
Seorang pria dewasa dengan wajah tampannya, kini sedang menatap kesal ke arah pria remaja yang sedang mengemudi mobil miliknya. Pria itu memaksa ikut dirinya untuk memastikan keadaan Aracelia.
"Kau ini, memangnya tidak lelah, De? Kau baru saja melakukan misi pengintaian yang cukup berbahaya, dan kemungkinan juga akan kembali ke tempat itu. Bukannya beristirahat, malah ngeyel mau ikut denganku!" gerutu Reiner panjang lebar.
Dean hanya tersenyum ketika mendengar gerutuan dari Tuan Mudanya. "Saya tidak pernah lelah, Tuan. Apa lagi untuk menjaga keluarga anda," jawabnya dengan santai.
"Hei, tapi Ara sedang tidak dalam bahaya!" seru pria dewasa itu semakin kesal.
Kini Dean menoleh sekilas lalu kembali fokus pada jalan di depannya. "Saya paham, Tuan. Tapi saya ingin memastikan dari Nona sendiri bahwa dia baik-baik saja," jelas Dean dengan berani.
Pria remaja itu memang begitu setia terhadap keluarga dari pemimpinnya. Akan tetapi, sifat Ferry juga ada di dalam diri pria remaja itu. Ketika dia memiliki kemauan, akan susah untuk di tolak.
Sementara yang ada di pikiran remaja itu adalah jika Nona Mudanya dalam keadaan hamil dan mengalami sakit berlebihan yang seperti pernah dia cari tahu melalui aplikasi khusus tentang kehamilan.
Dean cukup khawatir jika Nona mudanya mengalami hal seperti itu, sebulan yang lalu dia pernah curiga dengan gelagat aneh yang di tunjukan oleh Nona mudanya. Wanita itu pernah kedapatan mual dan muntah hingga wajahnya pucat, akan tetapi tidak pernah mau ketika dia memaksa untuk membawa wanita itu ke rumah sakit.
Karena itu, pria remaja yang sudah sejak kecil hidup berdampingan dengan wanita itu merasa curiga dan akhirnya mencari tahu lewat beberapa situs.
Mobil kini sudah memasuki gerbang rumah Aracelia yang memang memiliki sensor otomatis yang bisa terbuka dan tertutup sendiri. Pria remaja itu memarkirkan mobil berjejer dengan mobil-mobil lain yang juga berada di tempat itu. Sementara Reiner langsung turun dan melenggang masuk ke dalam rumah.
Ketika memasuki ruang tamu, pandangan Reiner langsung bertemu dengan tatapan sang istri. Wanita itu terlihat sedih saat menatap ke arahnya. Pria itu begitu ingin memeluk sang istri, akan tetapi dia berusaha mengendalikan diri. Ini belum saatnya untuk kembali bersikap seperti dulu. Kondisi wanita itu sedang dalam bahaya yang mengancam.
Melihat Reiner sudah datang, Rachel langsung bangkit dari pangkuan Imel. Gadis kecil itu berlari dengan merentangkan tangannya untuk memeluk sang ayah.
Reiner menyambut kedatangan sang putri ke dalam pelukan. Pria itu juga sangat merindukan putrinya yang sangat lucu.
Reiner melangkah mendekati semua orang yang masih menatapnya datar yang sedang menggendong Rachel. Pria itu tidak memperdulikan semua tatapan yang menuju ke arahnya. Dia mengira bahwa sang istri mungkin sudah curhat masalah pribadi mereka kepada keluarga.
"Rei, kemarilah!"
__ADS_1
Mami Jane menepuk sofa kosong di sampingnya. Pria itu menurut, langsung duduk di samping sang ibu. Tatapannya mengintai sang adik yang terlihat berwajah masam.
"Kamu kenapa, Ace?" tanya Reiner curiga.
"Tidak apa-apa," jawabnya singkat.
Namun, Reiner tidak semuda itu di bohongi. Pria itu tetap merasa sang adik sedang berada di mood buruknya. Jika saja mereka berada di markas, sudah di pastikan bahwa wanita itu akan mengajaknya berduel seperti biasanya.
Pria itu menganggukkan kepala, pura-pura mempercayai ucapan sang adik yang mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
'Ternyata firasat Dean sangat kuat tentang adiku,' batin pria dewasa itu.
