
Papi Adit dan Mami Jane saling pandang, lalu menerbitkan senyum di bibir keduanya. Suami Ara ini, memang laki laki sopan. Tidak salah, Asila ingin laki-laki itu menjadi pasangan sahabatnya.
"Tentu saja, boleh, Ali. Ini mantion Ara, pastinya juga milik kamu. Kamu bebas melakukan apapun disini," jawab Mami Jane lembut, lalu tersenyum kepada menantunya itu.
"Kamu, mau sholat di mushola, atau di kamarku saja, Danish?" tanya gadis berkacamata itu.
"Di mushola saja, kamu mau ikut, Moon?" tawar Ali pada sang istri.
"Eem, apakah boleh? Aku bahkan belum tau cara berwudhu," jawab Ara dengan menundukkan kepalanya.
"Maaf ya Ali, Daddy Haris dulu sangat sibuk. Ara juga lebih sering disini, sedangkan kami, bukan orang muslim. Jadi tidak pernah mengajarkan apapun pada Ara, tentang Agama," ujar Papi Adit merasa bersalah.
Melihat mertuanya menyalahkan dirinya, Ali segera menjawab, untuk menenangkan kedua mertuanya.
"Tidak apa-apa, Pi, justru ini akan jadi kebanggan untuk Ali. Karena Ali harus membimbing Ara dari nol, Ali tahu, itu tidak mudah. Tapi Ali akan berusaha menjadi suami yang baik," jelas Ali membuat kedua orang paruh baya di depannya, memandang Ali dengan perasaan bahagia. Putri kesayangannya, tidak salah dalam memilih pasangan.
Sedangkan Ara, mendengar ucapan Ali. Seketika dia menoleh ke arah Ali, apakah yang di ucapkan Ali adalah sebuah ketulusan. Atau hanya sebuah perkataan agar orang tuanya tidak memandang remeh dirinya.
"Kamu, tulus, atau hanya Modus. Danish?" batin Ara bertanya.
"Kamu jadi ikut, Moon?" tanya Ali memandang Ara dengan lembut.
"Eem, apa tidak mengganggu kamu?" Ara masih merasa sungkan terhadap perhatian yang Ali berikan.
"Tentu saja, tidak, Moon. Kamu tanggung jawabku, bukan hanya di dunia. Tapi di akhirat juga," jelas Ali dengan sabar.
"Baiklah, tapi, mukenahku di pakai tidak apa-apa? Itu kan baru beli, Danish?"
"Tidak apa-apa, kamu masih belajar. Nanti, setelah pulang. Kita cuci biar lebih bersih," ucap Ali menjawab keraguan Ara.
"Ya sudah, aku ambil dulu di mobil ya?" pamit Ara pada suaminya. Namun, Ali justru melarang. Bisa gagal kejutan yang akan ia berikan, jika Ara yang mengambil sendiri mukenah dari bagasi mobil.
__ADS_1
"Biar aku saja, Moon," cegah Ali menghentikan kegiatan Ara yang sudah hampir melangkah.
Ali berdiri, lalu melangkah dan menyuruh Ara untuk duduk kembali. Dia tidak mau, kalau rencana yang ia buat akan gagal total.
"Kamu, disini saja. Bersama Mami dan Papi, biar aku yang ke bawah," Ali melanjutkan langkahnya untuk turun ke bawah, guna mengambil mukenah milik Ara.
Ara kembali duduk di sofa, karena percuma saja jika berdebat dengan Ali. Pria itu mempunyai sifat tidak mau mengalah.
"Sayang, Ali mesra sekali ya, manggil kamu dengan sebutan Moon. Ih, so sweet sekali, Mami jadi iri," goda Mami Jane pada putri kesayangannya.
"Mami, seperti tidak pernah muda saja !" sela Papi Adit dengan nada kesal.
"Ya ampun Pi, kenapa kesal seperti itu. Mami 'kan, hanya menggoda putri kita. Dia kan baru menikah," Mami Jane beralih menggoda suaminya.
Ali membuka bagasi mobil, lalu mengambil goody bag berwarna kuning. Pria itu sempat tersenyum ketika melihat setumpuk goody bag miliknya. Setelah itu menutup kembali bagasi mobil, dia segera kembali ke tempat Ara dan kedua mertuanya berada.
