Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Aku iklas jika harus gugur


__ADS_3

Seorang pria dewasa baru saja keluar dari mansion pribadinya, pria itu menghampiri ketiga orang yang masih berbincang di samping mobil berwarna silver.


"Ferr, kau sudah kembali? Bagaimana rencanamu, apa berhasil?" tanya Reiner pada tangan kanannya itu.


"Rencana? Rencana apa maksudnya, Kak?" tanya Dean menyela sebelum Ferry sempat menjawab pertanyaan dari tuan mudanya.


"Rencana kita berhasil, Tuan. Sayangnya Rico lolos dari kejaran aparat, tapi banyak anak buahnya yang tertangkap." Ferry memutar sebuah Vidio berisi penangkapan aparat atas transaksi ilegal yang di lakukan kedua klan mafia itu.


"Pria tua Bangka itu selalu saja lolos, atau memang harus aku sendiri yang membuat perhitungan dengannya." Reiner mengepalkan tangannya erat.


Geram dengan semua usahanya yang gagal menjebloskan Rico ke jeruji besi. Dia memang tidak ingin berurusan terlalu dalam dengan mereka, akan tetapi nampaknya memang harus dia sendiri yang turun tangan. Apa lagi setelah terungkapnya kejahatan pria itu atas ibu kandung istrinya dan perlakuan tidak adil yang di terima sang istri.


"Sebentar, Kak? Rencana apa yang kalian bicarakan?" tanya Dean yang semakin penasaran.


Ferry terpaksa menjelaskan apa yang baru saja terjadi pada sang adik. Adik satu-satunya itu kalau belum menemukan jawaban atas pertanyaannya, pasti akan mengintrogasinya sampai kapanpun sepuasnya. Persis seorang anak kecil yang sedang memiliki rasa keingintahuan yang besar.


Flashback on.


Begitu mendapat informasi dan perintah tentang transaksi yang akan di lakukan di sebuah dermaga, Ferry langsung menghubungi seorang kawannya yang berprofesi sebagai seorang jendral berpangkat bintang 2.


Dia membocorkan jika dia akan ikut dalam operasi itu untuk menyamar sebagai anggota di salah satu klan yang melakukan transaksi ilegal tersebut.


"Jadi malam ini, kau kirimkan saja alamat pastinya. Anggotaku akan segera meluncur kesana," ujar sang teman kepada Ferry.


"Baiklah, terima kasih. Aku akan segera mengirimkan alamatnya," ucap Ferry mengakhiri panggilan itu.


'Semoga saja rencana ini berhasil,' batin Ferry berharap jika kali ini pria bertopeng itu tidak akan lolos.


Pria kepercayaan Reiner itu langsung mengirimkan titik lokasi yang akan di jadikan tempat transaksi.


Beberapa saat kemudian, mereka berangkat. Mobil yang membawa semua anggota Wild Wolf dalam misi itu berjalan beriringan. Di salah satu mobil itu Ferry berada. Dia terpaksa menyamar untuk melaksanakan dua tugas sekaligus.


'Semoga saja Dean dapat membebaskan Nona,' batin Ferry mengkhawatirkan mereka yang akan melaksanakan rencana pembebasan kedua wanita dari markas itu.


Sepanjang perjalanan hanya ada rombongan mobil itu yang melintasi jalan, Karena waktu sudah masuk tengah malam. Aktifitas di jalan sudah berkurang, atau lebih tepatnya banyak orang yang lebih memilih istirahat di rumah dari pada keluar dan menjadi santapan empuk para penjahat.


Ketika memasuki tempat yang berada di tepi laut itu, mereka berpencar. Setiap mobil menuju posisinya masing-masing yang sudah di rencanakan sebelum mereka datang ke tempat itu.

__ADS_1


"Kalian pastikan tempat ini dalam keadaan aman, dan klien kita tidak melakukan kecurangan." Pria bertopeng itu memberi perintah kepada anggota yang ikut dalam misi itu.


Kebetulan Ferry justru ikut menuju titik transaksi yang berada di dalam sebuah gedung kosong. Beberapa mobil itu masuk hingga ke dalam gedung itu, lalu semua anggota yang ikut masuk ke gedung keluar dari mobil.


Hanya satu orang yang tetap berada di dalam, yaitu seorang pria bertopeng yang merupakan pemimpin di klan mafia tersebut. Ferry ikut menyebar ke sudut-sudut yang di perkirakan akan menjadi tempat yang digunakan oleh klien jika mereka berniat melakukan kecurangan.


'Tuhan, aku iklas jika harus gugur dalam misi ini," ujar Ferry memejamkan matanya.


