Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Rekaman Suara


__ADS_3

Seorang pria bangkit dari ranjang king size yang sekarang dia tiduri seorang diri. Pria itu baru saja terbangun dari tidurnya karena terganggu dengan dering ponsel miliknya yang berulang-ulang.


Setelah menerima panggilan itu, pria tersebut justru mendapat kabar yang sangat penting dari orang kepercayaannya yang tengah menyusup di sebuah tempat.


Walaupun pada awalnya dia sedikit bingung saat yang menghubunginya bukanlah orang yang dia kirimkan ke tempat itu, melainkan seorang remaja yang selama ini selalu berusaha dia jaga seperti putranya sendiri.


Reiner segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Terburu-buru ingin segera memeriksa kebenaran hal tersebut, membuat pria itu membersihkan dirinya dengan waktu yang singkat. Namun, tetap bersih dan pastinya harum.


Reiner memakai baju yang sudah dia ambil di lemari. Pakaian yang sangat khas dengan ciri seorang Reiner Aditia Sanjaya. Celana panjang, kaos polos dan jaket kulit berwarna hitam. Tidak ketinggalan kacamata hitam dan topi berwarna senada yang semakin menambah aura kepemimpinan dari pria tersebut.


Begitu selesai dengan urusannya, Reiner segera keluar dari kamar. Berjalan dengan langkah lebar menuruni anak tangga hingga sampai di lantai dasar.


Reiner memutuskan untuk pisah ranjang dari istrinya. Dia meninggalkan sang istri dan putrinya untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya, sementara dia sendiri tinggal di mansion yang dia tinggali sejak masih lajang dulu.


Ketika sampai di ruang makan, sudah tertata rapi beberapa menu di atas meja. Reiner hanya melirik makanan itu tanpa berniat menyentuh apa lagi memakannya. Pria itu hanya menghembuskan napas kasar.


"Bi, buatkan Rei kopi hitam tanpa gula," pinta Reiner pada pelayang yang tengah berkutat di dapur.


"Baik, Tuan." Pelayan itu segera melakukan tugasnya, membuatkan secangkir kopi hitam tanpa gula kesukaan tuan mudanya.


Reiner mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja untuk mengusir kebosanan yang melanda jiwanya. Pria itu menatap kursi kosong di sebelah kanan dan kirinya. Biasanya disana akan ada istri serta anak semata wayang yang sangat lucu.


"Ini kopinya, Tuan." Pelayan meletakkan secangkir kopi tepat di depan sang tuan muda.


"Kenapa?" tanya Reiner ketika melihat pelayan itu tetap berdiri di tempatnya, tanpa berjarak sedikitpun.


"Nona Imel berpesan, agar Tuan Reiner memakan sarapan ini. Semua hidangan ini adalah masakan dari Nona," ujarnya dengan menunjuk semua menu di atas meja.


"Aku tahu, aku sudah lebih dari tahu kalau ini masakannya. Untuk itu aku tidak akan sarapan hari ini," tukas Reiner kemudian bangkit tanpa meminum kopi pesanannya.

__ADS_1


"Berikan saja semua itu pada semua penjaga." Reiner berjalan meninggalkan pelayan yang dia panggil bibi itu.


Setelah kepergian Reiner, seorang wanita cantik dengan gaun putih keluar dari dapur. Wanita itu mengusap cairan bening yang berasal dari mata coklatnya.


Hatinya perih saat mendengar sendiri bahwa sang suami tidak mau memakan sarapan pagi, hanya karena semua hidangan itu adalah masakannya. Pria itu bahkan menyuruh pelayan untuk memberikan semua makanan yang dia buat untuk para penjaga.


"Semarah itukah kamu sekarang, Rei?" lirih Imel mencoba menguatkan dirinya.


Sementara Reiner langsung keluar dari mansion miliknya. Pria itu mengendarai sendiri mobil sport berjenis Lamborghini Aventador, dengan kapasitas mesin 6498 cc, menawarkan tenaga 700 hp, dengan kecepatan maksimum 350 km per jam berwarna merah.


Jalanan yang lengan membuat Reiner lebih leluasa untuk memacu kuda besinya dengan kecepatan maksimum.