"Rei, kamu kalah dengan adikmu." Mami Jane menepuk bahu sang putra yang berada tepat di sampingnya.
Pria itu memicingkan matanya karena tidak paham dengan ucapan sang ibu. Kalau Ara sekarang sedang hamil, apa yang membuatnya kalah dari sang adik. Bukankah dia juga sudah memiliki Rachel.
"Mam, memangnya Rachel anak siapa kalau bukan anakku? Kenapa mengataiku kalah oleh adikku sendiri?" tanya Reiner agak kesal.
Pertanyaan Mami Jane membuat Imel yang sedang minum, tersedak. Wanita itu sampai terbatuk beberapa kali, membuat Reiner begitu ingin mendekati sang istri. Namun, dia bisa bernapas lega ketika sang adik dengan sigap menepuk punggung Imel.
"Mam, memangnya mau koleksi cucu? Rachel saja masih kecil, masa harus Rei buatkan adik. Kasihan dia," ujar Reiner malas meladeni sang ibu.
"Ace, Dean menunggumu di depan. Dia ingin bertemu denganmu,"
Pria itu sengaja mengalihkan pembicaraan. Hubungannya dengan Imel sedang runyam, tidak mungkin jika dia menambah momongan di saat seperti ini. Prioritasnya sekarang adalah memastikan istri dan anaknya dalam keadaan aman.
Tanpa menjawab ucapan sang kakak, Ara langsung beranjak. Wanita itu meninggalkan semua keluarga yang berkumpul di tempat itu, untuk menemui orang kepercayaannya.
Saat Ara keluar dari rumah, Dean sedang berdiri diam di depan pintu. Ketika mendengar langkah kaki mendekat, Dean menoleh ke belakang. Di lihatnya sang Nona Muda dengan ekspresi wajah kesal. Dean begitu hapal dengan raut wajah sang Nona.
__ADS_1
"Kau sudah kembali, Dek?" tanya Ara ikut berdiri di sampingnya.
"Iya, Nona. Saya ingin memastikan keadaan Nona baik-baik saja," jawab Dean jujur.
"Aku baik-baik saja, Dek. Kamu pulanglah, istirahat! Tubuhmu pasti lelah," ujar Ara memerintahkan tangan kanan yang sudah di anggap adiknya sendiri itu untuk segera kembali.
"Tidak, Nona, saya paham anda sedang tidak baik-baik saja. Jangan membohongi saya," tolak Dean, pria itu tidak percaya dengan ucapan sang nona muda.
Ara langsung menoleh, menatap Dean dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu sang tangan kanan memang selalu mengerti tentang keadaannya.
"Kau memang selalu begitu, Dek. Itu yang membuatku tidak pernah bisa melepaskan kamu, entah kalau nanti kamu sudah memiliki pendamping."
"Saya tidak akan menikah sampai anda sendiri yang memilihkan saya pasangan, Nona!"
Ara tersenyum mengira bahwa Dean hanya berusaha menenangkan dirinya. Namun, berbeda dengan remaja itu. Dia sangat serius dengan ucapannya itu.
"Anda ada masalah, Nona?" tanya Dean memastikan.
Pria remaja itu tidak akan merasa lega kalau belum memastikan sendiri kondisi dan keadaan Nona Mudanya.
"Aku hanya sedang bingung, Dek. Suamiku tidak mengijinkan aku untuk bekerja, dia khawatir karena aku mengandung dua janin." Ara menatap lurus ke depan.
Bayangannya menembus semua yang ada di perusahaan ARDA Corp. Ribuan karyawan yang bernaung di sana pasti akan terkena imbas jika dirinya tidak bisa bersikap profesional.
Dean langsung menatap Nona Mudanya. Terkejut dengan pengakuan wanita itu bahwa Nona Mudanya akan memiliki dua penerus sekaligus. Dua atasan yang harus dia jaga dengan baik.
"Kalau itu alasan Tuan Ali, saya juga sepakat dengan suami anda, Nona!"
Ara langsung mendelik tajam pada remaja di sampingnya. Pria itu begitu berani menyetujui keputusan sepihak suaminya yang baginya itu adalah sikap yang berlebihan.
__ADS_1
Bersambung...