Pria itu bukannya ikut memantau situasi, akan tetapi justru bersembunyi di suatu tempat. Dia ingin memastikan bahwa sang teman juga sudah berada di tempat itu. Pandangan Ferry kini tertuju pada tiga mobil yang ikut memasuki gedung kosong itu dari sisi yang berlawanan.


"Kedua target sudah masuk perangkap, dimana Shaka berada. Jangan-jangan dia terlambat datang ke tempat ini," gumam Ferry cemas.


Ketika pria itu berniat menghubungi Shaka, sang teman yang menjabat sebagai aparat negara itu. Panggilan lain sudah lebih dulu masuk. Ferry langsung menerima tanpa melihat dulu siapa yang menghubunginya.


"Kak, kau dimana?" tanya seseorang di seberang sana.


"Aku sedang bertransaksi, apa kau berhasil melakukan tugasmu?" tanya balik Ferry.


"Sudah, Tuan Rei menyuruhmu agar segera kembali. Aku susul di dermaga, yah!" seru sang adik.


"Tidak perlu! Kau pastikan saja semua aman. Aku titipkan semuanya hingga aku bisa kembali nanti," ujar Ferry.


Ketika mendengar suara tembakan yang saling bersautan, Ferry langsung menuju tempat yang lebih tinggi. Dia berada di atas box besar yang berjejer di dermaga. Agar tidak terlihat oleh musuh, Ferry merayap di atas box tersebut.


Sampai sebuah suara membuatnya tertegun.


"Jangan bergerak!"


Jantung Ferry rasanya berhenti berdetak, apakah ini akan menjadi akhir dari segalanya. Apa malam ini dia akan pulang hanya tinggal nama saja.


"Kak, kakak, Kau tertangkap!" seru Dean panik ketika mendengar suara yang lebih khas dengan ciri aparat dari pada seorang mafia.


Ferry nekat menengok ke belakang, di sana berdiri seorang pria menggunakan seragam polisi yang khas dan rompi anti peluru. Melihat pria itu, Ferry akhirnya dapat bernapas lega.


"Shaka!" seru Ferry membuang napas panjang.


Shaka menahan tawa ketika melihat wajah temannya itu. Untuk pertama kalinya dia melihat wajah yang biasanya tegas dan berwibawa kini pucat pasi.

__ADS_1


"Kau takut, Fer?" tanyanya menggoda.


"Sial*n! Kau benar-benar keterlaluan!"


Ferry langsung beranjak dari posisinya. Pria itu mendekati sang teman yang bernama Shaka itu.


"Mana anak buahmu?" tanya Ferry karena di tempat itu hanya ada mereka berdua.


"Ada, mereka sedang baku tembak dengan para tikus berdarah dingin itu." Shaka menunjuk para anak buahnya yang memang sedang berjuang untuk melumpuhkan musuh.


"Kau malah disini, mengerjaiku!" serunya dengan kesal.


"Ha-ha, ya sudah! Bantu aku melawan mereka," ujar Shaka tanpa beban.


Ferry akhirnya membantu Shaka, kedua pria itu menembaki banyak anggota yang berasal dari kedua kubu. Hanya saja dia mereka tidak melihat pria bertopeng itu di antara banyaknya anggota yang mencoba melawan.


"Kau bilang pemimpinnya menggunakan topeng, lalu dimana dia?" tanya Shaka seraya tangannya tidak berhenti melumpuhkan para penjahat itu dengan menembak kaki mereka.


"Sial! Dia kabur dengan mobil itu." Ferry menunjuk sebuah mobil yang keluar dari gedung kosong itu.


Kedua pria yang berteman akrab sejak lama itu dengan cepat mengejar mobil yang melaju dengan kecepatan maksimal. Merasa tidak akan mempu mengejar dengan berlari, mereka akhirnya menggunakan sebuah motor untuk mengejar pimpinan Wild Wolf itu.


Aksi kejar-kejaran tidak terelakan. Ferry mengendarai motor itu dengan kecepatan di atas rata-rata. Dalam diri kedua pria itu sama sekali tidak nampak ketakutan, yang ada dalam pikiran mereka adalah mereka harus bisa menangkap pria bertopeng itu.


"Shaka, apa ada anak buahmu yang berjaga di pintu masuk dermaga?" tanya Ferry dengan suara kencang.


"Ada, tenang saja!" seru Shaka tidak kalah kencang.


Benar saja, di depan pintu dermaga mobil itu berhenti karena sudah di hadang oleh mobil aparat. Kedua pria itu turun dari motor dan berjalan dengan langkah waspada menuju mobil itu.


Ketika pintu mobil bagian penumpang di buka oleh Ferry, disana tidak ada satupun orang. Hanya ada satu sopir yang mengendarai mobil tersebut.


"Sial!" seru kedua teman itu dengan geram.


Flashback off.


"Jadi semua ini sudah di rencanakan?" tanya Dean menatap boy tajam.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2