Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Cemburu


__ADS_3

Setelah sadar Ali tidak ada di tempat itu. Ara dan Syifana memutuskan untuk bergegas mencarinya. Mereka keluar dari toko setelah membayar beberapa barang yang mereka beli.


"Abang maunya apa, sih, Kak? Tadi bilang sama Ibu mau jagain kita, nah sekarang malah ninggalin," Oceh Syifana karena kesal pada Ali.


"Sabar, Sayang, mungkin Abang ada urusan. Kalau Abang sudah pulang, kita bisa naik taksi 'kan?" Ara mencoba menenangkan gadis remaja itu.


"Tapi, tidak biasanya. Abang kabur seperti ini, kak," Gadis remaja itu tetap saja kesal pada Abangnya.


Mereka berjalan menuju pintu keluar mall tersebut, melihat kedua wanita kesayangan Ibu Salma, Ali segera mendekati keduanya.


"Abang, kok malah keluar duluan, sih !" Syifana menatap kesal pada Ali.


"Maaf, tadi, Abang ada perlu sebentar. Kalian sudah belanjanya?" tanya Ali dengan lembut.


"Sudah, Syifa bakal aduin ke Ibu. Abang ninggalin kita di mall !" ancam Syifana pada Ali.


"Ampun, jangan adukan ke Ibu ya. Nanti Abang kasih uang jajan deh," Ali membujuk adiknya dengan iming-iming uang jajan. Mendengar hal itu, Syifana langsung setuju dengan tawaran Ali.


"Oke, kali ini, Syifa gak akan adukan ke Ibu. Tapi, kalau Abang gitu lagi. Siap-siap aja tuh kuping lepas dari tempatnya !" Syifa menebar ancaman untuk Ali.


Mendengar ancaman yang di berikan oleh Syifa, Ara menerbitkan senyum manisnya. Kakak Beradik ini benar-benar lucu sekali menurut Ara.


"Ish, iya ... iya, bawel banget !" Ali meraih beberapa paperbag yang di bawa oleh Ara dan Syifa. Lalu berjalan menuju bagasi mobil untuk meletakkan semua belanjaan itu.


Ara dan Syifana masuk ke dalam mobil berwarna silver metalic yang di kendarai oleh Ali. Setelah meletakkan belanjaan itu, Ali masuk ke dalam kemudi. Dia segera menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas.


"Kita pulang, atau mau mampir kemana dulu?" tanya Ali setelah mereka berkendara cukup lama.


"Antar Syifa dulu, Abang !" pinta Syifana memaksa.


"Kak Ara kira, kamu mau menginap, Syif?" Ara basa basi menawarkan.


"Memang boleh, Kak, kalau Syifa menginap?" tanya Syifa dengan mata berbinar.


"Tidak boleh, Abang tidak mau. Nanti kamu mengganggu !" Ali menyela percakapan kedua gadis itu.

__ADS_1


"Huh, dasar pengantin baru !" Syifa mengalihkan pandangan ke arah cendela mobil.


"Danish, kenapa harus seperti ini hanya jika ada orang lain?" Batin Ara miris, kenapa suaminya bersikap manis jika hanya ada orang lain saja.


Ali mengemudikan mobilnya, menuju rumah milik keluarga Mahendra. Mereka akan mengantar Syifana lebih dulu untuk pulang ke rumah.


Setelah berkendara cukup lama, Ali menghentikan laju mobilnya di depan rumah sederhana milik Ayahnya.


Mereka bertiga turun, Ali berjalan ke bagasi mobil untuk mengambil belanjaan sang adik. Dia menyusul langkah Ara dan Syifa yang sudah sampai di depan pintu.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Ibu Salma yang sedang membaca sebuah novel online di ponselnya. Baliau segere beranjak untuk membuka pintu.


"Assalamualaikum Bu," sapa ketiga orang yang berada di depan pintu.


"Waalaikum salam, kalian sudah pulang?" Suaranya terdengar sangat lembut, mereka mencium tangan Ibu Salma bergantian. Di mulai oleh Ali, Ara, kemudian Syifana.


Mereka berjalan ke ruang tamu, duduk bersama di sofa berhadapan. Ali dengan Ara, dan Ibu salma bersama Syifa.


"Sudah bu, Syifa ingin istirahat. Jadi minta antar pulang, lagipula, Syifa tidak mau mengganggu pengantin baru," Syifa melirik Ali dengan tajam. Masih kesal karena tidak di perbolehkan menginap di rumah mereka.


