Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Hapus Air Matamu!


__ADS_3

"Moon, yang harus benar-benar kamu ingat. Rukun wudhu ada enam. Rukun itu adalah yang wajib kamu lakukan, jangan di tinggalkan. Yeng pertama kamu harus niat,"


Ali berhenti guna memastikan bahwa sang istri paham dengan apa yang dia katakan. Begitu Ara mengangguk, Ali segera melanjutkan penjelasannya.


"Ini niatnya, Ingat baik-baik. Nawaitul wudhuu-a liraf'il hadatsil ashghari fardhal lillahi ta'aala. Coba kamu hafalin," Ali menyuruh Ara mengikuti niat yang baru saja ia sebutkan.


"Nawaitul wudhuu-a liraf'il hadatsil ashghari fardhal lillahi ta'aalaa, begitu, Danish?" Ara menirukan apa yang di beritahukan oleh Ali dengan baik.


"Kamu, pintar sekali, Moon," Tanpa sadar Ali mengelus kepala Ara yang berada di dekatnya.


"Ya ampun, kenapa? Semakin hari, Danish semakin lembut padaku. Ah, kamu sadar Ara, apa yang di katakan Danish waktu itu. Dia melakukan ini karena tidak mau menanggung dosamu!" Ara mengingatkan dirinya, bahwa suaminya tidak mungkin semudah itu bisa jatuh cinta padanya.


"Nah, setelah niat, kita harus mambasuh muka, lalu kedua tangan hingga siku, mengusap sebagian kepala, berlanjut membasuh kedua kaki dan tertib. Yang di maksud tertib adalah kamu melakukan gerakan itu dengan teratur. Mendahulukan mana yang harus kamu dahulukan, dan mengakhirkan apa yang harus kamu lakukan di akhir, sesuai dengan syariat," Ali diam saat melihat Ara justru terdiam dengan. Melihat suaminya berhenti, Ara memberanikan diri untuk bertanya.


"Kenapa berhenti, Danish?" Ara bertanya dengan memandang heran pada suaminya.


"Masih saja, memanggilku dengan nama. Danish!" batin Ali kesal.


"Aku kira, kau melamun," Ali ada pada zona badmood karena Ara masih saja memanggilnya dengan nama.


"Aku memperhatikan kamu," jawab Ara polos, dia benar-benar tidak tahu suasan hati suaminya.


"Kamu tahu, Moon. Manfaat wudhu juga baik untuk kesehatan. Aku beritahu kamu ya, dengan wudhu kita bisa membersihkan tangan kita, mengurangi sakit kepala, membersihkan wajah kita, menjaga kesehatan jantung, membersihkan mata, menjaga kulit, menghilangkan dosa, dan terakhir bisa menghilangkan amarah," Ali memberi tahu sang istri tentang manfaat yang di dapat dari berwudhu.


"Wah, bagus juga Danish. Tapi kenapa kamu masih sering marah kalau wudhu dapat menghilangkan amarah?" Ara tanpa sadar membuat Ali membulatkan matanya. Istrinya berani mencela dirinya.


"Aku tidak marah, hanya kesal saja! Sudahlah, kau mau belajar atau tidak? Nanti, aku kehabisan waktu," Ali menyudahi pertanyaan polos dari Ara.

__ADS_1


"Mau, Danish,"


"Danish lagi! Sudah ku bilang pangggil Sun !" tanpa sadar Ali sedikit meninggikan suaranya. Membuat Ara memandang heran pada suaminya. Mereka sedang berdua, kenapa harus berakting. Pikir Ara.


"Maaf, aku kelepasan," Ali sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.


"Kamu, kamari, ikuti gerakan yang aku lakukan,"


Ali menyalakan kedua kran air yang ada di sana, Ara menurut dengan perintah Ali. Dia mulai sadar, bahwa suaminya tidak suka dengan panggilan yang dia sematkan untuknya.


Ali membasuh kedua telapak tangannya dan menbersihkan sela sela jari, sebanyak tiga kali. Ara mengikuti apa yang suaminya lakukan. Lalu berkumur kumur tiga kali, Ara dengan cepat mengikutinya, sebelum Ali ada pada mode kesal lagi.


