
Mendapati sang menantu dengan sikap yang lain dari biasanya, Mami Jane mengabari sang putra lewat sambungan telfon. Walaupun harus mencoba beberapa kali dia menelfon sang putra, akan tetapi seorang ibu itu memiliki firasat buruk yang membuatnya begitu gigih ingin putranya itu segera tahu.
"Hallo, Mam," sapa Reiner setelah panggilan telfon tersambung.
Pria itu baru saja sempat mengangkat panggilan yang ternyata berasal dari Mami Jane.
"Rei, kamu di mana? Tadi kami di serang orang tidak di kenal," ujar Mami Jane memberi tahu.
"Apa, Mam? Lalu gimana keadaan kalian sekarang?" tanyanya khawatir.
"Kami baik-baik saja, Rei. Tapi ada yang aneh dengan istrimu setelah kejadian itu," jawab Mami Jane menyampaikan apa yang mengganjal di hatinya.
"Biarkan saja dia bertingkah semaunya, Mam. Yang terpenting, tolong selalu awasi Rachel, jangan sampai mereka hanya berdua saja!"
Meskipun bingung dengan ucapan terakhir sang putra, Mami Jane tetap menyetujui apapun yang di perintahkan oleh putranya itu.
Sambungan telfon terputus, Mami Jane segera menuju kamar yang di tempati oleh Imel dan Rachel. Ketika wanita itu masuk ke dalam kamar itu, Mami Jane terkejut karena Rachel sedang dalam posisi menangis, sedangkan Imel justru sibuk dengan ponselnya.
Perempuan yang awalnya sedang sibuk dengan ponselnya itu langsung meletakkan dengan asal benda canggih yang di pegangnya. Imel bangkit dan langsung menggendong Rachel sebelum Mami Jane datang mendekat.
Namun, anehnya meskipun Rachel sudah di gendong oleh sang ibu, gadis kecil itu masih saja menangis bahkan meronta di dalam gendongan ibunya. Hal itu semakin membuat wanita yang masih berdiri di depan pintu itu merasa semakin aneh.
Rachel yang biasanya selalu menurut jika dengan ibunya, kali ini gadis kecil itu terlihat seperti ketakutan. Melihat sang cucu tetap meronta untuk melepaskan diri dari sang ibu, Mami Jane akhirnya mendekat. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu mengambil alih sang cucu untuk dia gendong.
"Ahel kenapa, Sayang? Mau main sama Oma di bawah?" tanyanya dengan sangat lembut.
Gadis itu hanya mengangguk, akan tetapi tangisannya sudah berhenti. Kini meninggalkan suara sesegukan dari gadis kecil berusia 4 tahun itu.
"Maaf, Mam, Imel sedang tidak enak badan. Mungkin itu juga mempengaruhi Rachel," ujar Imel memberi alasan.
Sang mertua memaksa bibirnya untuk tersenyum kepada menantunya itu, entah kenapa dia merasa Imel yang berada di hadapannya ini bukanlah Imel menantunya yang penurut.
"Tidak apa-apa, kamu istirahat saja! Biar Rachel main dengan Mami dan Papi di bawah," ucap Mami Jane dengan nada datar.
__ADS_1
Wanita itu segera melangkah keluar dari kamar besar itu, membawa sang menantu yang masih sesegukan di dalam gendongannya.
"Ahel kenapa? Kok sama Mama gamau?" tanya Mami Jane kepada gadis kecil itu.
"Ma-ma, g-ga-lak, Om-a," jawab gadis kecil itu dengan suara terbata.
Wanita paruh baya yang menggendong cucunya itu langsung diam, dia semakin yakin bahwa memang ada yang aneh dengan menantunya sekarang. Apa mungkin perempuan itu berubah karena sedang berselisih dengan suaminya, akan tetapi tidak sepantasnya dia menjadikan anak pelampiasan dari rasa kesalnya terhadap suami.
"Ya sudah, Ahel main dengan Oma dan Opa saja, yah!"
Gadis kecil itu mengangguk, Mami Jane membawa sang cucu ke kamar miliknya. Menyusul sang suami yang juga berada di sana.
"Wah, cucu Opa, tumben kesini."
"Ahel mau main sama Oma dan Opa," jawab gadis kecil itu.