Kini setelah hampir 20 menit menempuh perjalanan dari mansion menuju tempat tujuannya. Pria itu akhirnya sampai di markas Deadly Scorpion.


Reiner memarkirkan mobilnya di sembarang tempat, meninggalkan mobil itu karena pria itu sudah tidak sabar untuk mendengar sendiri kesaksian dari kedua orang yang berhasil menyusup ke dalam markas musuh.


"Tuan Muda,"


"Dimana Boy dan Dean?" tanyanya tanpa memperdulikan sapaan dari anak buahnya.


"Sudah menunggu di ruangan anda, Tuan."


Reiner langsung menuju ruangannya untuk bertemu dengan para remaja yang justru mendapat poin terpenting untuk membuka kedok dari pria bertopeng itu.


"Kau menyebalkan sekali, kita belum mengumpulkan semua bukti dan kau malah sudah melaporkannya pada Tuan muda!" omel Dean kepada Boy.


"Aku tidak pernah bisa menyembunyikan apapun dari Tuan Reiner, Kak. Lagi pula kita memang harus menyampaikan ini lebih dulu, siapa tahu nanti kita mati di Medan perang. Jadi rahasia ini sudah terungkap lebih dulu," jawab Boy dengan santai.


Sementara Ferry yang melihat dan mendengar perdebatan dari kedua remaja itu hanya geleng-geleng kepala. Kedua anak itu memang seperti Tom N Jerry di sebuah film kartun. Saling sayang, tapi tidak pernah bersikap akur. Jika mengurus tingkah kedua anak itu, Ferry sendiri yang akan di buat pusing.

__ADS_1


Perdebatan kedua remaja itu terhenti ketika pintu ruangan terbuka. Reiner muncul dengan wajah yang sulit di tebak, antara penasaran, marah dan lega. Ferry bahkan tidak dapat membaca raut wajah tuan muda yang biasa di urus olehnya itu.


Ketiga orang di dalam ruangan itu hanya menunduk diam ketika Reiner masuk, lalu duduk di kursi kebesarannya.


Pria itu menatap tajam kearah kedua remaja yang duduk berdampingan. "Kalian baik-baik saja, 'kan?"


"Kami baik, Tuan." Dean menyenggol lengan Boy yang dia tahu bahwa remaja di sampingnya itu akan membuka mulut.


"Kalian bisa keluar di saat seperti ini dari markas itu? Apakah Aldev tidak ada di markas?" tanya Reiner penasaran.


"Tuan Aldev tidak kelihatan, Tuan. Setelah membawa kabur Nona Clarissa dari markas, terakhir kali aku melihat dia masuk ke kamarnya dan tidak keluar lagi sampai sekarang."


Dean langsung mencubit perut Boy ketika pria itu benar-benar membahas tentang Alvino Maladeva. Dia sendiri masih merasa kesal dengan pria yang sangat terobsesi memiliki nona mudanya.


Boy yang di cubit oleh Dean, hanya menyengir. Pria itu juga tahu bahwa remaja yang sudah dia anggap sebagai kakak itu sangat membenci pria dewasa bernama Alvino Maladeva.


"Biarkan saja dia, aku sengaja membiarkan dia membawa wanita tidak berguna itu. Akan lebih baik jika dia yang membalas kejahatannya kepada Ace dan Daddy,"


Entah kenapa, Reiner juga merasa bosan dengan pembahasan yang menyangkut pria itu. Pria yang ternyata adalah adik dari istrinya sendiri. Itu artinya pria itu kemungkinan juga ikut di dalam rekayasa kedekatannya dengan sang istri.


"Sekarang katakan apa yang kalian dapatkan di tempat itu, sampai Boy memintaku untuk cepat datang kesini?"


"Kami mendapatkan ini, Tuan." Dean memberikan tab miliknya yang sudah berisi rekaman suara dari alat penyadap yang di simpan olehnya.


"Kau tahu Anakmu, Amel itu sudah tidak berguna lagi untukku, Via!"


Reiner mengepalkan tangannya ketika mendengar nama sang istri di sebut oleh pria di dalam rekaman suara tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2