
Ara mengepalkan tangannya. Geram dengan ulah Clarissa. Jika urusannya dengan dirinya kenapa melibatkan orang tua. Ara hanya khawatir Daddy Haris akan salah paham dengan suaminya.
"Baiklah, terima kasih informasinya. Ndri tolong titip Kak Al, jaga dia baik-baik." Ara membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar.
Andri memandangi Ara hingga hilang dari pandangannya. Andri sangat merasa miris dengan hubungan yang terjadi antara Tuannya dengan gadis mungil yang baru saja keluar dari mantion dengan langkah tergesa. Andri yakin gadis itu ingin cepat menyelesaikan urusannya.
"Maaf, Nona." gumam Andri.
Ia merasa bersalah karena sedikit banyak dirinya juga terlibat dengan rencana yang di buat oleh wanita licik bernama Clarissa. Seharusnya dia tidak termakan oleh bujukan wanita itu.
"Agh! sial. Kenapa mudah sekali termakan bujukan Clarissa? harusnya aku lebih fokus pada rencanaku sendiri!" teriak Andri meninju dinding di sebelahnya.
*****
Ara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sebenarnya jika hal ini di ketahui lebih awal, dia bisa saja membobol akun milik Daddy Haris untuk menghapus vidio tadi. Akan tetapi Ara yakin Daddy Haris pasti sudah melihat isi rekaman vidio itu.
"Bagaimana bisa aku sampai kecolongan! wanita itu ... benar-benar keterlaluan. Harusnya sedari awal aku lebih memperhatikan dia." Ara memukul stir mobilnya.
Ara menuju mantion Daddy Haris dengan perasaan was-was. Bagaimana jika Daddy Haris akan marah dan menyuruhnya berpisah dengan suaminya?
Setelah tiga puluh menit perjalanan Ara sampai di mantion besar milik Daddy Haris. Penjaga yang sangat hafal dengan mobil milik Nona Mudanya segera membuka gerbang.
Saat sudah memarkirkan mobilnya, Ara segera keluar lalu berlari ke dalam. Dia bahkan lupa bertanya pada penjaga tentang keberadaan Tuan Haris.
"Dad," panggil Ara ketika sampai di kamar milik Daddy Haris.
Hening, tidak ada jawaban. Ara melangkah ke ruang kerja Daddy Haris, siapa tahu Daddy-nya ada di ruangan kerja. Namun saat Ara masuk, di dalam kosong. Tidak ada Daddy Haris di sana.
"Daddy di mana, sih?"
Melihat pintu ruangan kerja Tuan Haris terbuka, salah satu maid mendekat untuk mengecek siapakah yang berada di sana? Dengan rasa sedikit takut jika itu maling karena Tuan Haris masih berada di luar negeri.
"Jangan-jangan maling," celetuk maid itu.
Padahal itu hanya pikiran konyol maid itu. Mana mungkin mantion yang di jaga ketat oleh beberapa penjaga terpercaya yang di turunkan oleh Reiner bisa di kalahkan dengan mudah.
__ADS_1
Dengan membawa sebuah sapu ia berjalan mendekat ke ruangan itu. Bersamaan dengan Ara yang keluar dari pintu ruangan tersebut. Karena terkejut maid itu menganggkat sapunya dengan mata terpejam untuk melindungi diri.
"Bi Tika, kenapa sapunya di angkat?" tanya Ara ketika sapu yang di pegang oleh maid bernama Tika itu melayang di udara. Beruntung sapu itu belum landing ke tubuh Ara.
Mendengar suara yang tidak asing dan di yakini adalah suara Nona Mudanya. Maid itu membuka mata dan semakin terkejut. Bagaimana jika barusan ia sampai memukul Nona Mudanya dengan sapu.
"Maaf, Non. Bibi kira maling tadi." menurunkan sapu.
Ara sedikit merasa konyol dengan ucapan maid itu. Mana mungkin maling bisa masuk mantion dengan mudah? baru masuk gerbang saja nyawa mereka bisa melayang di tangan beberapa penjaga kepercayaan Reiner.
"Bi Tika, ada-ada saja. Mana mungkin maling berani masuk ke mantion ini?" ujar Ara dengan senyum tipisnya.
"Eh, iya, mana mungkin maling berani masuk kalau banyak penjaga berbadan kekar dan bengis di depan sana," Celetuk Bi Tika seraya menepuk keningnya.
Ara tertawa karena ulah maid di mantion Daddy Haris. Maid bernama Tika ini memang seorang wanita paruh baya yang sudah bekerja di sana sejak Ara masih kecil. Wajar jika Ara dan Bi Tika bisa bicara tanpa rasa canggung atau jarak sekalipun.
"Daddy mana, Bi?" tanya Ara ketika sudah selesai dengan tawanya.
"Tuan Haris keluar Negri, Non."
