
"Maksud kamu kak Rei?" tanya Ara seraya mengerutkan dahinya.
"Siapa lagi memangnya?" Ali justru melempar pertanyaan kembali.
"Memangnya, kenapa, kalau aku bertemu dengan Kak Rei? Kak Reiner 'kan, Kakakku Danish," jawab Ara polos, dia belum paham dengan situasi hati Ali yang mulai cemburu akan kedekatannya dengan Reiner.
"Kamu menyayangi dia, 'kan?" tanya Ali ambigu, dia masih gengsi mengakui perasaannya.
"Jelas saja, Kak Reiner kan yang menjagaku sejak kecil. Dia lebih menyayangi aku, di bandingkan dengan dirinya sendiri,"
"Ya sudah, kita kesana. Tapi jangan lama-lama, hari sudah hampir sore!" ucap Ali mengingatkan.
"Iya, Danish," jawab Ara singkat.
"Dia sama sekali tidak peka, Huh!" batin Ali kesal.
Ali melajukan mobilnya menuju mantion Papi Adit, walaupun tidak suka jika Ara dekat dengan Reiner. Tetapi Ali tidak boleh egois dan membatasi komunikasi Ara dengan keluarganya.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, mereka sampai di mantion keluarga Aditia.
Masuk ke dalam gerbang berwarna gold, mobil berhenti di area parkir di mantion itu.
Ara keluar di susul Ali, mereka berjalan beriringan menuju pintu yang terbuka lebar. Beberapa pengawal mendekat dan menyapa sang Nona Muda.
"Nona Ara, apa kabar?" sapa beberapa pengawal di mantion Aditia.
"Baik, pak, Papi dan Mami di rumah 'kan?" Ara menanyakan keberadaan kedua orang tua angkatnya.
"Ada, Nona. Tuan dan Nyonya Besar, ada di dalam," jelas kepala keamanan di mantion besar itu.
"Baiklah, terima kasih,"
"Sama-sama, Nona," jawab mereka serempak.
Ara melanjutkan langkahnya, di ikuti Ali di belakang. Ali memandang takjub pada mantion besar keluarga Aditia, ruang tamu yang bergaya american classic yang di dominasi warna putih dan krem. Jangan lupakan, segala yang ada di dalamnya adalah furniture dengan material premium. Banyak Guci besar dan perintilan hiasan dengan kualitas premium.
Melihat Nona Mudanya datang, seorang maid mendekat.
__ADS_1
"Nona Ara baru datang?" tanya seorang maid di mantion besar itu.
"Iya Bi, Ara baru sempat datang," jawab Ara dengan senyum manisnya.
Maid itu mengangguk tanda mengerti. "Semoga langgeng pernikahannya ya Non," Maid itu mengucapkan doa untuk pernikahan Nona mudanya.
"Terima kasih, Bi, Ara ke atas dulu ya," pamit Ara dengan lembut.
Ali masih mengedarkan pandangannya. sedangkan Ara, dia sudah hampir naik tangga untuk menuju lantai 2. Sebenarnya di mantion itu juga terdapat lift, hanya saja, Ara memang lebih sering menggunakan tangga di sana.
Sadar Ali tidak mengikuti langkahnya, Ara menoleh ke arah belakang. Ali masih saja mengedarkan pandangannya. Hingga Ara memanggil beberapa kali, Ali sama sekali tidak merespon. Dengan terpaksa, Ara melangkah ke arah Ali berdiri. Dia menyentuh bahu Ali untuk menyadarkan pria tersebut.
"Danish, kenapa tidak ikut ke atas?" tanya Ara dengan lembut.
Ali mengerjap, sadar dari lamunannya, dan segera bertanya apa yang Ara katakan barusan.
"Kenapa, Moon?" tanya Ali dengan canggung.
"Kamu kenapa, malah diam disini? Papi dan Mami pasti di atas. Ayo kita ke atas," ajak Ara pada sang suami.
"Oh, iya," Ali menggandeng tangan Ara menuju tangga. Ara hanya ikut melangkah bersama Ali, hingga sampai di lantai dua. Ara segera memanggil sang Mami.
"Seperti suara Ara," Mami Jane beranjak, melangkah keluar dari ruangan yang dia khususkan untuk beberapa kucing kesayangannya.
