
Di tengah guyuran hujan yang lebat, seorang pria tengah berjalan dengan membopong wanita di tengah hutan. Dia begitu gigih membawa wanita yang benar-benar ingin dia hancurkan.
Hampir 30 menit berjalan kaki dengan beban wanita di pundaknya, akhirnya pria itu sampai di sebuah jalan. Di tempat itu sudah ada satu orang yang menunggunya disana.
Melihat pria yang merupakan bosnya itu tengah membopong seorang wanita, orang yang sejak tadi menunggu di mobil itu kini keluar dan berlari ke arah bosnya. Meraih wanita yang lemas tak berdaya itu untuk berpindah ke tangannya.
"Tuan, apa anda tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, Ndri. Sudah cepatlah, kita kembali!"
Andri menaruh tubuh lemah Clarissa ke dalam mobil bagian belakang. Sebenarnya dia juga tidak ingin semobil dengan wanita rendahan itu, tetapi demi menyenangkan hati Tuan Mudanya dia rela melakukan apapun. Ingin sekali rasanya menaruh wanita itu ke dalam bagasi, tetapi nalurinya tidak tega. Melihat wanita itu sudah terlihat seperti mayat hidup.
__ADS_1
Tuan Mudanya sudah masuk ke dalam mobil, duduk di sampingnya yang masih setia menjadi sopir pribadi seorang Alvino Maladeva. Untuk laki-laki itu, dia memang siap bersedia menjadi apapun.
Mobil melaju menembus jalanan yang benar-benar sepi, karena sekarang sudah masuk dini hari. Andri mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, Tuan Mudanya itu tidak suka dengan orang yang mengendari mobil lelet seperti siput yang berjalan.
Menempuh perjalanan sekitar 25 menit, mereka akhirnya sampai di markas. Andri menurunkan tubuh wanita yang di culik oleh bosnya itu, membawanya masuk ke dalam markas untuk di jadikan tawanan.
Sedangkan Aldev, laki-laki itu menuju sebuah tempat yang biasa dia jadikan tempat istirahat di markas itu. Kondisinya yang belum fit dan memaksa tetap menjalankan misi seorang diri membuatnya merasa lelah.
Pria itu langsung tertidur saat sudah sampai di kamarnya. Masih menggunakan pakaian basah kuyup dan sepatu yang masih melekat di kakinya.
"Bukankah itu, Nona Clarissa?"
__ADS_1
"Iya, benar dugaan Tuan Rei. Mereka beraksi malam ini, tetapi aku yakin. Mereka berhasil karena memang ini rencana Tuan Muda. Dia tidak mau repot-repot menghancurkan orang yang sudah berniat buruk pada Nona Ace. Kau tahu, Nona selalu membela wanita itu selama ini. Berapa kali Tuan Muda ingin membalas kejahatan wanita itu, tapi selalu di halangi oleh Nona Ace," ujar Dean menjelaskan.
"Kalau aku jadi Tuan Muda, aku sendiri yang akan membinasakan wanita itu." Boy mengepalkan tangannya.
Dean menggeplak kepala bocah itu, lancang sekali berandai-andai menjadi tuan muda. "Kau tidak cocok jadi Tuan Muda, lagipula ilmumu itu masih cetek, Boy!" Dean berlari setelah menggeplak dan mengejek Boy.
"Sialan kau, Kak." Boy mengejar Dean yang berlari menjauhinya.
Ketika kedua remaja itu tengah kejar-kejaran. Seseorang tiba-tiba keluar dari sebuah ruangan. Tubuh Dean tanpa sengaja menabrak orang tersebut hingga keduanya saling mundur ke belakang.
"Kalian kira ini tempat sirkus! Kenapa berlarian di markas?" tanya Seseorang itu dengan nada tinggi.
__ADS_1
Boy menghentikan langkahnya. Memperhatikan orang yang tidak asing untuknya itu. Dia seperti beberapa kali pernah bertemu dengan orang itu.
Bersambung...