
Merasa tidak kuat menarik sang istri, Ali ikut berdiri dari duduknya. Laki-laki itu berdiri tepat di hadapan sang istri. Melihat istrinya dengan mata berkaca-kaca membuatnya sangat menyesal. Mungkin ucapannya barusan melukai hati sang istri.
Pria dengan alis tebal itu mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Menyatukan kedua bibir itu, mengecup bibir tipis sang istri singkat. Dia berharap dengan seperti itu, sang istri tidak lagi merasa sedih.
"Maksudku bukan seperti itu, Moon. Aku hanya merasa menyesal karena pernah menyia-nyiakan kamu saat awal pernikahan dulu," ujarnya dengan lembut setelah melepas pagutan bibir keduanya.
"Sudahlah, jangan di bahas lagi. Aku sudah melupakan semuanya," ujar Ara menjauhi sang suami.
Wanita itu berjalan menuju ranjang, lalu naik dan merebahkan dirinya disana. Suasana hatinya masih belum baik-baik saja untuk saat ini. Dia berusaha memejamkan mata tanpa berkata apa-apa lagi pada suaminya.
Ketika Ali ingin menyusul sang istri, ponselnya yang berada di atas nakas berdering. Laki-laki itu melangkah ke arah dimana ponselnya berada. Melihat sang mertua yang menghubunginya, Ali segera menerima panggilan itu.
"Ya, Dad,"
"Baiklah, besok Ali berangkat." Ali menaruh ponselnya di atas nakas.
__ADS_1
Ali menyusul istrinya yang sudah memejamkan mata, dia tahu bahwa sang istri belum tidur. Hanya menutup kelopak mata untuk menghindarinya. Akhirnya laki-laki itu ikut memejamkan matanya.
Keesokan harinya Ali bangun dan mendapati sang istri sudah tidak ada di tempatnya. Wanita itu sudah bangun lebih dulu, Ali segera melaksanakan ibadah sholat subuhnya setelah membersihkan diri. Laki-laki itu memakai pakaian formal, sebuah kemeja dan celana kulot panjang. Serta jas berwarna senada dengan celana.
Ali menuruni tangga, menuju meja makan untuk sarapan pagi. Saat dia sampai di tempat itu, sang istri tengah memakai celemek dan terlihat sedang menggoreng sesuatu. Ali berjalan mendekati istrinya, lalu memeluk wanita itu dari belakang. Menyandarkan dagu di pundak istri tercintanya.
"Masak apa, Moon?" tanya Ali dengan nada lembut.
Ara tersenyum dan mengelus pipi sang suami dengan tangan kirinya. "Goreng perkedel kentang, sama tumis kangkung, Sun."
Ara mengangkat perkedel kentang yang sudah matang untuk di tiriskan, wanita itu juga mematikan kompor setelah memastikan tumis kangkungnya sudah matang.
Ara membalikkan tubuhnya, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. Menariknya agar sejajar dengannya, lalu mengecup lembut bibir sang suami. Tangan Ali masih setia melingkar di perut datar istrinya.
"Selamat pagi, Sayang," ucapnya setelah melepas kecupan.
__ADS_1
"Hanya kecupan, Sayang? Tidak ada yang lain." Ali mengedipkan sebelah matanya.
Ara melepaskan tangannya yang tengah melingkar di leher sang suami, lalu mencubit perut suaminya itu pelan. Sepelan apapun kekuatan Ara, bagi seorang Ali itu tetap saja menyakitkan. Laki-laki itu mengaduh dan segera menjauh dari sang istri.
"Kamu masih hobi saja mencubitku, Moon." Ali menarik kursi dan duduk di sana.
Ara hanya tertawa lepas, wanita itu mengambil piring untuk meletakkan masakannya. Setelah selesai memindahkan makanan, Ara membawa kedua masakannya itu ke meja makan. Hanya masakan sederhana, Tumis kangkung dan juga perkedel kentang yang di sajikan oleh Ara.
Ali dengan semangat mengambil piring miliknya, lalu menyendok nasi dan juga mengambil masakan sang istri yang terlihat sangat menggoda, walaupun hanya masakan sederhana yang di masak dengan penuh cinta.
Ali makan begitu lahap, laki-laki itu bahkan tidak menunggu sang istri yang tengah membuat minuman. Mengacuhkan suara mesin blander yang sedang bekerja. Begitu sudah selesai dengan minuman yang di buatnya, Ara kembali ke meja makan dengan membawa dua gelas jus tomat buatannya. Wanita itu menatap meja makan yang sudah kosong. Hanya ada tiga piring di sana tanpa isinya sama sekali.
"Kamu makan semua ini, Sun?"
Bersambung...
__ADS_1
Hai, Kak. Jangan lupa tinggalkan jejak. Like, komen, dan rate. Kalau berkenan boleh juga lempar bunga yang banyak, dan sedikit vote buatku.