"Mam ...." Ara masih berteriak memanggil sang Mami. Tetapi berhanti ketika melihat Papi yang datang dari tangga lantai atas.
"Ara, kamu datang, Sayang?" Papi Adit berlari mendekat pada Ara. Sejak dulu, Ara memang menjadi putri kesayangan mereka. Bahkan mereka lebih sayang pada Ara dari pada Reiner. Papi Adit memeluk Ara dengan sayang, lalu mendaratkan kecupan di kening Ara.
"Ara baru sampai, Pi, Mami mana?" tanya Ara setelah Papi Adit melepaskan pelukannya.
"Mami, ada...."
"Disini, Sayang. Ya ampun, Ara. Mami rindu sekali," Teriak Mami Jane bahkan sebelum Papi Adit menyelesaikan ucapannya.
Mami Jane mendekat, dan memeluk putri kesayangannya. Walaupun kemarin mereka sudah bertemu, tetapi tidak bisa melepas rasa rindu mereka terhadap putri kecil yang sekarang sudah dewasa. Karena biasanya, Ara akan menginap di Mantion, bersama mereka jika saat berulang tahun.
Papi Adit juga menarik Ali ke dalam pelukannya. Beliau sudah menganggap Ali juga putranya saat sudah resmi menikahi putrinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Ali, Kamu sudah mau menjaga Ara dengan baik. Papi titip putri Papi sama kamu ya?" pinta Papi Adit kepada Ali.
"Ya ampun, Pi, kan masih ada Reiner dan ...."
Ara segera menarik Mami Jane menjauh, takut jika rahasia miliknya terbongkar jika Mami masih di zona Rem Blong. Ara sudah paham sekali, Mami pasti mau membahas tentang Deadly Scorpion. Ara tidak mau jika Ali mengerti tentang kelompoknya.
"Kenapa menarik Mami, Sayang?" tanya Mami heran.
"Mam, jangan bahas tentang Deadly Scorpion pada Danish. Mami tidak ingat pesan Asila?" jelas Ara pada sang Mami.
"Oh, Mami lupa, kalau suami Ara adalah calon Asila dulu. Maaf, Sayang," Mami Jane merasa bersalah pada putrinya.
"Tidak apa-apa, Mi, yang penting. Mami jangan bocorkan hal ini, pada Danish," pinta Ara dengan lembut.
Mami Jane memeluk Ara dengan erat, dia tahu, apa yang Ara lakukan adalah demi menebus rasa bersalahnya pada sahabatnya, Asila.
"Mami janji, Mami tidak akan membocorkan apapun, Sayang. Kamu pasti kuat," Mami Jane mengelus rambut Ara dengan sayang.
"Ara akan berjuang Mi, demi Asila, apapun akan Ara lakukan. Ara juga harus menyembuhkan trauma yang di derita Danish, akibat kejadian malam itu," Ara semakin mengeratkan dekapannya pada sang Mami.
"Kamu, jangan pernah merasa bersalah, Sayang. Semua sudah takdir," Mami Jane menasehati Ara pelan.
Setelah membahas masalah itu, Mami Jane dan Ara segera bergabung dengan Ali di sofa santai. Ara mendudukkan dirinya di samping Ali. Sedangkan Mami Jane di samping Papi Adit.
"Ara, menginap disini, 'kan?" tanya Papi Adit dengan pandangan memohon.
"Ara tidak bisa, Pi, Danish bilang. Mulai sekarang, Ara harus belajar agama. Mungkin akan lebih nyaman jika ada di rumah," jelas Ara.
"Oh, ya sudah, tapi harus sering main kesini ya?" pinta Mami Jane pada putrinya.
"In Sya Allah, Mi, Ali usahakan. Ngomong-ngomong, ini sudah masuk waktu Ashar. Apa ada tempat solat?" tanya Ali pada kedua pemilik mantion.
"Em, kami bukan muslim Ali, Tetapi ruang solat Ada. Karena maid dan penjaga di sini, banyak juga yang beragama Muslim," jelas Papi Adit.
"Oh, maaf Pi, Ali tidak tahu. Boleh Ali menumpang sholat sebentar?" Ali meminta ijin pada Papi dan Mami.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_