Ali beralih menghirup air ke dalam hidung lalu mengeluarkan kembali air yang ia hirup, guna membersihkan hidungnya. Ara masih setia mengikuti gerakan yang di contohkan oleh Ali.


Setelah selesai dengan hidung. Ali segera membasuh muka, dari ujung kepala tumbuhnya rambut. Hingga ke bawah dagu, sebanyak tiga kali. Ali beralih membasuh kedua tangan hingga ke siku. Kemudian mereka mengusap kepala dan kedua telinga secara bersamaan.


Ali mencuci kedua kaki hingga mata kaki, jari kaki di sela-selai menggunakan jari tangan. Setelah selesai, Ali membaca doa setelah wudhu sebagai penyempurna.


Ali mengadahkan kedua tangannya lalu mengucapkan doa. "Asyhadu alla illaha illallahu wahdahu la syarika lahu wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluhu, allahummaj'alni minat tawwabina waj'alni minal mutathahhirina,". Setelah selesai, Ali segera meraupkan kedua tangannya ke wajah sebagai tanda mengaminkan doa yang baru saja ia baca.


"S-sun, itu terlalu panjang, aku takut tidak bisa mengucapnya dengan benar," Ara akhirnya memanggil Ali dengan sebutan Sun, seperti yang di inginkan oleh suaminya.


"Coba saja dulu, nanti, kalau kamu tidak ingat. Aku bantu," Ali meyakinkan Ara bahwa gadis itu pasti bisa menghafal doa tersebut.


"Baiklah," jawab Ara singkat.


Gadis itu mengadahkan tangannya, lalu mengucapkan doa yang baru saj di ajarkan oleh Ali walau dengan terbata. Setelah selesai, dia ikut mengaminkan doa yang baru saja ia coba untuk menghafalnya.

__ADS_1


"Itu sudah bagus, Moon, aku tidak menyangka akan semudah ini mengajari kamu," Ali memuji kecerdasan istri culunnya.


"Terima kasih, Sun, bimbing aku terus ya," Ara menatap sang suami dengan senyum canggung. Tidak menyangka, Ali akan sebaik ini setelah menikah.


"Danish semakin manis, bagaimana kalau nyatanya justru aku yang semakin cinta, sedangkan Danish tidak? Apa aku akan dengan iklas melepaskan suami sholehku?" Ara bergumam dengan suara lirih. Namun, hal itu masih tertangkap oleh pendengaran laki-laki di sampingnya.


Pria itu menyembunyikan senyumannya, ternyata istrinya belum peka. Bahwa nyatanya, gadis culun itu sudah berhasil mengambil hatinya.


"Dengan segala sikapku, kamu masih belum sadar dengan perasaanku. Kamu benar-benar polos Moon," Ali berkata di dalam hatinya. Pria itu sengaja belum mengungkapkan rasa sukanya pada sang istri.


"Tentu saja, aku akan membimbing kamu, Moon, kamu istriku. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengajari kamu," Ujar Ali dengan lembut.


"Terima kasih, sudah menerima kebodohanku. Sun," Ara meneteskan air matanya karena terharu. Suaminya dengan mudah berubah sikap, dari sebelum menikah adalah laki-laki dingin. Menjadi Suami hangat, walaupun belum sepenuhnya mereka menjalankan semua hal yang pasutri lakukan.


Melihat sang istri meneteskan air mata, Ali reflek mendekat. Pria itu ingin menghapus air mata dari pipi sang istri. Namun, ketika tangan itu hampir berada di pipi, Ali segera sadar, bahwa mereka sudah mengambil wudhu.


"Moon, hapus air matamu! Aku tidak mau batal wudhu karenamu ya !" Ali mengingatkan Ara untuk segera menghapus air matanya dan berhenti menangis.


"Maaf, Sun," Ara menurut, dia menghapus air mata yang ada di pipinya.


"Kenapa aku ceroboh sekali? Menangis di hadapan Danish, kalau dia ilfil padaku. Bagaimana?" Ara menyalahkan dirinya, jangan sampai suaminya, justru menjauh.


BERSAMBUNG...


Maaf gays kalau ceritaku terkesan bertele-tele. aku belum terlalu mahir untuk merangakai cerita. Jangan bosan dan meninggalkan aku yah . Love you gays.


Thanks For Reading..

__ADS_1


_Nurmahalicious_


__ADS_2