Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Menculik Clarissa


__ADS_3

Tengah malam yang sepi, di bawah langit hitam tanpa bintang. Seseorang sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya yang tengah kalut, butuh sesuatu untuk menghibur dirinya.


Pria itu menginjak pedal gas semakin dalam, hingga mobil melesat bagaikan angin beliung yang menyapu dedaunan yang berserakan hingga beterbangan. Dia sama sekali tidak memperdulikan keselamatannya sendiri. Hanya sedang ingin menemui seseorang yang sudah menghancurkan kehidupannya.


10 menit mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimum, kini pria itu sudah tiba di sebuah gedung besar nan tinggi. Dia memarkirkan mobilnya di depan gerbang gedung itu, lalu memanjat pintu gerbang setinggi 5 meter itu tanpa bantuan apapun.


Pria itu melompat ke bawah ketika sudah berada di bagian dalam gerbang. Pandangannya berkeliling, memastikan bahwa keadaan sudah aman. Saat merasakan ada orang yang akan melintas, pria itu buru-buru menyelinap di balik pohon besar di samping gerbang tinggi itu.


"Malam ini kita harus lebih waspada, Ril. Dean dan Boy sedang tidak ada di markas. Kalau ada penyusup, kita mungkin akan merasa kesusahan," ujar salah satu orang yang sedang melintas.


Satu orang yang berjalan bersamanya hanya tertawa lepas. "Kau semakin tua semakin aneh! Apa kau tidak percaya dengan kemampuanmu sendiri? Kau baru ikut Tuan Rei kemarin kah?"


"Sialan!"


Kedua orang yang melintasi tempat itu kini sudah hilang di telan jarak. Pria yang sejak tadi mengintai di balik pohon, kini keluar dari tempatnya. Dia berjalan mengendap-endap. Setelah mendengar ucapan kedua orang tadi, dia begitu yakin rencananya malam ini akan berhasil. Tempat itu kehilangan dua remaja tangguhnya, itu akan menguntungkan bagi lawan yang akan menyerang.

__ADS_1


"Instingku memang tidak pernah salah." Pria itu berjalan cepat memasuki gedung besar.


Dia begitu lihai menyelinap di antara dinding, pilar dan juga ruangan yang memang terdapat di tempat itu. Mengelabui para penjaga yang berlalu lalang di tempat itu.


Pria yang hanya menggunakan jaket kulit berwarna gelap itu berjalan tanpa rasa takut sedikitpun. Misinya kali ini adalah menculik seseorang yang menjadi alasannya kini di benci oleh keluarga gadis tercintanya.


"Kenapa tempat ini begitu mudah di bobol? Apakah keamanan tempat ini memang tidak seketat yang aku pikirkan?" monolognya seraya menengok segala arah.


"Ah, masa bodoh! Yang penting aku harus menculik Clarissa sekarang." Pria itu mempercepat langkahnya.


Seorang wanita tengah tertidur di atas ranjang kecil di dalam tempat itu. Keadaannya begitu memprihatinkan. Pakaian yang compang-camping dan rambut yang hampir gimbal karena lama tidak di cuci ataupun di sisir.


"Kau memang harusnya lebih pantas seperti ini, Cla! Tapi di tempatku, kau akan hidup lebih layak. Layak dengan semua penderitaan yang akan aku berikan!"


Tanpa menunggu lama, pria itu membobol gembok kunci yang menjadi pengurung tubuh wanita tidak tahu diri itu. Dia segera melangkah masuk dan merogoh saku jaket kulitnya. Dari sana, dia mengeluarkan sebuah jarum suntik yang sudah berisi cairan. Dengan cepat, dia menyuntikkan cairan itu ke dalam tubuh wanita itu.

__ADS_1


Merasakan sakit akibat suntikan jarum, Clarissa berontak. Mencoba melepaskan diri dari cengkraman pria yang menatapnya dengan tajam. Clarissa terus berontak, meraung dan berusaha mencakar pria itu. Hingga beberapa waktu kemudian kesadarannya perlahan-lahan menghilang.


Memastikan bahwa wanita yang dia anggap sebagai pembawa petaka itu sudah tidak sadarkan diri. Pria itu membopong tubuh lemas wanita yang keadaannya sudah jauh dari wanita itu biasanya. Tubuh yang dulu terlihat berisi, kini sudah bagaikan tulang dan kulit yang tersisa.


Pipi yang dulu terlihat chubby dan menggoda, kini menjadi kurus. Hanya tulang kerangka saja yang terlihat. Tetapi pria yang kini menggendongnya itu tidak puas hanya melihat Clarissa dalam keadaan seperti itu. Baginya, penderitaan wanita itu baru akan di mulai saat sampai di markas miliknya.


Pria itu membawa Clarissa melewati jalan yang sepi dan gelap. Dia yakin di jalan itu tidak akan ada satupun orang yang berpatroli. Hingga mereka sampai di halaman belakang gedung itu. Tempat yang sangat berbeda dari bagian depan dan dalam.


Jika di bagian depan terlihat sama seperti bangunan pada umumnya, bagian dalam terlihat mengerikan dengan warna merah mendominasi, kini bagian belakang justru terlihat begitu indah. Banyak bunga dan tanaman sayur, juga buah-buahan yang tumbuh subur di pekarangan bagian belakang.


"Ternyata selera Reiner seperti ini? Pantas saja kalau dia lebih membela Ali dari pada aku!" gerutunya dengan kesal.


Pria itu melangkah menuju sebuah pintu yang terbuat dari besi. Di balik pintu itu hanya terdapat sebuah perkebunan karet yang luas. Dia segera keluar dari markas Deadly Scorpion dengan membawa wanita yang berhasil di culik olehnya.


Begitu pria itu sudah keluar dari area bangunan miliknya. Seorang pria dan tangan kanannya tengah tersenyum smirk. Dia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi malam ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2