
Seorang perempuan berjalan dengan langkah terpaksa, di belakangnya seorang pria bertopeng menodongkan sebuah pistol di kepala belakang perempuan yang tangannya dalam kondisi terikat ke belakang.
Perempuan itu menghentikan langkah ketika pria yang berada di belakang punggungnya menahan langkahnya.
Pria itu menekan sebuah tombol masih dengan satu tangannya mendodongkan pistol pada satu perempuan yang memanggilnya dengan sebutan 'papa' itu, hingga sebuah ruangan rahasia terlihat setelah pria itu menekan tombol dengan bentuk bunga tersebut.
Begitu pintu ruangan rahasia itu terbuka, pria bertopeng itu kembali mendorong tubuh perempuan muda itu untuk masuk ke dalam ruangan itu. Meskipun merasa takut, perempuan itu tetap menuruti perintah pria yang begitu tega melakukan hal itu padanya. Pria itu kembali menekan tombol yang berbentuk sama dengan tombol yang di tekannya tadi, sehingga ruangan itu kembali tertutup.
"Pah, kita mau kemana?" tanya perempuan itu penasaran.
"Tidak usah banyak tanya! Kalau mulutmu itu tetap tidak bisa diam, aku akan menekan pelatuk ini untuk membuatmu diam!" ancam pria itu.
Perempuan itu terpaksa menurut, dia langsung mengunci mulutnya agar tidak mengeluarkan suara apapaun. Entah itu pertanyaan atau pernyataan yang akan membuat sang Papa naik pitam.
Mereka berjalan dengan posisi seperti semula, langkah mereka semakin jauh masuk ke dalam sebuah ruangan rahasia itu. Perempuan itu bahkan merasa nafasnya semakin sesak, karena ruangan itu begitu lembab dan hampir tidak ada celah untuk cahaya masuk.
Ruangan itu hanya di terangi dengan pandar lilin yang berjejer di ruangan itu. Perempuan yang dalam keadaan bahaya itu menatap sekelilingnya, hanya kesunyian yang berada di dalam ruangan yang terletak di bawah tanah itu.
'Kenapa Papa membawaku ke tempat ini, apakah dia akan membun*hku?' batin perempuan itu semakin ketakutan.
Ketika jiwanya di kuasai oleh rasa takut, perempuan itu kembali mengingat nasihat dari suaminya. Saat mereka sedang latihan menembak, sang suami pernah berkata bahwa dia tidak boleh menunjukkan rasa takut kepada lawan, begitu juga dengan senjata. Dia yang harus bisa menguasai senjata itu, bukan sebaliknya.
Saat sudah mencapai sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar walau tanpa fentilasi sama sekali, pria itu membuka pintu itu dengan tetap menggunakan satu tangannya. Pintu terbuka, pria itu segera mendorong tubuh perempuan itu untuk masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Nikmati kebahagiaanmu yang terakhir!"
Setelah mengucapkan kata itu, pria bertopeng langsung menutup pintu ruangan itu. Perempuan muda yang masih dalam keadaan terikat itu cukup terkejut dengan ucapan pria bertopeng yang ternyata adalah Papanya sendiri. Namun, perempuan itu berusaha untuk tidak panik.
Ketika perempuan itu membalikkan tubuhnya, di belakang sana tepatnya di sebuah ranjang kecil ada seseorang yang terbaring di atasnya. Penasaran dengan siapa orang yang berada di tempat yang sama dengannya, perempuan itupun melangkah mendekat.
Satu persatu langkahnya membawa perempuan itu semakin mendekat pada seseorang yang masih terbaring itu. Perempuan yang merupakan tawanan di tempat itu melangkah dengan waspada, berjaga-jaga bila ternyata seseorang itu adalah orang yang di perintahkan untuk mencelakai dirinya oleh sang ayah.
Mata perempuan itu terbuka lebar ketika melihat siapa orang yang tengah berbaring di ranjang kayu kecil di sana. Seorang wanita dengan tubuh kurus, dekil, dan rambut yang hampir gimbal. Meski dalam keadaan seperti itu, wajah wanita itu masih bisa di kenali oleh perempuan yang baru saja menjadi penghuni tempat itu.
