Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Perjanjian Pernikahan


__ADS_3

Buru-buru Ali memencet tombol gagang telfon berwarna hijau di ponsel Ara. Untuk apa Clarissa menghubungi Ara tengah malam begini? Walaupun Ara tidak menyimpan nomor Clarissa, namun Ali masih sangat hafal dengan nomor ponsel mantan kekasihnya.


"Hai, gadis culun! kau sudah terima kado dariku, 'kan?" sapa Clarissa setelah telfon tersambung.


"Hadiah apa maksudmu, Cla?" tanya Ali dengan nada tidak bersahabat.


"Eh, Beb. Ini kamu? perasaan tadi aku telfon ke nomor pelakor itu, kenapa malah kamu yang angkat?" ujarnya dengan manja.


"Apa katamu? pelakor! Berani menjelekan istriku sekali lagi, aku pasti akan membuat perhitungan denganmu!"


Ali sangat tidak terima ketika Ara di katakan pelakor oleh wanita seperti Clarissa. Ara gadis baik-baik dan mempunyai harga diri. Tidak seperti dirinya yang rela menjaj*kan tubuhnya demi uang.


Mendengar ancaman Ali, Clarissa merasa jengkel. Kenapa Ali sekarang lebih memilih gadis culun yang tidak ada apa-apanya jika di bandingkan degan dirinya?


"Kamu semakin berani mengancamku, Baby. Kamu tidak ingat dengan pesan Asila waktu itu?" Clarissa sengaja mengingatkan tentang wasiat Asila pada Ali.


"Aku tidak perduli lagi dengan hal itu! Asila pasti paham jika pilihan Ibu adalah yang terbaik." Ali memutuskan sambungan telfon sepihak.


"Argh, si*lan! kenapa sekarang Ali lebih memilih si culun itu?"


Emosi karena Ali mematikan telfon tanpa berpamitan dengannya, Clarissa membanting ponsel miliknya hingga pecah. Wanita itu begitu merasa terhina karena kalah dengan pesona gadis culun bernama Ara.


"Awas saja, tunggu pembalasan gue. Lo emang lebih kaya, tapi lo enggak punya kuasa apa-apa!" ujar Clarissa meremehkan.


*****


Matahari pagi sudah menampakkan sinar cerahnya. Di satu kamar mewah bernuansa gold, seorang gadis sedang tertidur dengan lelap, entah tertidur atau memang pingsan. Di sebelahnya seorang pria tengah duduk dengan memandangi ciptaan Tuhan yang di anugerahkan menjadi istrinya.


"Eugh ...." Lenguhan indah keluar dari bibir tipis gadis yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Senyuman bahagia tercetak jelas di lengkung bibir sang pria. Memandangi istrinya yang tertidur dengan pulas sejak satu jam yang lalu, nyatanya tidak membuat dirinya bosan.


"Selamat pagi, My wife. Nyenyak tidurnya?" sapa pria itu pada sang istri.


Gadis itu tersenyum lembut lalu mendudukkan dirinya. Di lihatnya sang suami beranjak dari ranjang menuju meja samping tempat tidur. Ara terkejut saat sang suami ternyata menyiapkan sarapan pagi untuknya.


"Sun, kamu yang bikin semua ini?" tanya Ara pada sang suami ketika Ali sudah duduk di depannya memangku sebuah nampan besi berisi segelas susu dan sanwich.


Ali mengangguk membenarkan pertanyaan bernada tebakan dari sang istri. "Aku buat ini agar kamu sehat, Moon. Aku tidak mau lagi melihatmu jatuh pingsan seperti tadi," ujarnya dengan lembut.


Mendengar ucapan Ali barusan, Ara sedikit terkejut. Untuk pertama kalinya dia tidak sadarkan diri selama berkiprah menjadi mafia girl.

__ADS_1


"Aku? pingsan, Sun? kamu yang benar saja!" kilah Ara tidak percaya dengan ucapan Ali.


"Kamu manusia, Moon. Lelah dan mungkin banyak pikiran, kalau pingsan ya ... wajar saja,"


Ara mengira sang suami bergurau, bagaimana bisa dirinya pingsan? selama ini dia tidak pernah kehilangan kesadaran hanya karena faktor kelelahan.


"Tidak, tidak. Aku tidak pernah pingsan!" Ara tetap saja berkilah.


Ali membuang nafasnya kasar karena gemas dengan tingkah sang istri. Sudah jelas-jelas pingsan tapi tidak mau mengakui. Atau mungkin semalam Ara memang hanya pura-pura pingsan?


"Oh, jadi kamu tidak pingsan. Hanya pura-pura agar aku gendong ke ranjang ya," goda Ali mengedipkan sebelah matanya.


Ara menundukkan wajahnya guna menyembunyikan rona merah di pipinya. Gadis itu sudah ingat jika ia memang tidak sadarkan diri. Hanya saja gengsi untuk mengakui itu.


