
Ara gelagapan karena tertanya Ali sudah sadar. Akan tetapi Ara bisa bernafas lega saat melihat keadaan Ali yang sepertinya baru saja sadar dari tidurnya.
"Ini jam dua, Sun. Kenapa?"
"Apa? jam dua! tadi aku baru selesai sholat isya dan langsung ketiduran. Aku tidur atau pingsan, Moon?" Pekik Ali.
Ara tertawa dalam hatinya. Jelas saja Ali tidur dengan nyenyak karena ulahnya yang memasukkan obat tidur ke dalam teh hangat yang di minum Ali.
"Mungkin kamu kelelahan, Sun. Sudah tidur lagi saja,"
"Iya mungkin, aku mau tahajjud dulu, Moon." Ali bangkit dari ranjang lalu melangkah menuju kamar mandi.
"Huh! untung saja aku datang tepat waktu. Andaikan tadi aku meladeni kekonyolan Kak Reiner, sudah pasti aku terlambat sampai di rumah." Ara mendudukkan dirinya di ranjang.
Setelah membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Ali keluar dari kamar mandi dan mengambil baju miliknya yang sudah tertata rapi di lemari yang terpisah dengan lemari Ara.
"Kamu tidur lagi saja, Moon. Setelah ini aku juga mau tidur lagi," perintah Ali pada istrinya yang justru menunggu dirinya.
Ara menuruti perintah Ali karena dirinya juga sudah sangat lelah dan mengantuk. Kegiatannya beberapa hari ini terasa sangat menguras tenaga dan pikirannya. Ara segera merebahkan dirinya dan memakai selimut.
Laki-laki yang sudah resmi menjadi imam keluarga kecilnya itu memakai peci miliknya lalu mengerjakan sholat di sepertiga malam. Sudah menjadi kebiasaan Ali melakukan itu berkat didikan dari Ayah Hendra.
Setelah selesai dengan sholat malamnya, Ali mengadahkan tangannya ke langit bertujuan meminta pada-Nya sang pemilik kehidupan. Sebagai seorang manusia, ia merasa masih banyak melakukan kesalahan dan kekhilafan.
"Ya Allah, ampuni segala dosa-dosa hamba dan keluarga hamba. Berikan kami semua umur yang berkah dan bermanfaat. Sabarkan hamba dalam mendidik istri hamba yang masih jauh dari-Mu. Juga berikan kami rejeki Anak-anak yang Sholeh/sholeha." Ali meraupkan kedua tangannya ke wajah.
Ali menoleh ke arah ranjang di lihatnya Ara sudah tertidur dengan posisi menghadap ke arahnya. Entah istrinya itu benar-benar tidur atau hanya pura-pura tidur.
Laki-laki itu merapikan sajadah dan sarung yang di pakainya, lalu mendekat ke ranjang untuk segera tidur lagi. Sebelum merebahkan dirinya, Ali mencium kening sang istri sebagai rasa sayangnya pada gadis itu.
"Terima kasih, karena sudah memilihku sebagai suami. Maaf, karena aku bahkan belum pernah mengungkapkan perasaanku padamu," gumam Ali seraya mengelus rambut Ara.
Ali merebahkan dirinya di samping sang istri. Di pandanginya wajah polos Ara yang terlelap dengan tenang. Namun, Ali melihat raut wajah lelah Ara saat memperhatikan dari dekat. Sebenarnya apa yang membuat Ara hingga kelelahan? setahu Ali istrinya itu hanya di mantion saja seharian ini.
__ADS_1
"Kamu terlihat lelah sekali, Moon. Sebenarnya apa saja yang kamu lakukan di belakangku?"
Saat Ali ingin menyentuh pipi Ara bersamaan dengan Ara yang mengigau dalam tidur lelapnya. Entah istrinya itu sedang bermimpi Apa hingga mengigau tidak jelas.
"Kak Al, Ara mohon. Sembuhlah! jangan sakit, Kak. Ara mohon, Kak Al." Ara beberapa kali mengigau dan menyebutkan nama Kak Al dalam mimpinya. Gadis itu hingga mengeluarkan keringat dingin di area wajahnya.
"Kak Al? siapa Kak Al sebenarnya? kenapa Ara menyebutkan nama itu?" tanya Ali pada dirinya sendiri.
Ali mengguncang tubuh Ara untuk menyadarkan istrinya. Ali khawatir Ara sedang mengalami mimpi buruk. Karena Ara tak kunjung tersadar, Ali mengguncang semakin keras agar Ara secepatnya lepas dari mimpinya.
"Moon, bangun! hei, bangun!"
Setelah Ali sedikit berteriak, Ara akhirnya terbangun dari tidurnya. Gadis itu berusaha mengatur nafasnya yang terengah. Ali masih memandangi Ara dengan pandangan menelisik. Mimpi apa istrinya hingga mengigau dan memanggil nama Kak Al?
Akan tetapi Ali lebih mementingkan Ara. Pria itu mengambilkan air minum di sebelahnya lalu memberikan pada istrinya. "Minum dulu, Moon." Ara menerima lalu meminum air putih yang di berikan oleh Ali.
"Terima kasih, Sun." Ara meletakkan gelasnya di meja sebelahnya.
"Kamu mimpi apa, Moon?" tanya Ali penasaran.
"A-aku h-hanya bermimpi di kejar Anj*ng, Sun. Aku takut pada hewan itu," bohong Ara.
Mendengar alasan Ara, Ali sama sekali tidak percaya. Jelas-jelas tadi dia mendengar Ara memanggil nama Kak Al. Pria itu yakin mimpi ara tidak ada kaitannya dengan binatang berkaki empat itu.
"Kamu berusaha membohongiku?"
"Bohong? aku bohong tentang apa?" Ara melempar kembali pertanyaan pada Ali.
"Kamu tidak mungkin bermimpi tentang binatang itu. Tadi kamu mengigau dan aku mendengar kamu menyebut Kak Al!"
Ara terkejut, benarkah dirinya hingga mengigau dan menyebut nama Aldev? gadis itu kebingungan untuk menjelaskan pada Ali siapa Kak Al sebenarnya?
"Siapa Kak Al, Moon? apakah dia sangat berarti untuk kamu?"
__ADS_1
"Kak Al ...."
Bersambung...
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_
Mampir kuy gays ke karya temen othor. karya Kak Eny Sudrajat dengan judul Masa Lalu Sang Presdir.
Masa Lalu Sang Presdir (21+)
Blurb :
Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?
"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."
"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."
"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."
"Richard ...."
"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.
Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.
"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"
Ameera mengangguk mantap.
__ADS_1
Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.