
Setelah kepergian Aldev, rombongan Reiner lebih mudah keluar dari tempat itu tanpa halangan apapun. Sebagian orang yang berjaga disana sudah kalah oleh anggota yang di bawa oleh Reiner.
Kini mereka dalam perjalanan pulang ke mansion. Reiner duduk di mobil bagian depan bersama Dean yang menyetir mobil yang di tumpangi oleh keluarga pimpinan Deadly Scorpion, sementara Imel duduk di kursi penumpang bersama ibu kandungnya.
Perempuan itu terlihat sangat bahagia karena dapat menyelamatkan sang ibu dari kekejaman ayahnya selama ini. Kedua pasang tangan itu saling menggenggam masing-masing. Tatapan perempuan itu tidak lepas dari wanita tua di sampingnya.
Dalam hatinya dia bertekad akan menjaga dan merawat sang ibu dengan baik. Dia bahkan tidak perduli apapun resiko yang akan dia hadapi nantinya.
"Sayang, kita pulang ke mansion pribadi kita saja, yah!" ujar Reiner seraya menoleh ke belakang.
Perempuan itu mengalihkan pandangan yang semula terfokus pada ibunya, kini memandang sang suami yang duduk tepat di depannya.
"Tapi, Mama pasti ingin bertemu Rachel, memangnya kenapa kalau kita pulang ke mansion utama?" tanya Imel.
"Mami, Papi, dan Rachel sudah ada di mansion pribadi kita, Sayang. Lagi pula, di mansion utama ada kembaranmu," jawab Reiner dengan jelas.
Imel akhirnya mengangguk, dia bahkan tidak tahu bahwa saudara kembarnya tengah menyamar menjadi dirinya. Beruntung sang suami lebih cerdik dan tidak mudah di bohongi lagi oleh perempuan licik itu.
"Nak, tolong mau seperti apapun Amel, jangan sakiti dia. Kasihan dia," pinta wanita tua itu.
Sejahat apapun sang anak, seorang ibu tidak akan tega jika anaknya mendapatkan masalah. Begitu juga dengan wanita tua yang duduk di samping Imel, dia tidak mau melihat atau mendengar putrinya dalam bahaya.
Reiner dan Imel saling pandang, lalu sang istri mengangguk sebagai kode kepada sang suami agar mengiyakan permintaan dari sang ibu. Entah bagaimana nanti, apa yang akan terjadi pada saudara kembarnya itu, yang jelas untuk saat ini perempuan itu hanya ingin menenangkan hati sang ibu.
"Iya, Mah, Rei usahakan tidak akan terjadi apa-apa pada Amel." Reiner mengalihkan pandangannya ke jalanan di depannya.
Dia hanya tidak ingin mengecewakan sang mertua yang baru di temuinya itu, akan tetapi dia juga tidak bisa menjamin tentang apa yang akan terjadi berikutnya. Mungkin, dia akan bisa saja memaafkan kesalahan perempuan yang memiliki wajah dan tubuh yang sama dengan sang istri.
Namun, dia tidak bisa menjamin bahwa perempuan itu tidak akan membuat ulah lagi.
Dean sekilas melirik Reiner yang berada tepat di sampingnya, remaja itu juga paham dengan apa yang di rasakan oleh sang tuan muda. Pria itu sedang mengalami dilema tentang masalah yang datang menimpa keluarganya.
__ADS_1
'Saya dan Kak Ferry yang akan memastikan semua dalam kendali anda, Tuan!' batin remaja tampan itu.
Kini mobil memasuki gerbang tinggi yang langsung di buka oleh penjaga yang bertugas di sana. Semua anggota yang di bawa Reiner untuk menyelamatkan sang istri dan ibu mertuanya ikut mengawal mereka hingga sampai di mansion pribadi Tuan mudanya. Sebuah mansion yang tidak kalah besar dari mansion utama.
"Ini rumah suamimu, Sayang?" tanya wanita tua itu kepada putrinya.
"Ini rumah Imel dan Rachel, Mam. Sebentar lagi juga akan menjadi rumah Mamah. Reiner hanya menumpang di rumah ini," jawab Reiner sebelum sang istri menjawab.
Mansion besar itu memang sudah beralih kepemilikan. Semenjak kelahiran Rachel, mansion mewah itu di alihkan atas nama Imel oleh Reiner sendiri tanpa sedikitpun paksaan.
Wanita tua itu menatap haru sang putri, dia bersyukur karena putrinya mendapat suami yang sangat menyayanginya. Terbukti dengan ucapan pria tersebut yang justru mengatasnamakan rumah mewah itu milik putrinya.
'Imel sangat beruntung karena mendapatkan suami yang begitu mencintainya,' batin wanita tua itu.
