
Di dalam sebuah kamar yang cukup mewah, seorang wanita baru saja tersadar dari tidur panjangnya. Lenguhan seksi keluar dari bibir tebalnya. Dia meregangkan otot-ototnya yang sedikit terasa kaku. Setelah membuka mata, wanita itu melihat sekeliling.
Kamar yang cukup mewah dengan bergaya Eropa. Wanita itu menyentuh pelipis kepalanya yang terasa agak berat. Berusaha mengingat apa yang terjadi padanya hingga ia bisa sampai di tempat mewah ini?
"Siapa yang bawa gue kesini?" wanita itu bermonolog dengan dirinya sendiri.
Saat sedang berusaha mengingat tentang kejadian sebelum ini, wanita itu tiba-tiba merasakan hawa panas dari dalam tubuhnya. Darahnya terasa mendidih, hingga wanita itu mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah hingga sekujur tubuhnya.
Melihat sebuah remot AC, Wanita itu meraihnya dengan buru-buru lalu menyalakan suhu ruangan agar terasa sejuk. Tetapi setelah beberapa menit sama sekali tidak mempengaruhi keadaan tubuhnya yang kini semakin terasa panas.
Frustasi dengan hawa panas yang menyerang tubuh moleknya, wanita itu berlari ke kamar mandi. Dengan cepat menyalakan shower air di kamar mandi itu hingga air mengguyur tubuhnya dengan begitu deras.
Namun sederas apapun air yang mengguyur tubuhnya, rasa panas itu tak kunjung pergi hingga membuat dirinya semakin frustasi. Wanita itu kini dengan buru-buru membuka seluruh pakaian yang masih melekat di tubuhnya hingga tak tersisa.
"Shiit! kenapa masih panas aja, sih!" gerutunya frustasi.
__ADS_1
Masih sibuk dengan air untuk menyegarkan tubuhnya, wanita itu sama sekali tidak sadar dengan kedatangan tiga pria berbadan gempal. Mereka memperhatikan apa yang sedang di lakukan oleh wanita yang sudah polos tanpa sehelai benangpun itu.
"Mau kita bantu mendinginkan, Nona?" tawar salah satu pria disana.
Wanita itu menoleh, betapa terkejutnya dia ketika melihat ketiga pria yang sedang menatapnya bagai singa kelaparan. Tetapi rasa panas kembali mengalihkan perhatiannya. Wanita itu merasa suhu tubuhnya kian memanas. Dia dengan cepat menggosok-gosok seluruh tubuhnya dengan tangan. Berharap hawa panas itu hilang dari tubuhnya.
Melihat wanita itu menggosok seluruh tubuhnya membuat ketiga pria itu semakin terbakar g*irah. Mereka melangkah maju secara bersamaan hingga mengelilingi wanita itu. Salah satu dari mereka memberikan kode untuk segera memulai aksinya dengan lirikan mata dan menunjuk wanita polos itu dengan dagunya.
"Ayo kita bantu nona cantik ini lepas dari siksaan ini, Bro." Salah satu pria itu berucap seraya mencolek punggung mulus wanita itu.
Mendengar ucapan yang keluar dari bibir wanita itu, ketiga pria yang kini tengah di ujung n*fsunya itu tertawa lantang. Apakah mereka salah dengar?
"Mahal? kita bahkan mendapatkan tubuhmu secara gratis, Nona!" ujarnya merendahkan.
Mata wanita itu mendelik tajam ke arah pria yang sudah merendahkannya. "Tidak mungkin tubuh seorang model papan atas sepertiku bisa kalian dapatkan secara cuma-cuma."
__ADS_1
"Memangnya kau siapa?" tanya salah satu pria itu.
"Aku Clarissa Indria Jaya." Dengan angkuh wanita itu memperkenalkan dirinya hingga membusungkan dad*nya.
Wanita yang kini tengah di kelilingi tiga pria itu adalah Clarissa, mantan kekasih Ali yang sudah berani mencelakai orang tua Ara dan Reiner. Wanita yang sudah berani mencari masalah dengan keluarga Gunawan dan Sanjaya.
"Sudahlah, kau ini hanya tikus got yang dapat di singkirkan dengan mudah oleh tuan kami." pria itu maju dan meringsek tubuh Clarissa hingga menempel di tembok.
Otak matre Clarissa ingin menolak sentuhan pria itu, tetapi tubuhnya justru semakin membusung ketika merasakan kenikmatan dari sentuhan pria yang sama sekali tidak ia kenali. Karena terpaksa, Clarissa akhirnya menerima setiap sentuhan yang di berikan oleh ketiga pria itu bergantian.
Bahkan empat orang itu melakukan hal keji itu tidak hanya di kamar mandi, tetapi semua tempat di kamar mewah itu tak luput dari kegiatan yang sewajarnya hanya di lakukan oleh dua orang saja.
Suara des*han hingga erangan memenuhi kamar mewah itu, Clarissa yang awalnya jual mahal kini justru dengan senang hati melayani kegilaan dari ketiga pria yang dengan gilanya menggilir tubuh moleknya.
Tanpa disadari oleh wanita itu bahwa setiap sudut di ruangan itu terpasang kamera pengintai yang merekam semua kejadian di dalamnya. Dari ruangan yang berbeda, seorang pria tersenyum licik ketika karyanya benar-benar bereaksi sempurna. Pria itu bahkan berharap salah satu benih yang di tanam ketiga suruhannya dapat berkembang di rahim wanita mur*han itu.
__ADS_1