"Ya sudah kalau tidak mau mengaku, tidak apa-apa. Biar aku makan sendiri sarapan ini,"


Ara mendongak menatap tangan Ali yang sudah mengarahkan makanan ke mulutnya. Dengan gerakan cepat Ara merebut lalu menyantap sanwich buatan sang suami dengan lahap. Ara baru tahu jika sang suami ternyata pendai dalam hal memasak juga.


"Pelan-pelan, Moon. Tidak ada yang akan memintanya," ujar Ali mengingatkan.


Ara hanya menyengir menunjukan deretan gigi putihnya. Malu karena tanpa sadar dirinya makan seperti orang yang tidak makan berhari-hari.


"Gimana, Enak?" tanya Ali.


"Enak, Sun. Kalau di buatkan setiap hari-pun aku tidak akan menolak," jawab Ara seraya melanjutkan acara makannya.


Pria itu menepuk kepala Ara pelan, gemas sekali dengan kelakuan sang istri yang mulai berani bersikap manja padanya. Ali sama sekali tidak menyangka jika ia akan secepat ini jatuh cinta pada gadis culun di hadapannya.


"Moon, aku lupa sesuatu." Ali beranjak dan berlari ke arah lemari miliknya.


Melihat sang suami yang sepertinya mencari sesuatu, Ara memutuskan untuk bertanya. Apakah yang sedang di cari oleh Ali hingga sangat terburu-buru?


"Kamu cari apa, Sun?" Pertanyaan Ara menghentikan kegiatan Ali.


"Cari surat perjanjian pernikahan kita,"


Bersambung...


Thanks For Reading...


_Nurmahalicious_

__ADS_1


Gays, author punya rekomendasi cerita keren lagi nih. Masih punya bestie othor juga kok, mampir yah karya AG Sweetie dengan judul Call Me Yura



Vlora hanya diam dengan dada yang terasa sesak dan paras cantik yang bermandi tangis. Seburuk apapun perjalanannya selama ini, rumah tangga yang tengah berada di ambang kehancuran itulah yang menjadi payung untuknya dan Given selama enam tahun ini.


Rumah tangga bak di neraka itulah yang sudah memberinya dan Given status yang baik di mata dunia. Perpisahan bukanlah tujuan Vlora, bukan juga keinginannya.


Apapun alasannya dan Tristan saat ini, Vlora jelas terluka dan kecewa, bahkan ia merasa sangat hancur. Sama halnya juga dengan Tristan.


"Why?" tanya Tristan dengan nada berbisik.


"Harusnya aku yang terluka bukan kamu." Menunjuk dada Vlora.


"Aku pikir aku yang berdosa menyakitimu, nyatanya aku sendiri yang paling tersakiti saat ini. Kau kejam, Ra!" Setetes air mata merebas dari manik legam itu. Sesak membuat Tristan menunduk dan menjeda ucapannya.


Mungkin Vlora tidak bisa melihat dan merasakan, bahwa seonggok daging di balik dada lelaki itu tengah tersayat. Luka di dalam sana sedang menganga menelan pahit yang mematikan segenap rasa.


"Aku jelas menyakitimu dengan terang-terangan, tetapi kau diam-diam dengan rapinya mengkhianatiku begitu manis. Lalu kenapa kau yang harus merasakan luka sementara duri itu kau sendiri? Kenapa, Ra?" imbuhnya lagi.


Tristan menepis basah yang berjejak menyusuri rahang tegasnya, lalu ia pun tertawa bodoh.


"Aku mempermainkan banyak hati hanya untuk melampiaskan kekecewaanku padamu. Tapi kau malah sebaliknya, menjadikanku pelampiasanmu atas perbuatan orang lain." Tristan menggeleng tidak percaya.


"Who is he?" tanya Tristan dengan datar.


Vlora ikut menunduk, tanpa berniat membuka suara sedikit pun.


"Ada rapuh yang tersusun rapi. Sebelum menjadi indah, kupu-kupu hanyalah secuil ulat yang menempel rapuh di dedaunan."


~ Vlora Yukika ~


"Hanya karena dahaga sebentar, tak lantas membuatmu harus meminum racun bukan?"


~ Haedar Gibran ~


Dikhianati suami, diasingkan keluarga sendiri, tidak ada tempat tuk berbagi keluh, jua seolah tak ada rumah yang sungguh tuk berteduh. Adakah yang lebih sakit dari ini?


Pada titik terendahnya, Vlora bangkit menjadi sosok yang baru. Dendamkah ia pada mereka yang telah menyakitinya? Sementara ia sendiri memiliki rahasia besar yang dianggap sebuah pengkhianatan.


"Duri itu kau sendiri, lalu kau jua yang merasa tersakiti."

__ADS_1


~ Tristan Pratama ~


Lantas apa yang Vlora lakukan? Bagaimana jika rahasia besar itu terungkap? Masih banggakah ia dengan kehidupan baru yang kini melambungkan namanya?


__ADS_2