Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Mimpi Buruk


__ADS_3

Pria yang tengah tertidur itu terkejut saat mendengar teriakan yang sangat di kenalinya itu. Dia mengerjapkan matanya berulang kali saat melihat sang istri tengah berdiri dengan tatapan marah.


Namun pria itu merasa tangan kanannya terasa berat, seperti ada yang menimpanya. Mata tajam itu melirik tangan kanannya itu guna memerika, kira-kira apa yang menjadi beban anggota tubuhnya itu.


Dia semakin terkejut saat menyadari ada kepala yang menjadikan lengannya sebagai bantal. Kalau istrinya tidak ada di ranjang, lalu siapakah yang berani menjadikan dirinya sebagai bantal empuknya.


Pria itu segera menyingkirkan seseorang yang menjadikan lengannya sebagai alat tidur itu dengan kasar. Hingga seseorang itu ikut terbangun dari tidurnya. Seorang wanita yang dulu pernah menjadi sesuatu yang spesial di hidupnya itu duduk dan menatap ke arahnya.


Wanita cantik itu tersenyum lembut, senyuman yang dulu begitu dia sukai. Tetapi itu dulu, sekarang senyuman itu tidak berarti apa-apa untuknya.


"Kau sedang apa? Kenapa tidur di kamarku?" tanya Reiner emosi.


Pria itu meraih jubah mandinya yang teronggok di lantai dan segera memakainya. Dia diam berdiri dengan menatap tajam wanita yang sudah berani naik ke ranjang miliknya.


"Sayang, kamu lupa? Semalam kamu yang mengajakku kesini," ujarnya dengan suara mendayu.


Imel yang sejak tadi diam berdiri di tempatnya kini berjalan mendekati sang suami yang tengah berdebat dengan seorang wanita yang masih saja bertahan di tengah ranjang.


"Benar apa yang di katakan wanita itu, Rei?" tanya Imel meminta penjelasan.


Reiner menggeleng keras, rasa pusing belum juga menghilang dari kepalanya. Pria itu memegang pelipis yang masih berdenyut, rasa sakit itu semakin tak tertahankan.


"Aku sama sekali tidak tahu, kenapa dia ada disini?" jelas Reiner.


"Tidak mungkin, Rei. Kalian tidur bersama, bahkan dalam keadaan tanpa busana! Kau tega sekali padaku." Imel melayangkan tamparan keras di pipi suaminya.


Melihat Reiner di tampar sang istri, wanita itu bangkit. Tubuhnya dia gulung dengan selimut tebal yang sejak tadi menjadi penutup tubuh polosnya. Wanita cantik itu meraih mini dress dan onderdilnya, segera melipir ke arah kanar mandi. Bahkan tanpa permisi pada pemilik kamar itu.


"Kau sudah berani menamparku, bahkan tanpa mendengarkan dulu penjelasanku, Imel!" hardik Reiner yang kini ikut terpancing emosi.

__ADS_1


"Kalau kau menuduhku berselingkuh dengan wanita itu, baiklah! Akan aku lakukan apa yang kamu tuduhkan." Reiner melangkah ke lemari besar miliknya yang juga berada di sebuah ruangan di dalam kamar mewah itu.


Setelah kepergian Reiner, Imel yang merasa hancur, merasa terkhianati oleh suaminya kini melempar semua bantal yang berada di ranjang, menarik sprei hingga ranjang itu terlihat sangat berantakan.


"Kamu tega, Rei." Imel luruh ke lantai dingin itu.


Dia sangat merasa hancur, suami yang dia kira sangat mencintainya begitu tega mengkhianati cinta suci mereka berdua dengan hubungan gelap dengan wanita lain.


Reiner yang sudah selesai berganti baju, berjalan tanpa menghiraukan sang istri yang tengah terduduk di lantai bersandarkan ranjang besar.


Pria berperawakan tinggi dengan tubuh kekar itu melenggang pergi, dia melangkah menuju pintu untuk segera keluar dari ruangan yang kini membuatnya begitu emosi.