Melihat Ali datang, Ara segera berdiri. Lalu melangkah mendekat pada suaminya. Setelah mereka hanya berjarak satu langkah, mereka berhenti.
"Ini, mukenahmu," Ali menyodorkan goody bag berisi mukenah milik Ara.
Ara menerima goody bag yang di berikan oleh Ali, lalu menaruhnya di sebuah meja dekat tempat untuk berwudhu.
"Aku, tidak mengerti cara berwudhu Danish," ujar Ara ketika Ali sudah menyalakan kran air. Mendengar ucapan Ara, Ali mematikan kembali kran air yang sudah menyala.
Ali menatap Ara dengan perasaan kasihan, kenapa gadis seperti Ara sama sekali minim ilmu agama.
"Biar aku jelaskan dulu, pengertian Wudhu. Kamu dengarkan baik-baik ya," Ali berkata dengan lembut.
Setelah melihat Ara menganggukkan kepalanya, sebagai tanda Ara akan mencerna pengajaran dari sang suami. Ali segera menjelaskan tentang pengertian berwudhu.
"Wudhu, pengertian menurut bahasa kata wudhu berasal dari kata wadha'ah yang artinya hasan, baik, bagus, dan bahjah yang berarti indah atau elok. Wudhu adalah salah satu cara yang di gunakan umat muslim, untuk mensucikan anggota tubuh menggunakan air. Sedangkan menurut istilah fiqih, wudhu adalah cara untuk menghilangkan hadats kecil, dan merupakan syarat sahnya sholat," Ali menjelaskan dengan detail tentang Wudhu.
__ADS_1
Ara memperhatikan dan mencoba memahami, penjelasan yang di berikan oleh Ali. Namun, karena ada yang mengganjal di pikirannya. Ara memberanikan diri untuk bertanya.
"Jika kita berwudhu menggunakan air, lalu, bagaimana jika kita berada di tempat yang tidak ada air?" tanya Ara dengan berani.
Ali tersenyum lembut, ternyata istrinya cukup pintar dalam menanggapi pelajaran yang ia ajarkan.
"Ada beberapa kondisi yang membuat, kita, umat muslim tidak melakukan wudhu, sebelum mendirikan sholat. Contohnya, seperti saat kita ada di perjalanan jauh dan tidak ada tempat beribadah, atau kita berada di tempat yang kekurangan air. Di saat seperti itu, Allah memberi kita keringanan untuk mengganti wudhu dengan tayammum. Yakni, mengganti Air dengan pasir atau debu," Ali dengan sabar menjelaskan semua yang memang ingin di mengerti oleh istrinya.
Mendengar ucapan Ali, Ara semakin mengerutkan keningnya, gadis itu bingung. Kenapa bersuci menggunakan pasir dan debu. Bukankah itu justru menjadi kotor.
"Tapi, Danish, bagaimana bisa kita bersuci menggunakan pasir dan debu? Bagaimana caranya?" Ara membrondong Ali dengan beberapa pertanyaan.
Ali semakin tersenyum lebar ketika mendengar respon dari Ara, gadis itu cukup krisis juga dalam belajar.
"Kita belajar itu, nanti. Setelah kamu paham tentang bab berwudhu. Sekarang perhatikan aku berwudhu ya?" Ali memberi komando untuk sang istri agar lebih memperhatikan gerakannya.
Lagi- lagi Ara menganguk tanda mengerti. Ali menyalakan kran air, Ketika Ali akan mempraktekkan gerakannya, dia teringat. Belum menjelaskan apa saja rukun wudhu pada Ara. Pria itu segera mematikan lagi kran air yang sudah menyala dengan deras.
"Ada apa lagi, Danish?" Ara bertanya karena bingung, Ali belum mencontohkan gerakan apa saja untuk berwudhu, tetapi malah mematikan aliran airnya.
"Aku lupa, Moon. Aku belum menjelaskan padamu apa saja rukun berwudhu," Ali menjawab dan tersenyum manis.
Ara terpaku dengan senyuman yang Ali terbitkan, dari bibir tipis berwarna pink itu.
"Kenapa ya, sekarang, dia semakin sering tersenyum?" Ara hanya berani bertanya pada dirinya di dalam hati.
BERSAMBUNG...
Kalau ada salah, tolong beri aku kritik dan saran ya gays. Aku kan masih author baru, tapi, jangan bully aku ya..
Thanks For Reading...
__ADS_1
_Nurmahalicious_