Kini, Rachel tengah bermain dengan sang kakek. Gadis kecil itu sudah berubah suasana hati, yang tadi sangat ketakutan kini perlahan menjadi Rachel yang ceria.
Pukul 02 dini hari, setelah lelah bermain dengan kakek dan neneknya, kini gadis berusia 4 tahun cucu pertama keluarga Sanjaya itu tertidur pulas di ranjang king size milik kakek neneknya.
Pria paruh baya itu takut jika suaranya dapat mengganggu tidur sang cucu. Sejak tadi memang dia sengaja tidak bertanya apapun karena merasa gadis kecil itu belum cukup tahu tentang masalah orang dewasa.
"Imel sekarang semakin aneh, Pi, Rachel menangis dia malah asik dengan ponselnya. Itu bukan sifat Imel biasanya," jawabnya dengan suara sedikit berbisik.
Papi Adit menganggukkan kepala, pria itu menatap sang cucu yang tertidur pulas. Memandangi wajah polos yang tadi sangat berbeda dari biasanya. Rachel sangat terlihat ketakutan saat pertama di bawa ke kamarnya.
"Kamu sudah bicarakan ini dengan Reiner?" tanya Papi Adit memastikan.
"Sudah, Pi, Reiner bilang suruh jaga Rachel jangan sampai anak ini hanya berdua dengan Imel."
Papi Adit langsung mengerti, jika Reiner saja sampai mewanti-wanti agar anaknya tidak hanya berdua dengan sang istri, itu berarti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh putranya itu.
"Kamu turuti saja ucapan Reiner, Papi juga akan bantu mengawasi mereka!"
__ADS_1
.
.
.
.
.
Sementara di sebuah ruangan yang berbeda, seorang perempuan baru sadar dari pingsannya. Wanita itu terkejut saat matanya terbuka dan mendapati dirinya berada di ruangan yang asing baginya. Tempat itu terlihat menakutkan, sepi, gelap dan terasa lembab.
Ketika dia ingin bangun, ternyata tangan dan kakinya terikat dengan kencang di sebuah kursi. Dirinya semakin ketakutan karena merasa dirinya dalam bahaya.
Ingatannya kembali pada saat dirinya keluar dari mobil karena melihat seseorang yang terlihat persis dengannya. Karena penasaran, dia mengikuti langkah wanita itu. Dia bahkan sampai meninggalkan putrinya seorang diri di dalam mobil. Namun, setelah itu dia sama sekali tidak mengingat apapun selain saat bangun berada di tempat menyeramkan ini.
"Tolong!" teriak perempuan itu dengan suara lantang.
Berharap ada orang yang akan menolongnya. Beberapa kali perempuan itu mencoba meminta pertolongan, akan tetapi tidak ada satupun orang yang datang. Ketika dia ingin kembali berteriak, tiba-tiba pintu terbuka. Dari sana muncul seorang yang memiliki postur tubuh seorang pria dengan jubah dan juga wajah yang tertutup topeng.
Pria bertopeng itu melangkah dengan langkah besarnya, semakin mendekat ke arah perempuan yang semakin ketakutan. Pria itu duduk di kursi yang ada di hadapan perempuan itu.
"Kamu sudah sadar, Sayang?" tanya pria bertopeng itu.
"Kamu siapa?"
Perempuan itu berusaha menguasai dirinya, meski dalam keadaan takut dia ingin pria itu tidak melihat ketakutan dalam dirinya. Perempuan yang terikat itu berusaha untuk tetap yakin bahwa dia akan selamat. Suaminya pasti menyelamatkan dirinya dari bahaya ini.
"Kamu tidak mengenaliku?" tanya pria bertopeng itu seraya melepaskan topeng yang menutupi wajahnya.
Perempuan itu membulatkan mata lebar ketika melihat siapa orang yang berada di depannya. Seorang pria yang selama ini selalu mencampuri kehidupan pribadinya dan menganggap dirinya seperti boneka hidup.
"Papa," lirih perempuan itu.
__ADS_1
"Sudah ingat dengan orang tuamu sendiri, Imel? Selama ini kamu selalu berusaha menghindar jika Papa mencarimu, 'kan?"
Bersambung...