Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Ngidam tumis kangkung


__ADS_3

Ara yang entah kenapa hari ini moodnya terasa buruk, ketika mendengar permintaan suaminya justru terpancing emosi. Wanita itu tidak menggubris ucapan suaminya, dan malah duduk di kursi. Tangannya bahkan meraih piring yang berisi roti bakar jatah sarapan pagi sang suami.


Wanita itu dengan santainya melahap roti bakar buatannya sendiri tanpa memperdulikan sang suami yang menatap bingung pada dirinya.


"Moon, kamu tidak dengar?" tanya Ali dengan memperhatikan sang istri yang tetap melahap roti bakar dengan menggunakan tangan langsung.


"Aku dengar," jawabnya acuh.


Ali memicingkan sebelah matanya, biasanya sang istri akan menuruti permintaannya tanpa menunggu apapun. Akan tetapi sekarang wanita itu justru seakan mengacuhkannya.


"Lalu kenapa malah makan? Kamu tidak mau membuatkan aku sarapan?"


"Aku sudah membuatkannya, dan kamu menolak, jadi aku makan saja sendiri roti ini. Kamu kalau lapar, masak sendiri atau sarapan saja di kantor," jawabnya dengan santai.


"Lagi pula, kamu itu sudah jadi Dirut. Kenapa malah mau makan tumis kangkung?" lanjut Ara dengan santai.


"Memangnya kenapa? Kamu juga Mafia makan kangkung! Apa salahnya ingin makan kangkung?"


"Ya sudah, masak sendiri sana!" seru Ara yang merasa kesal karena sang suami membawa-bawa profesinya sebagai seorang mafia.


Wanita itu melanjutkan makan roti bakar yang seharusnya adalah jatah sarapan sang suami setelah menghabiskan jatahnya sendiri. Ara kali ini benar-benar berbeda. Terlihat rakus saat melahap makanannya.

__ADS_1


Ali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 7.30, itu artinya waktu bekerja sudah akan tiba. Pria itu memutuskan beranjak dari duduknya, dengan perasaan kesal karena di acuhkan oleh istrinya.


Walaupun pria itu masih kesal, dia tidak melupakan kegiatan rutin sebelum ke kantor. Yaitu mencium kening sang istri, saat Ali mendekat dan hendak mencium keningnya, Ara justru menghindar.


Semakin kesal saja Ali sekarang, pria itu meraih tas kantornya masih dengan tatapan datar pada istrinya yang hari ini bersikap aneh.


"Yaudah, aku berangkat dulu. Assalamualaikum," pamit Ali frustasi menghadapi keanehan istrinya.


"Waalaikumsalam," jawab Ara tanpa menatap sang suami.


Ali berjalan keluar dari rumah yang mereka tinggali berdua. Masih dengan keadaan kelaparan, pria itu sampai di depan pintu. Disana sudah ada mobil yang terparkir. Di samping pintu mobil, Arham berdiri dengan tegak menunggu kedatangannya.


Ali segera masuk ke dalam mobil begitu Arham membuka pintu mobil bagian penumpang. Pria itu bahkan mengabaikan sapaan dari sekretaris barunya.


Arham mengitari mobil lalu masuk ke bagian kemudi. Pria yang kini menjadi sekretaris Ali di kantor Gunawan Sentosa itu mengendarai mobil dengan santai. Keselamatan Direktur utama tetap harus di utamakan.


"Arham," panggil Ali dengan nada datar.


Pria yang di panggil oleh Ali menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada jalan di depannya. "Ya, Tuan."


"Kau sudah beristri?"

__ADS_1


Pertanyaan Ali hanya di jawab gelengan kepala oleh Arham. Selain usianya yang masih muda, dia memang tidak di ijinkan memiliki pasangan lebih dulu oleh orang tuanya. Mereka meminta Arham untuk fokus pada pendidikan dan karirnya dulu.


"Aku bingung dengan istriku itu, Ham,"


"Memangnya Nona kenapa, Tuan?" tanya Arham seraya melirik spion tengah.


"Biasanya istriku itu selalu masak apapun yang aku mau, tetapi hari ini malah tidak masak apa-apa. Hanya membuat dua roti bakar, itupun dia makan sendirian!" keluh Ali menyandarkan punggungnya di sandaran mobil.


"Memangnya anda mau makan apa, Tuan? Biar saya Carikan di cafe atau restoran terdekat."


"Aku ingin makan tumis kangkung, Ham, tetapi hanya buatan istriku!"


Mendengar ucapan Ali barusan, Arham menahan tawa. Bosnya itu uring-uringan hanya karena ingin makan masakan sang istri yang berupa tumis kangkung. Benar-benar pasangan yang berbeda dari yang lainnya.


"Kau mentertawakan ku, Ham!" Ali langsung bangkit dan menatap tajam sekretarisnya.


"T-tidak, Tuan. Hanya saja, anda seperti wanita yang sedang mengalami masa ngidam," jawab Arham tanpa filter.


"Apa? Ngidam!" seru Ali dengan suara kencang hingga Arham terkejut dan menutup kedua telinganya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2