"Oh, iya harusnya kamu memang tidak merecoki Abang dan Kak Ara, Syif. Ibu juga kesepian tidak ada kamu, kamu kan bisanya heboh ngeflog di rumah,"


"Ya ampun, kamu ini ambekan banget sih," Ali yang bersuara untuk menggoda adiknya.


Mereka tertawa bersama, meladeni Syifa memang perlu kesabaran yang tinggi. Dia anak bungsu dan selalu ingin di perhatikan.


*****


Di markas besar Deadly Scorpion, Reiner bersama beberapa orang kepercayaannya, sedang membahas tentang pengamanan untuk sang Nona muda.


"Kalian jaga adikku dengan benar, jangan sampai kecolongan lagi seperti waktu itu !" ucap Reiner dengan tegas.


"Tapi, Tuan, Nona tidak mau jika kegiatannya selalu di pantau. Nona bilang, suaminya terganggu dengan pengawasan kita," ujar Ferry menyampaikan perintah Ara.


"Biarkan saja, awasi dengan benar. Aku tidak mau sampai Ara terluka lagi!" Reiner tetap pada pendiriannya. "kalian harus lebih cerdik, jangan sampai ketahuan!" lanjutnya dengan tegas dan segera berdiri, berjalan dengan gagah keluar dari markas.

__ADS_1


*****


Setelah tiga puluh menit berbincang dengan Ibu Salma. Ara dan Ali pamit untuk segera pulang ke rumah mereka.


"Bu, kami pulang dulu ya," pamit Ali pada Ibu Salma


"Iya Al, tapi Ibu pesan. Jaga Ara dengan baik, bimbing dia menjadi lebih baik dari sekarang. Nak Ara juga, tolong terima segala kekurangan Ali ya. Maafkan jika dia pernah menyakiti hati kamu," Ibu Salma menasehati kedua pengantin baru itu dengan lembut.


"Iya, Bu, Ali pasti jagain Ara kok," Ali menjawab dengan tegas, agar Ibunya yakin dia akan menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami.


"Danish tidak pernah menyakiti Ara, Bu, Ibu tenang saja. Tidak perlu mengkhawatirkan Ara,"


"Ya sudah, hati-hati di jalan. Jangan lupa sering main ke sini ya," pinta Ibu Salma dan di jawab anggukan oleh sepasang suami istri di depannya.


Ara dan Ali mencium tangan Ibu Salma untuk berpamitan. Ibu Salma memeluk Ara dengan sayang. Bersyukur karena Ali menikahi wanita baik menurutnya.


"Kak Ara, nanti jangan lupa. Kasih abang minum jamu ya," Syifana menggoda lagi setelah Ara dan Ali sudah hampir keluar dari pintu rumah, Ali menoleh dan menatap Syifana dengan mata melotot. Gemas sekali dengan tingkah adiknya, masih kecil tapi sudah berani menggoda yang lebih tua.


"Syifa, jangan nakal !" Ibu Salma mengingatkan putri bungsunya.


Ali menarik Ara keluar, meladeni adiknya tidak akan pernah ada kata selesai. Ali sudah terbiasa menggandeng tangan Ara, walau tanpa sadar. Ara hanya mengikuti saat Ali membuka pintu mobil dan menyuruhnya masuk. Pria itu tanpa sadar melindungi kepala Ara agar tidak berbentur bagian atas mobil.


"Ini sudah tidak ada siapa-siapa, kenapa Danish masih bersikap seperti ini?" Ara hanya bersuara di dalam hati. Dia masih terlalu takut untuk bertanya pada Ali.


Setelah memastikan Ara duduk dengan nyaman, Ali beralih membuka pintu bagian kemudi, dia masuk ke dalamnya dan segera menyalakan mobilnya.


"Kita mau kemana?" Ali bertanya sebelum menginjak pedal gas mobil.


"Kamu keberatan tidak, kalau kita mampir ke mantion Mami dan Papi?" Ara bertanya dengan lirih.


"Kau ingin bertemu dengan Mami dan Papi, atau ingin ketemu Kakak angkatmu itu?"


BERSAMBUNG...


gays aku udah update bab 25 dari semalem, tapi sampai saat ini belum lolos review. Ini aku loncat ke bab 26. Maaf ya kalau ceritanya jadi nggak nyambung, nanti kalau lolos Review kalian bisa baca ulang.

__ADS_1


Thanks For Reading...


_Nurmahalicious_


__ADS_2