Berbeda dengan apa yang dia dapatkan selama ini dari sang suami. Dulu ketika awal pernikahan mereka, dia di limpahi kasih sayang walau dalam kesederhanaan. Namun, begitu sang suami berada di puncak kejayaan dia di campakkan. Bahkan dia di anggap hanyalah sampah oleh laki-laki itu.
Di tempat itu juga banyak sekali penjaga yang berada di posnya masing-masing. Reiner memutuskan untuk memperketat penjagaan di mansion yang akan di tinggali sang istri bersama mertuanya. Untuk sementara Reiner belum bisa ikut tinggal disana, karena pria itu harus memantau pergerakan perempuan yang menyamar menjadi istrinya.
"Ayo, Mah, Rei gendong!"
"Tidak, Nak, Mamah mau berjalan sendiri," tolak sang mertua.
Imel yang sudah turun dari mobil langsung mengejar sang suami yang sedang membantu ibunya untuk berjalan. Wanita tua itu menolak ketika Reiner berniat menggendongnya lagi.
"Ayo, Masuk, Mah."
Mereka memapah sang ibu yang berada di tengah, sementara Reiner dan Imel berada di sisi kanan dan kiri. Mereka penuh kasih sayang membantu wanita ringkih itu untuk berjalan. Padahal, di kaki ibu kandung Imel itu terdapat bekas luka pasung. Sepertinya itu di lakukan ketika awal penyekapan perempuan itu.
Pria yang tengah membantu sang mertua berjalan itu memberikan kode dengan kedipan mata dan pergerakan kepala kepada Dean ketika melewati remaja itu. Begitu beruntungnya Reiner memiliki pria remaja itu, meski dia bukanlah tangan kanan pribadinya.
Namun, Dean selalu sigap dalam melakukan tugas yang di perintahkan. Terbukti walaupun remaja itu sudah lelah mengurus perusahaan Ara, dia tetap ikut dalam misi pembebasan Imel dan ibunya.
__ADS_1
Dean menganggukkan kepala saat paham maksud kode yang di berikan oleh pria yang usianya lebih matang darinya itu. Setelah Reiner masuk ke dalam mansion, Dean langsung memerintahkan semua pengawal untuk lebih waspada.
"Jaga setiap sudut mansion, jangan biarkan ada satupun lalat yang menyusup ke tempat ini! Keselamatan keluarga Tuan Muda adalah yang utama," perintah Dean dengan tegas kepada semua anggota yang tadi ikut bersamanya.
"Baik, Dean!" seru mereka serempak.
Karena usianya yang lebih muda dari banyaknya anggota, mereka memanggil Dean hanya dengan namanya. Walaupun posisi remaja itu lebih tinggi dari mereka. Sementara Boy kini melangkah mendekati Dean.
"Kak, sudah ada kabar dari Kak Ferry? Aku jadi khawatir dengannya. Bukan apa-apa, kalau hanya adu jotos dan tembak saja aku yakin dia bisa mengatasinya. Aku hanya takut jika dia di tangkap oleh aparat," ujar Boy seraya menatap Dean.
"Itu juga yang aku khawatirkan, apa lagi tadi aku sempat menghubunginya dan aku mendengar suara yang memerintahkan agar Kakak menyerahkan diri." Frustasi, Dean menjatuhkan punggungnya di mobil hitam milik Reiner.
Pria remaja itu memejamkan matanya, tidak sanggup membayangkan jika sang kakak akan tertangkap dan akan di kenal sebagai orang jahat.
Ketika Dean memejamkan matanya itu, tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Dari luar masuk sebuah mobil berwarna silver metallic yang sangat di kenal oleh Boy.
Remaja yang berada di samping Dean itu menajamkan penglihatannya untuk memastikan siapa yang keluar dari mobil itu. Memang sang pemilik mobil, atau justru orang lain yang akan membawa kabar buruk.
Ketika sepasang kaki yang menggunakan sepatu pentovel berwarna hitam keluar dari mobil, dan di susul oleh badan tegap kekar dan tinggi pria yang sedang mereka bicarakan, Boy menghembuskan napas panjang. Rasanya lega karena melihat pria itu datang dalam keadaan baik-baik saja. Boy langsung menyenggol Dean yang masih saja memejamkan matanya.
"Apa, sih! Boy, aku sedang tidak ingin bercanda!" bentak Dean tanpa membuka matanya.
"Dean, kau berhasil kan menjalankan perintahku?"
Suara itu langsung membuat Dean membuka mata, Remaja itu langsung berlari menabrakkan diri kepada pria yang berdiri di samping mobil berwarna silver metallic itu. Dean memeluk Ferry begitu erat, bahkan Ferry merasakan ada tetesan air yang membasahi dada bidangnya.
"Dek, aku tidak sudi memiliki adik cengeng sepertimu!" ejeknya ketika yakin bahwa sang adik tengah menangis.
"Hah! Kak Dean menangis?"
Bersambung...
__ADS_1