Biasanya Daddy Haris selalu memberi kabar tentang aktifitasnya. Dari kecil mereka memang jarang bersama karena Daddy Haris yang terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya. Beruntung Ara juga memiliki Papi Adit, Mami Jane dan Reiner sebagai keluarga angkatnya.
"Tuan ke Turki, Nona. Tuan baru saja berangkat tadi pagi," ujar Bi Tika memberi informasi.
"Baiklah, terima kasih, Bi. Ara pamit pulang dulu ya?"
Ara sedikit memberi pelukan pada maid itu karena dialah yang menjaga dan menemani dirinya sebelum adanya keluarga Aditia yang tulus mencintai dirinya hingga saat ini.
"Iya, Non. Hati-hati di jalan,"
Setelah berpamitan pada Bi Tika, Ara keluar dari mantion megah itu. Kali ini dia akan menyambangi markas Deadly Scorpion untuk mengecek ujian para pelaku kejahatan yang katanya ingin bertaubat. Sekaligus memerintahkan Dean untuk mengurus masalah vidio tadi.
Ara kembali masuk ke dalam mobilnya, lalu bergegas untuk menuju markas Deadly Scorpion. Masih dengan memacu mobilnya sendirian membelah jalanan yang sudah lumayan sepi karena hampir masuk tengah malam.
Tidak ada sedikitpun ketakutan yang di tunjukan oleh gadis itu, dari hantu hingga penjahat. Ara sama sekali tidak takut dengan mereka. Yang ada di pikiran Ara saat ini adalah menyelesaikan masalah vidio itu.
__ADS_1
Ara sampai di satu bangunan luas dan megah yang terdapat di pinggiran kota. Markas Deadly Scorpion memang terletak hampir di hutan belantara. Mereka tidak mungkin bertempat di tengah kota, apalagi aktifitas mereka adalah layaknya kebanyakan mafia jika orang tersebut tidak tahu menahu tentang visi dan misi Deadly Scorpion.
Setelah gerbang terbuka karena sensor otomatis yang mengenali mobil miliknya. Ara memarkirkan mobilnya di antara jejeran mobil mewah di sana. Di sana Ara juga melihat mobil milik Reiner yang terparkir tidak jauh dari tempatnya memarkirkan mobil miliknya.
"Kak Rei di sini?" gumam Ara lirih.
Beberapa penjaga di sana mendekat saat melihat Nona Muda yang sangat berpengaruh di markas itu. Gadis dengan nama Ara yang kalem, lembut dan lucu. Namun berubah mengerikan ketika menjelma sebagai Nona Ace.
"Selamat datang, Nona." sapa beberapa penjaga itu.
"Hem," jawab Ara singkat.
Gadis itu segera masuk ke dalam markas lalu berjalan menuju ruangan Dean untuk menyelesaikan masalahnya. Ara masuk tanpa mengetuk pintu dan mendapati Dean yang sedang tertidur pulas di sofa empuk ruangan itu.
"Anak ini, pasti kelelahan karena semua kerjaan yang aku bebankan padanya,"
Ara mendekat lalu dengan perlahan membangunkan Dean, walaupun derajat mereka berbeda. Ara sama sekali tidak pernah kasar pada laki-laki remaja yang selalu setia padanya sejak kecil.
"De, bangun." Ara menyentuh bahu Dean dan sedikit menggocangnya agar Dean cepat bangun.
Dean adalah adik kandung Ferry yang sejak kecil sudah sering di ajak Ferry ke markas karena mereka hanya hidup berdua. Karena sering melihat apapun aktifitas di markas, akhirnya Dean juga pandai dalam segala hal yang di geluti oleh sang Kakak.
Kemampuan Dean hingga membuat Reiner menunjuknya untuk menjadi tangan kanan Aracelia sang adik satu-satunya. Dengan senang hati Dean menuruti perintah dari Tuan Mudanya.
"Eh, Nona Ace." Dean Reflek bangun karena terkejut dengan kehadiran Nona Mudanya.
Bersambung...
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_
Mampir kuy gays ke cerita bestie othor ini. Pokoknya di jamin syuka deh. Karya Kak Julian Fajar dengan judul Sistem Kekayaan Pemulung.
__ADS_1
Zero nama yang diberikan oleh Mak Salmah, wanita yang menemukan bayi merah diantara onggokan sampah. Dia dibesarkan, di perkampungan kumuh, tempat para pemulung tinggal. Tubuhnya yang bulat pendek, karena pertumbuhan yang tidak sempurna membuat dirinya dipanggil si kerdil oleh teman-temannya. Seiring berjalannya waktu, Zero tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat baik dan menjadi tulang punggung keluarga. Saat Zero sedang mengais sampah, dia menemukan sebuah ponsel jadul yang memberinya berbagai misi. Dari misi-misi itu Zero bisa menolong banyak orang dan akhirnya akan membuat Zero menjadi seorang yang kaya raya hingga bisa mengentaskan kemiskinan di sekitar tempat tinggalnya.