
Walaupun menyimpan rasa benci pada wanita itu, nyatanya melihat dia dengan keadaan seperti ini, dia sebagai seorang pria yang pernah mencintai wanita itu merasa iba.
Namun, kaki Reiner seakan enggan melangkah. Dia tetap diam berdiri di tempatnya. Hanya netra tajamnya yang terus menatap wanita yang tengah duduk di sebuah kursi roda. Kaki wanita itu masih nampak, hanya saja kemungkinan memang tidak bisa di gunakan sebagai mana mestinya.
Kayla mendongakkan wajahnya, agar air mata yang tertampung di dalam mata indahnya itu tidak memaksa mendobrak keluar dari tempatnya. Dia merasa malu kepada sang mantan kekasih, yang dia tinggalkan dengan keadaan yang krusial pada waktu itu.
"Kau kenapa, Kay? Terkena karma dari apa yang kau lakukan padaku, dulu?" tanya Reiner dengan nada tidak bersahabat.
Wanita yang tengah berada di kursi roda itu tersenyum kaku, dia sadar semua ini karena keputusannya sendiri. Reiner tidak salah, pria itu berhak berkata apapun tentang dirinya.
"Bisa kau dengarkan semua dulu, Rei? Aku akan jelaskan segalanya," ujar seseorang di belakang tubuh Kayla.
Pria itu baru sadar dengan keberadaan seseorang yang kini menyela obrolannya dengan sang mantan kekasih. Reiner menyeringai dengan apa yang di ucapkan oleh seseorang yang berusaha membela mantan kekasihnya itu.
"Memangnya kau siapa? Berani sekali memerintahku," ujar Reiner meremehkan.
Laki-laki itu membalikkan badan, untuk segera pergi dari tempat itu. Hatinya sudah terbakar amarah saat melihat sang mantan kekasih.
__ADS_1
"Stop, Rei! Tuan Aditia menyuruhmu datang kesini untuk mendengarkan semua penjelasanku!"
Bukan Kayla yang berucap, melainkan seseorang yang berada di belakang tubuhnya. Kayla bahkan sampai menarik tangan sang sahabat yang ingin maju mendekati Reiner.
Dia sama sekali tidak ingin melihat sang mantan kekasih semakin emosi karena di paksa untuk mendengarkan semua penjelasannya. Kayla sudah cukup bahagia dengan melihat laki-laki itu masih sehat hingg saat ini.
Walaupun Kayla menahannya, wanita yang merupakan teman dekat dari Reiner dan juga Kayla sejak dulu itu tidak mau menyerah. Wanita itu melepaskan genggaman tangan Kayla dari tangannya.
"Ayo, Fer! Untuk apa kita berlama-lama di tempat ini?"
"Fer! Kau mau ku tinggal?" tanya Reiner dengan kesal.
Ferry sama sekali tidak bergeming, laki-laki itu tetap pada posisinya. Bahkan tubuhnya sangat sulit untuk di tarik, seakan-akan dia menjadi batu yang sulit untuk di pindahkan.
"Oke, aku tinggal kau disini! Aku tidak butuh penghianat." Reiner benar-benar melangkah keluar dari pintu itu.
Ferry yang tidak ingin sang bos pergi dari tempat itu, melemparkan sebuah pistol di kaki Reiner yang masih berjalan. Hingga terpaksa Reiner menghentikan langkah, laki-laki itu menatap sebuah pistol yang berada di kakinya itu.
__ADS_1
"Bunuh saya, Tuan!" seru Ferry dengan suara tegasnya.
Tidak ada raut wajah ketakutan, hanya gurat rasa sedih yang nampak di wajah tampan pria itu. Reiner memicingkan matanya dengan apa yang di minta sang tangan kanan. Kenapa tiba-tiba dia meminta untuk di bunuh dengan pistol miliknya sendiri?
"Kau gila, Fer! Demi wanita penghianat seperti dia, kau sampai rela mat*." Reiner dengan kesal menendang pistol itu menjauh dari kakinya.
Seorang pemimpin di klan Deadly Scorpion itu begitu kekeh dengan pendiriannya, bahkan ancaman dari sang tangan kanan tidak dia pedulikan. Hatinya yang sudah terluka, kembali mendapat luka baru karena tangan kanannya sendiri justru membela wanita yang pernah mengkhianatinya.
"Saya sudah berjanji pada Tuan Besar, saya hanya akan pulang sebagai jasad, jika saya tidak bisa menegakkan keadilan yang terenggut secara paksa dari Nona Mikayla Jakson, 8 tahun yang lalu, Tuan." Ferry kini berjalan menuju dimana tempat pistolnya berada.
Ferry mengambil pistol dengan jenis FN 57 itu, menodongkan senjata yang biasa dia gunakan untuk melawan musuhnya di pelipis kepalanya sendiri.
Reiner menggelengkan kepalanya. Laki-laki itu menatap benci pada sang mantan kekasih yang hanya diam di atas kursi roda.
"Baiklah, aku mengalah kali ini!"
Bersambung...
__ADS_1