
Ali memutuskan membawa sang istri ke rumah sakit, dia yakin ada yang tidak beres dengan tubuh sang istri. Wanita cantik itu tidak mengalami demam atau meriang, tetapi akhir-akhir ini justru sering mual dan muntah.
Tidak hanya itu saja yang membuat dia akhirnya membawa sang istri untuk melakukan medical check up. Istrinya itu sekarang memiliki nafsu makan yang tidak biasa. Dalam waktu sehari, Ara bisa makan 6x dengan porsi banyak.
Bukan karena takut sang istri akan menjadi gemuk, hanya saja pria itu takut jika istrinya itu memiliki penyakit langka yang susah untuk di sembuhkan.
"Apa aku bilang, aku tidak sakit, Danish!" gerutu Ara ketika keluar dari ruangan dokter umum yang baru saja memeriksanya.
"Jangan terlalu yakin, Ra, dokter menyuruhmu untuk memeriksakan diri di ruang Obygyn. Itu artinya masih akan ada pemeriksaan lanjutan untuk kamu," jawab Ali tidak kalah kesal.
Pasangan yang biasanya romantis itu, kini justru sedang mengibarkan bendera peperangan. Keduanya tidak jauh berbeda dari sepasang musuh bebuyutan yang di pertemukan kembali setelah sekian lama terpisah.
Ali meninggalkan sang istri yang berjalan lambat bagaikan siput itu di belakang. Pria itu mengikuti seorang dokter yang tadi memandunya untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.
Walaupun merasa sangat kesal, Ara tetap mengikuti sang suami yang kini sudah masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Dok, kenapa membawa pasien pria kesini?" tanya dokter yang ada di ruangan itu.
Dokter yang mengantarkan Ali masuk ke dalam ruangan spesialis itu menahan tawa. "Ini suami pasien, Dok."
"Lalu dimana pasien yang akan di periksa?"
Dokter yang akan menjawab pertanyaan dari rekannya itu terhenti ketika Ara masuk ke dalam ruangan itu. Wanita cantik dengan gaun indah itu datang dengan wajah kusut dan bibir yang terlipat.
"Ini istri saya, Dok. Saya curiga dia sedang sakit, tapi anehnya dia tidak mengalami demam, tapi selalu muntah-muntah." Ali menarik tangan Ara untuk mendekat.
Mendengar kata yang di paparkan oleh suami pasien, dokter itu tersenyum tipis. Sementara dokter yang lain kini berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya, akan tetapi sebelum keluar dari sana, dokter itu memberi isyarat pada rekannya dengan kedipan sebelah mata.
__ADS_1
"Tuan dan Nona silahkan duduk dulu," ujar Dokter itu mempersilahkan sepasang suami istri itu untuk duduk.
Keduanya menurut, duduk di kursi berhadapan dengan dokter itu. Mereka masih saling diam karena menuruti rasa kesal dalam diri masing-masing.
"Nona, masih ingat kapan anda terakhir mendapat tamu bulanan?" tanya Dokter itu seraya menaruh kedua tangannya di atas meja.
"Ingat, Dok. Terakhir saya datang bulan adalah ketika awal pernikahan saya dengan suami," jawab Ara seadanya.
"Kalau boleh tahu, berapa usia pernikahan kalian?" tanya dokter itu sekali lagi.
Ara menatap sang suami yang kebetulan juga menatapnya. "Kira-kira dua bulan yang lalu, Dok." Keduanya menjawab secara kompak.
Mendengar jawaban kompak dari sepasang suami istri di hadapannya, dokter itu tersenyum hingga terlihat deretan gigi putih yang tersusun rapi itu. Kedua orang itu terlihat tidak akur, akan tetapi kenyataannya mereka kompak menjawab usia pernikahan mereka. Itu berarti, keduanya memang saling mencintai, terbukti mereka memiliki ikatan cinta yang kuat satu sama lain.