Ketika dia hendak membuka pintu, bersamaan dengan wanita yang sejak tadi berada di kamar mandi tumpangan itu keluar. Dia segera memanggil Reiner untuk berhenti.


"Sayang, tunggu." Wanita itu berlari lalu bergelanjut manja di lengan pria itu.


Reiner membiarkan wanita yang asik menggandeng lengannya itu, dia sudah sangat muak dengan apa yang terjadi di ruangan itu. Imel tetap memperhatikan apa yang terjadi di tempat itu, dengan mata memerah menahan air mata yang sedikit lagi akan turun dari mata indahnya.


Saat Reiner dan wanita itu sudah keluar, Imel bangkit dan segera berlari. Wanita itu mencegat langkah Reiner dan bersimpuh di kaki pria itu.


"Plis, Rei, lepaskan dia. Kita punya Rachel yang masih membutuhkan kita berdua," mohon wanita cantik dengan air mata yang mengalir deras itu.


"Lepas, Mel! Aku sudah tidak peduli dengan apapun yang akan terjadi. Aku sudah muak dengan semua perlakuanmu!" bentak Reiner emosi.


"Ayo, Sayang!" ajak wanita itu menarik Reiner untuk melangkah pergi bersamanya.


Reiner mengikuti apa yang di ucapkan wanita itu, dia bahkan tidak peduli dengan apa yang di lakukan oleh sang istri yang tengah bersimpuh di kakinya.


Kedua manusia itu melangkah pergi meninggalkan Imel sendirian, wanita itu menangis dan meraung memanggil nama sang suami. Suami yang biasanya sangat mencintai dan menghargainya, kini justru memperlakukannya seperti sampah.

__ADS_1


"Sayang! Hei, bangun." Seseorang menggoyangkan bahu wanita yang sedang tertidur dengan gelisah. Dia bahkan berteriak memanggil nama suaminya dengan sangat lantang.


"Sayang!" panggilnya seraya mencubit hidung sang istri untuk menutup area pernapasan guna membuat wanita itu segera sadar.


Benar saja, setelah dia menutup lubang sang istri. Wanita itu terbangun akibat dari kehabisan oksigen di paru-parunya. Dia bangun dan segera terduduk membuat tangan itu terlepas dari hidung. Wanita itu berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk kebutuhan pernafasan.


Tatapan yang semula kosong ke depan, kini menoleh ke samping. Di sana sang suami tengah menatapnya dengan khawatir.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Reiner.


"K-kamu, ma-sih disini?" Imel justru kembali bertanya.


Reiner memutar bola matanya malas, pertanyaan yang di ucapkan oleh sang istri sangat tidak masuk akal. Mendapat suami di sampingnya justru terlihat kaget.


"Memangnya aku harus dimana?"


"Bukankah kamu pergi bersama ...."


"Sama siapa? Kamu mimpi apa, sih? Kenapa panggil-panggil aku sampai keringetan gitu?" tanya Reiner menyelidik.


"Aku, mimpi kamu pergi dengan wanita lain." Imel memeluk sang suami begitu erat.


Wanita itu merasa lega karena apa yang terjadi tadi hanyalah mimpi. Akan tetapi dia masih terus merasa takut, takut jika suatu saat nanti kejadian itu benar-benar menjadi nyata.


Pria tampan yang hanya menggunakan kaos polos berwarna hitam itu melepaskan pelukan keduanya, lalu terkekeh geli dengan ucapan sang istri. Mana mungkin dia pergi bersama wanita lain, kalau dunianya hanyalah tentang istri dan anaknya saja.


"Kamu tahu, Sayang? Aku berani meninggalkan seribu wanita demi mendapatkan satu gadis lugu sepertimu." Reiner menarik sang istri untuk berbaring di pangkuannya.


Di perlakukan dengan manja, Imel justru merasa tidak tenang. Walaupun mungkin apa yang terjadi padanya kini hanyalah bentuk dari rasa takutnya sendiri yang mengakibatkan dia berhalusinasi bahkan bermimpi buruk tentang suaminya.

__ADS_1


"Itu dulu, Rei. Sekarang mungkin akan berbeda," ujar Imel dengan lirih.


__ADS_2