Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Nasib malang Clarissa


__ADS_3

Seorang pria tampan berjalan dengan langkah tegasnya. Dia berjalan di antara barisan orang-orang yang menundukkan kepala sebagai tanda menghormatinya.


Di belakangnya pria berusia muda mengikuti langkah tegas sang pemimpin. Mereka berjalan menuju sebuah sel khusus yang disana di tempati oleh satu orang wanita.


"Dia jadi seperti ini?" tanya pemimpin itu kepada pria di belakang tubuhnya.


Di depannya seorang wanita dengan penampilan acak-acakan, rambut berantakan, pakaian yang robek di beberapa bagian. Bukan karena penghuni markas yang memberikan pakaian tidak layak, akan tetapi karena wanita itu sendiri yang merusak baju yang di pakainya.


"Betul, Tuan. Bang Ferry terlalu banyak memberikan dosis untuk wanita itu," ujarnya menjelaskan.


"Kasihan dia, Ferry benar-benar keterlaluan. Seharusnya biarkan saja dia lewat! Hiduppun untuk apa kalau seperti itu?"


Dean menahan tawa ketika mendengar ucapan pemimpinnya itu, sang kakak di salahkan karena bukannya melenyapkan wanita itu. Justru membuat wanita itu kehilangan kewarasan.


Wanita yang sejak tadi menelungkupkan kepala di antara kedua lututnya itu kini bangkit setelah melihat keberadaan kedua laki-laki yang memandangnya.

__ADS_1


"Hai, Tampan." Clarissa mengedipkan sebelah mata untuk menggoda kedua laki-laki yang tengah menatapnya dengan miris.


Reiner menyeringai. "Sekali wanita murah*n tetap akan seperti itu. Mau dalam keadaan waras ataupun tidak!" ucap Reiner menghina.


"Setiap orang yang datang kemari, selalu dia goda seperti itu, Tuan. Bahkan banyak anggota kami yang tidak mau ketika mendapat jatah untuk mengantarkan makanan untuknya,"


Clarissa menjulurkan tangannya keluar dari sel besi yang mengurungnya. Tangan yang dulu mulus tanpa bekas, sekarang banyak luka yang menghiasi lengan putihnya. Dia berusaha menggapai Reiner yang tetap diam berdiri.


"Awasi kakakmu itu, jangan sampai terjebak dengan senjata yang dia buat sendiri." ancam Reiner memberi peringatan.


Dean hanya tersenyum simpul ketika mendengar apa yang di ucapkan oleh Tuan Mudanya. Walaupun usianya masih tergolong muda, tetapi Dean sudah paham dengan arah pembicaraan laki-laki tampan yang sangat ia hormati itu.


Kedua orang itu berlalu dari sel tahanan yang mengurung Clarissa di dalamnya, tanpa mengindahkan teriakan dan raungan Clarissa yang semakin di luar kendali.


"Aku yakin, Aldev yang akan mengambil wanita itu dari tempat ini. Biarkan saja, mungkin laki-laki pengecut itu akan membuat perhitungan dengan kecerobohan yang di lakukan oleh Clarissa." Reiner berjalan seraya memberikan titah untuk Dean.

__ADS_1


Setelah selesai dengan urusannya untuk melihat keadaan wanita yang sudah hampir mencelakai adiknya itu, Reiner bergegas pulang. Dia harus memperbaiki hubungannya dengan sang istri yang hari ini tidak baik-baik saja.


Reiner kembali ke mansion Aditia, karena ternyata saat ia meninggalkan istri dan anaknya untuk pergi ke Jepang, Mami Jane dan Papi Adit sudah lebih dulu membawa mereka untuk pindah ke mansion utama keluarga Aditia.


Mobil yang kali ini dia kendarai sendiri melaju dengan kecepatan maksimal, Reiner buru-buru ingin meminta maaf pada istri tercintanya itu. Laki-laki itu tidak menggunakan satupun pengawal yang mengantarkannya pulang.


Saat berada di jalan sepi, instingnya mengatakan bahwa akan ada jebakan yang di siapkan untuknya. Tempat itu terlihat sepi, tetapi dia yakin. Di sisi kanan dan kiri jalan sudah terdapat beberapa orang yang akan menyerangnya.


Dengan cepat, Reiner menghubungi Ferry lewat headphone yang sudah terpasang di telinganya. Tanpa menunggu lama, Ferry selalu siap menerima perintah. Laki-laki kepercayaan Reiner itu mengangkat telfon dari sang pemimpin dengan sigap.


"Hallo, Tuan,"


"Datang ke jalan Mandala nomor 10, sekarang!"


Bersambung...

__ADS_1


Hai, Kak. Kuy mampir ke karya temanku lagi.



__ADS_2