki ngidam memberinya sebuah motor yang harganya fantastis. Dia bahkan masih memiliki rasa sayang jika harus mengeluarkan uang untuk membeli motor tersebut.
__ADS_1
"Bawa pulang sekarang, Dek! Atau aku akan membakarnya di hadapanmu."
Bersambung...