"Ya sudah, Nona bisa tolong pakai alat ini." Dokter mengambil sebuah benda dari laci, lalu menyodorkan benda yang ternyata adalah tespeck.
"Dok, anda tidak salah? Kalau saya memakai benda ini, itu berarti ada kemungkinan saya ....!"
"Ya, Nona, kalau memang terakhir anda datang bulan adalah 2 bulan yang lalu. Kemungkinan besarnya adalah anda dalam keadaan hamil," sela dokter itu menjelaskan ucapan Ara yang belum selesai.
Ketika mendengar obrolan sang istri dengan dokter itu, Ali terkesiap. Apa yang baru saja dia dengar, istrinya kemungkinan dalam keadaan hamil. Itu artinya dia akan segera menjadi ayah.
"Kalian serius?" tanya Ali di sela-sela obrolan kedua wanita yang sedang serius itu.
"Kemungkinan besarnya iya, Tuan. Tapi untuk lebih jelasnya lagi, Nona harus mengeceknya lebih dulu."
Akhirnya Ara menurut, wanita itu masuk ke dalam kamar mandi untuk menggunakan alat pemberian dari dokter itu. Karena merasa gugup, Ara tidak memeriksa lebih dulu alat itu setelah memakainya. Wanita yang kini lebih terlihat feminim itu memberikan tespeck itu kepada dokter, lalu duduk di kursi samping sang suami.
__ADS_1
Dokter itu melihat di dalam benda itu terdapat dua garis merah. Senyum cerah secerah matahari terbit terukir di bibir sang dokter. Tebakannya tidak salah, pasiennya memang positif hamil.
"Selamat, Tuan, Nona, kalian akan segera menjadi orang tua." Dokter itu menjabat tangan Ali dan Ara bergantian.
Sepasang suami istri itu sama-sama terkejut dengan apa yang di sampaikan oleh dokter tersebut. Mereka saling pandang, lalu tanpa sadar keduanya berpelukan di hadapan dokter itu.
'Nasib jadi jomblo, setiap pasien selalu saja berpelukan dengan mesra ketika mendapat kabar menggembirakan ini,' batin sang dokter meratapi nasibnya.
Sadar jika mereka di tempat umum dan ada orang asing, Ali melerai pelukannya. Sebelum itu Ali membisikkan sesuatu di telinga Ara yang membuat pipi Ara merona seketika.
"Karena usia janin sudah memasuki trismester pertama akhir, sekarang kita bisa melakukan pemeriksaan USG. Apakah kalian ingin melihat anak kalian sekarang?" tawar sang dokter yang seketika mendapat anggukan dari sepasang suami istri tersebut.
"Sus, tolong siapkan peralatannya." Perintah dokter kepada satu suster yang sejak tadi hanya menjadi penonton hiburan yang terjadi saat ini.
"Baik, Dok! Mari, Nona berbaring di sini." Suster membantu Ara untuk membaringkan diri di ranjang.
Dokter segera bangun dan mendekati pasien. Mengambil jel untuk di oleskan di perut pasiennya itu. Ali juga ikut mendekat karena penasaran dengan bentuk junior yang berhasil dia miliki dalam waktu singkat.
Dokter itu menempelkan sebuah alat yang terhubung dengan monitor dan mencetak gambar di televisi besar yang ada di hadapan pasiennya.
Dokter itu menggerakkan benda itu untuk mencari posisi janin hingga di dalam layar monitor itu menampakkan ada dua janin yang berada di rahim sang pasien.
"Dok, kenapa saya melihat ada dua di dalam sana? Mesinnya rusak atau bagaimana?"
Ali bertanya karena gambar yang berada di televisi itu begitu jelas bahwa ada dua janin yang berkembang di perut Ara. Karena mereka menggunakan USG 4D jadi menangkap gambar lebih jelas.
"Iya, Tuan, selamat kalian akan memiliki dua bayi sekaligus." ujar sang dokter dengan senyum tipis kepada sepasang suami istri yang justru tertegun itu.
__ADS_1
Bersambung...