
Daddy Haris dan Aracelia menoleh ke arah Reiner yang duduk di kursi dengan tangan bersedekap di dadanya. Dengan santainya laki-laki itu mengambil keputusan tanpa berdiskusi dulu dengan Ara.
"Tidak ada penolakan," ujar Reiner tanpa mau mendengarkan jawaban dari kedua orang di hadapannya.
"Tapi Ara setuju, Ara tidak mau kalau kejadian ini sampai terulang lagi, Dad."
Daddy Haris hanya membuang nafas kasar ketika mendengar keputusan kedua anaknya yang sudah pasti tidak bisa ia tolak. Ara dan Reiner memiliki sifat dan karakter yang sama. Sama-sama keras dan tidak bisa di tawar jika sudah memutuskan sesuatu.
Terpaksa pria paruh baya itu menyetujui keputusan Reiner dan Ara atas dirinya. Lagi pula, mereka melakukan ini demi kebaikan bersama juga.
"Okelah,"
"Ya sudah, Daddy istirahat yah. Ara masih ada urusan," ucap Ara berpamitan.
"Urusan apa di negara orang? memang kau punya perusahaan disini?" tanya Daddy Haris menahan Ara yang akan pergi.
Bukan tanpa Alasan Daddy Haris menahan sang anak untuk pergi kali ini. Dia sangat yakin bahwa Ara kemungkinan akan mengurus persoalan yang baru saja terjadi padanya.
__ADS_1
Ara mendengus kesal ketika sang Daddy justru mengolok dirinya. "Rencananya, Ara mau bikin perusahaan gede di negara ini, Dad. Biar makin kaya lah anak Daddy ini," celetuk Ara kesal.
"Dasar tamak!" Daddy Haris mencubit lengan putrinya.
"Sakit, Dad." Ara mengelus bekas cubitan sang ayah dengan bibir komat-kamit.
Melihat bibir sang putri yang komat-kamit tidak jelas. Daddy haris yang merasa gemas lalu meraup bibir Ara untuk menghentikan kegiatan anaknya yang sangat sudah ia hafal sejak kecil. Ara tidak pernah berani marah ketika ia menghukumnya, sejak kecil Ara hanya akan merajuk saat ia di hukum atau di marahi.
"Daddy," rengek Ara manja kepada Daddy Haris.
"Kau lucu, Ace. Kelakuanmu sejak kecil tidak berubah, suka komat-kamit tidak jelas kaya mbah dukun baca mantra," Reiner mengecek kebiasaan adiknya yang tidak berubah.
Ruangan rawat inap mewah yang di tempati oleh Daddy Haris kini hangat karena tawa dan canda ketiga manusia yang sangat saling menyayangi itu. Ara bahkan lupa tujuan utamanya untuk menemui Clarissa. Wanita ular yang menyebabkan sang ayah berada di Rumah Sakit.
Ketika sedang asik bergurau, tiba-tiba ponsel Reiner berdering. Saat di lihat, Ferry yang menghubunginya. Reiner berpamitan kepada Daddy Haris untuk keluar dari ruangan itu, demi kenyamanan Daddy Haris.
"Dad, Rei angkat telfon sebentar yah." Reiner menyentuh lengan Daddy haris lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Saat sudah berada di luar, Reiner segera menekan tombol hijau di ponselnya lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Kenapa, Fer?" tanya Reiner begitu telfon terhubung.
"Tuan, Clarissa lebih baik kita eksekusi di sini atau di Indonesia saja?" tanpa basa-basi Ferry menyampaikan pertanyaannya.
"Kita tunggu keputusan dari Ace," jawab Reiner tanpa berpikir apapun.
Menurut Reiner, Clarissa memang urusan Ara. Walaupun dia juga sangat ingin melenyapkan perempuan ular itu, tetapi dia tidak bisa mendahului hak sang adik yang memang mempunyai urusan dengan wanita licik itu.
"Tapi, Tuan, saya mempunyai ide untuk memberikan pelajaran kepada wanita jal*ng itu," Kali ini Ferry begitu ngotot dengan keinginannya sendiri.
"Pelajaran apa?" tanya Reiner heran. Tidak biasanya Ferry membantah perintahnya, selama ini Ferry selalu menuruti apapun keputusan yang di ambil olehnya.
"Kita biarkan anak buah kita yang belum bertaubat untuk memberikan dia pelajaran setimpal," ucapan Ferry semakin membuat Reiner kebingungan.
Ferry biasanya selalu tho the poin, tetapi kali ini dia seperti ingin bermain teka-teki dengannya. Reiner yang kesal dengan tingkah aneh tangan kanannya ini justru mematikan panggilan telfon secara sepihak.
__ADS_1
Reiner beranjak, berniat kembali masuk ke dalam ruangan Daddy Haris. Namun baru beberapa langkah, Ferry kembali menghubunginya. Reiner yang kesal tanpa pikir panjang menolak panggilan itu, akan tetapi dasar Ferry yang terlalu percaya diri bahwa Reiner tidak akan menghukumnya dengan berat, masih tetap menghubungi Reiner berkali-kali.
"Apa?" bentak Reiner yang sudah kehilangan kesabaran.