"Mama," lirih perempuan itu memanggil seseorang yang masih tertidur.
Kedua mata wanita itu bergerak perlahan, hingga akhirnya terbuka sempurna. Tidurnya terganggu oleh seseorang yang memanggilnya dengan sebutan Mama.
Wanita itu langsung bangkit dari posisinya, mundur hingga meringkuk di sandaran ranjang kayu itu. Wajahnya kini terlihat sangat ketakutan. Hal itu semakin membuat perempuan itu mendekati wanita tua yang di panggil Mama olehnya.
Wanita tua itu bingung dengan reaksi perempuan itu, biasanya perempuan yang baru datang ke tempat itu hari ini akan mengancam bahkan berani menyakitinya, akan tetapi kali ini berbeda. Perempuan itu justru terlihat begitu terkejut ketika melihat dirinya.
"Ma -ma, masih hidup? Papa tidak membun*h Mama, tapi kenapa Mama berada di tempat seperti ini, Ma?" tanya perempuan itu seraya menabrakkan diri ke dalam dekapan wanita tua itu.
Sementara wanita itu belum dapat mencerna reaksi dan ucapan dari anaknya tersebut. Dia hanya diam mematung saat perempuan muda itu memeluknya dengan begitu erat.
"Amel, maksud kamu apa? Bukankah kamu tahu bahwa Mama selama ini berada di tempat ini?" tanyanya dengan bingung.
__ADS_1
Perempuan itu langsung melepaskan dekapan hangatnya di tubuh kurus sang ibu, dia menatap mata ibunya yang terlihat sendu.
"Ma ini, Imel, Mama tidak mengenali Imel? Maksud Mama apa, bukankah Kak Amel sudah meninggal karena insiden obat terlarang itu 8 tahun yang lalu."
Wanita tua itu terkejut dengan ucapan perempuan yang mengaku sebagai Imel, anaknya yang terpisah dengannya tanpa kepastian.
"Kamu, Imel?" tanya wanita tua itu memastikan.
Imel menganggukkan kepala. "Iya, Ma, ini Imel."
"Lalu kenapa kamu bisa berada di tempat ini?" tanya sang ibu.
Dia merasa bingung kenapa sang anak yang sudah hilang kabarnya tiba-tiba datang ke tempat ini. Apakah niat jahat dari saudara kembar Imel sudah berjalan. Itu hanya ada di dalam pikiran wanita tua itu, dia belum berani untuk mengungkapkan kepada satu-satunya anak yang sejak dulu selalu menurut padanya itu.
"Imel juga tidak tahu, Ma, tapi tadi ada yang menyerang keluarga Imel di jalan, ketika Imel melihat seseorang yang mirip denganku, Imel turun dari mobil dan mengikuti wanita itu. Tetapi tiba-tiba ada seseorang yang membekap mulut Imel, setelah itu Imel tidak ingat apa-apa lagi dan saat sadar sudah berada di tempat Papa," jelas Imel menerangkan kejadian sesungguhnya.
"Pasti Amel yang sudah menculikmu, Mel. Kamu harus segera keluar dari tempat ini, kalau tidak keluargamu pasti di tipu oleh kakak kembarmu itu!" seru sang ibu yang kini paham dengan apa yang kini terjadi.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya. "Kalau Imel keluar, bagaimana dengan Mama. Lagi pula bagaimana caranya Imel keluar dari tempat ini, Ma?" tanyanya yang kini memikirkan keluarganya di rumah, terutama sang anak.
Wanita tua yang ternyata adalah ibu kandung Imel dan Amel itu mengelus bahu sang anak dengan sayang. Dia juga prihatin dengan nasib anaknya yang satu ini, dia sama-sama anak sang suami tetapi dia mendapat perlakuan berbeda hanya karena tidak mau mengikuti bisnis sang ayah.
"Kamu tenang saja, mata-mata suamimu sering datang kemari. Mereka pasti akan kesini sebentar lagi," ujar wanita tua itu.
__ADS_1
"Mata-mata suamiku, Mama mengerti siapa suamiku?"
Bersambung...