
Mendengar ancaman Ara, Ali justru semakin mengeratkan pelukan di pinggang ramping istrinya. "Aku mau ajak kamu ke satu tempat yang spesial, Moon. Mau ya?" bisiknya dengan mesra.
Ara melirik suaminya di belakang, guna memastikan apakah Ali serius dengan ucapannya. Tangan mungilnya menyentuh tangan besar Ali dan berusaha melepaskan pelukan erat sang suami.
"Lepas, Sun! aku tidak bisa bergerak."
"Tidak mau, sebelum kamu berhenti merajuk!" ujar Ali tegas.
"Aku enggak merajuk, Sun."
Ali melepaskan pelukan setelah mendengar ucapan Ara, lalu menggandeng tangan Ara untuk melangkah menuju kamar mereka. Ara tersenyum tipis ketika melihat cara Ali membujuknya. Suaminya sudah mulai mencairkan sikap dinginnya.
Ketika sudah sampai di kamar, Ali menuntun Ara untuk duduk di ranjang. Ara hanya mengikuti apa yang di lakukan oleh Ali. Setelah mendudukan Ara di ranjang, Ali duduk di sebelah sang istri.
"Kamu, mau tidur dulu atau kita keluar sekarang?" tanya Ali dengan lembut.
"Aku mau tidur dulu aja ya, aku capek banget. Semalam enggak tidur," jawab Ara pelan.
__ADS_1
Ali tertawa pelan ketika melihat ekspresi Ara yang memang terlihat lelah, bagaimana tidak lelah. Setelah menangkap rombongan b*gal dan langsung di hajar oleh Ali di atas ranjang.
"Ya udah, kamu tidur dulu, Moon. Aku mau keluar sebentar ya," pamit Ali pada istrinya.
Setelah Ara menganggukkan kepalanya, Ali segera beranjak. Berjalan keluar dari kamar. Namun, baru saja memegang gagang pintu, Ara memanggil Ali.
"Sun, kamu sarapan dulu sebelum pergi," teriakkan Ara menghentikan langkah Ali, Ali menoleh dan menganggukkan kepalanya sebelum melanjutkan membuka pintu untuk keluar dari kamar.
*****
Reiner mengendap-endap di dalam satu bangunan megah bernuansa gold. Segarang apapun dirinya di luar, di dalam mantion miliknya dia bukan apa-apa. Pria blasteran indonesia-korea itu terlalu bucin pada sang istri, Imelina Afifah, wanita yang dulu menjadi sekretaris pribadi di kantor miliknya.
Namun, saat dia sampai di depan pintu, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam. Muncul sosok yang sangat di takuti oleh Reiner selain Mami Jane dan juga Aracelia.
Reiner menundukan pandangan ketika melihat sang istri menatapnya dengan horor.
Imel melangkah maju, sedangkan Reiner melangkah mundur. Dia sudah sangat hafal semarah apa istrinya saat ini. Imel sangat murka saat dirinya tidak pulang ke rumah dan sama sekali tidak mengabarinya.
__ADS_1
"Bagus ya, sekarang sudah semakin berani rupanya? kenapa tidak usah pulang saja sekalian!" ujar Imel dengan suara lembut, namun sangat menakutkan di telinga Reiner.
Reiner menerbitkan senyum kaku, masih dengan melangkah mundur karena sang istri masih belum menghentikan langkah majunya. Reiner melirik segala arah, mencari alasan apa yang kiranya akan di terima oleh Imel. Namun, hingga dirinya terpojok di dinding, Reiner sama sekali tidak menemukan alasan yang cocok untuknya.
Imel mengangkat tangannya dan menaruhnya di dada bidang suaminya, lalu mengelus lembut dada Reiner. Imel mendekatkan bibirnya di telinga suaminya dan berbisik dengan mesra.
"Kenapa tidak mengajakku ke rumah Mami? apa lagi disana ada Ara. Kamu jahat sekali, Sayang!" bisikan mesra namun sangat membuat Reiner gelisah. Biasanya, jika seperti ini, Imel tidak akan mau di sentuh selama satu minggu full.
"Aku gantung diri sajalah!"
Bersambung...
Thanks For Reading...
Maaf guys, aku enggak update selama beberapa hari. Masih menikmati suasana lebaran. hehe
Minal aidzin wal faizin gays, dari Aracelia, Danish, Imel dan Reiner. Othor juga deng, hehe
__ADS_1
_Nurmahalicious_