Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Tambah anggota keluarga


__ADS_3

Merasa bahagia dengan kabar kehamilan istrinya, Ali membawa sang istri untuk segera pulang ke rumah mereka. Pria itu bahkan tidak mengijinkan sang istri untuk berjalan, dengan senang hati Ali menggendong tubuh sang istri yang beratnya memang sudah bertambah.


"Moon, kenapa kamu tidak bilang kalau telat datang bulan?" tanya Ali mengintrogasi sang istri.


Ara yang berada di samping kemudi menoleh ke arah sang suami. "Aku pikir itu hanya karena hormonku saja yang berubah, karena akhir-akhir ini terlalu banyak masalah."


Ali mengangguk setuju dengan alasan sang istri. Memang benar, sekarang banyak sekali masalah yang datang menerjang keluarga Reiner dan juga Gunawan sekaligus. Hal itu pasti yang membuat Ara sedikit merasa stres.


"Mulai sekarang, kamu tidak boleh terlalu lelah, Moon. Biar tugas memasak aku yang ambil alih," tukas Ali mengambil keputusan.


Mau tidak mau, Ara mengangguk. Suaminya itu kalau sudah mengambil keputusan akan susah untuk di ajak bernegosiasi.


Mobil yang di kendarai oleh Ali kini melesat jauh membelah jalanan menuju rumah yang mereka tinggali berdua. Begitu sampai di rumah itu, gerbang otomatis terbuka ketika sensornya mengenali plat mobil yang akan melintas.


Ali menghentikan laju mobilnya ketika mobil itu masuk ke garasi mobil berukuran besar. Disana banyak berderet mobil dan motor berharga fantastis koleksi sang istri.

__ADS_1


Ali mengitari mobil lalu membuka pintu bagian samping kemudi, dimana sang istri duduk. Pria itu kembali menggendong istrinya hingga masuk ke dalam rumah.


"Sudah, Sun. Sampai disini saja," pinta Ara untuk segera di turunkan.


Ali menurut, menurunkan istrinya itu di sofa ruang tamu. Pria itu kemudian melenggang masuk ke dapur untuk mengambil air minum untuk istrinya. Pesan dokter tadi bahwa Ara harus banyak mengonsumsi air putih agar tidak dehidrasi akibat muntah yang berlebih.


"Sun, tidak perlu seperti ini! Aku malah jadi risih kalau semua di layani," ungkap Ara yang memang biasa melakukan apapun sendiri.


"Hust, Diamlah, Moon. Kau sedang hamil, jadi sudah sepantasnya aku melayani semua kebutuhanmu." Ali menaruh jari telunjuknya di bibir sang istri agar Ara tidak lagi berkomentar.


Ara memegang jari telunjuk yang menutupi bibir tipisnya itu, menjauhkan jari sang suami dari sana agar dia tetap bisa berbicara.


"Tidak, kamu tidak boleh bekerja!" Ali tetap melarang sang istri.


Wanita itu memutar bola matanya malas. Suaminya itu benar-benar keras kepala dan egois. Tidak memikirkan apa yang memang menjadi tanggung jawabnya sebagai pimpinan perusahaan.

__ADS_1


"Kalau aku tidak bekerja, siapa yang akan mengurus ARDA Corp? Dean sedang menjalani misi dari Kak Rei, aku tidak mungkin menelantarkan ribuan karyawan hanya karena aku dalam keadaan hamil."


Tanpa sadar, Ara berucap dengan nada tinggi. Wanita itu bahkan terlihat emosi dengan keegoisan sang suami. Tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, mana mungkin dia tidak bisa bersikap profesional terhadap tugas dan kewajibannya.


Ketika Ali akan menjawab ucapan sang istri, dari pintu masuk tiba-tiba ada rombongan yang tanpa permisi langsung masuk ke ruang tamu. Hal itu membuat Ali mengurungkan niatnya.


"Kalian datang kemari?" tanya Ara bingung.


Di depannya kini ada Daddy Haris, Papi Adit, Mami Jane, Imel, Rachel, Ayah Hendra dan Ibu Salma.


"Ali tadi bilang kita harus secepatnya datang. Ada hal penting tentangmu yang harus segera kami ketahui, jadi kami langsung datang ketika mendapat kabar dari Ali.


"Memangnya kabar apa, Li?" tanya Ayah Hendra penasaran.


"Kita akan bertambah anggota, sekaligus dua."

__ADS_1


Begitu mendengar ucapan Ali, mereka yang ada di tempat itu membulatkan mata. Meski mereka masih berusaha mencerna, tetapi mereka cukup tahu dengan arti bertambah keluarga.


Bersambung...


__ADS_2