
Gadis berpakaian serba hitam dengan rambut yang di kuncir ke atas menunjukan senyum sinisnya. Ara benar-benar tidak menyangka Aldev masih saja mencampuri urusannya.
"Kamu terkejut dengan kedatanganku, Kakak?" tanya Ara dengan suara lembutya.
Aldev melangkah untuk mendekati wanita yang sejak limabelas tahun yang lalu sudah menempati tahta tertinggi di hatinya. Mungkin sebagian orang menyangka cinta yang ia miliki adalah sekedar cinta m*nyet.
Namun, Aldev berhasil menjaga posisi Ara hingga saat ini di hatinya. Walaupun Ara sama sekali tidak pernah membalas perasaannya.
"Bee ...."
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi!" bentak Ara sebelum Aldev menyelesaikan ucapannya.
Pria berbadan tinggi dengan badan kekar itu menghentikan langkah setelah mendengar peringatan yang di ucapkan oleh gadisnya. Aldev mematung dengan tetapan sayu, Kecewa? tentu saja. Ara menolak panggilan sayang yang di berikan padanya sejak lima belas tahun yang lalu.
"Kenapa? kenapa tidak boleh?" tanya Aldev dingin.
"Karena aku sudah bukan siapa-siapa!"
"Tidak! kamu masih tetap lebah imutku." ujar Aldev dengan tegas.
Mendengar perkataan Aldev, Ara semakin merasa geram. Pria itu masih saja bertingkah seperti dulu. Padahal, Ara sudah pernah menegaskan bahwa hubungan mereka tidak akan pernah berubah.
"Cih! aku muak sekali dengan panggilan itu." Ara menarik nafas dalam-dalam.
"Sudah aku peringatkan, jangan pernah campuri urusanku lagi! apa kamu sama sekali tidak paham dengan ucapanku?" lanjutnya.
Ara memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam udara dan membuangnya kasar. Sebenarnya Ara sama sekali tidak tega melakukan hal ini pada Aldev. Pria yang sejak kecil dulu selalu menjaga dirinya selain Reiner.
Hanya saja perasaan Ara tidak sama dengannya, Ara tidak pernah memiliki perasaan cinta pada Aldev. Apa lagi setelah mengetahui Aldev menekuni pekerjaan yang di wariskan oleh sang ayah.
"Kenapa kamu berubah, Bee? ini bukan kamu yang dulu," tanya Aldev lirih.
"Setiap orang pasti akan berubah, Kan? kamu-pun sama. Kamu bukan Kak Al yang aku kenal dulu!" Kata-kata Ara barusan sangat mengganggu di telinga Aldev.
Ara masih memanggilnya dengan sebutan Kak Al, namun bukan untuk dirinya yang sekarang. Ara membandingkan dirinya dulu dan sekarang. Aldev sadar, ini memang salahnya yang memilih meneruskan warisan yang di berikan oleh ayahnya.
"Aku masih Kak Al yang dulu, Bee. Aku tidak pernah mengubah sedikitpun perasaanku untuk kamu! kamu yang berubah setelah mengenal laki-laki lemah itu." jelas Aldev dengan suara tercekat.
__ADS_1
Ara berusaha menetralkan perasaan yang sudah di kuasai emosi. Dia tidak mau terlalu menyakiti perasaan pria di hadapannya. Akan tetapi Aldev selalu memancing emosinya. Pria itu masih saja tidak paham dengan apa yang menjadi alasan penolakan cinta yang ia lakukan.
"Kamu menyalahkan Danish atas semua yang terjadi pada kita? aku tidak menyangka kamu sepicik ini!" bentak Ara menatap nyalang pada Aldev.
"Lalu, aku harus menyalahkan siapa? bukankah kamu berubah sejak lima tahun yang lalu?"
"Menyalahkan siapa? bukankah sudah aku jelaskan tentang perasaanku! aku hanya menganggap kamu Kakak, dan aku kecewa dengan jalan yang kamu ambil!" jelas Ara mencoba memberi pengertian pada pria di hadapannya.
Flashback On
Lima tahun yang lalu Ara yang masih beranjak dewasa dengan usia 19 Tahun sedang berdiri di satu taman kota. Di sana dia menuruti janji pada pria yang sangat dekat dengannya selain Reiner sang kakak.
Di bawah langit cerah karena sinar bulan dan bintang. Di tengah gemerlap lampu taman yang berwarna-warni. Ara tengah kesal karena menunggu seorang pria yang selalu saja terlambat dari jam yang di sepakati.
"Selalu saja molor, keterlaluan! Membuatku menunggu sendirian di gigit nyamuk," gerutu gadis itu seraya mengambil ponselnya.
Saat sedang fokus dengan ponselnya, tiba-tiba sepasang tangan kekar melingkar dengan erat di kedua mata indah gadis itu. Ara paham siapa pelaku penutup matanya. Siapa lagi kalau bukan Kak Al yang terlalu menyayanginya.
"Tebak siapa?" tanya pria itu dengan suara yang ia samarkan.
"Kak Al," tebak Ara dengan yakin.
Pria di belakang mend*sahkan nafas kesal. Ara selalu saja bisa menebak dengan benar, walaupun sebenarnya hati pria itu merasa bahagia karena Ara begitu hafal dengan dirinya.
"Agh! kamu selalu saja bisa menebak dengan benar." omelnya frustasi.
Ara tertawa keras, gadis itu selalu bisa membuat mood Aldev kacau karena kejutan yang di berikan gagal total. Bagaimana dia tidak hafal dengan Aldev jika selama ini yang berani melakukan kekonyolan itu hanya dia saja?
"Ha-ha, Kak Al aneh sekali. Bagaimana aku tidak selalu benar menebak kalau Kak Al selalu memakai parfum itu."
Ara sangat hafal dengan aroma tubuh Aldev, karena parfum yang di pakai Aldev adalah hasil pilihan Ara sendiri. Saat itu Aldev yang masih hobi gonta-ganti parfum membuat dirinya sangat kesal dan berakhir membelikan Aldev parfum khusus selera Ara.
"Ketawa aja terus, Bee! aku kesal sekali denganmu." rajuk Aldev seraya melangkah ke sebuah kursi taman di dekatnya.
Ara mengejar langkah Aldev, gadis itu bergelanjut manja di lengan pria kesayangannya selain Reiner. Mereka berdua mendudukkan diri di kursi taman, Ara tidak pernah merasa canggung saat melakukan hal itu pada Aldev karena kebersamaan mereka terjalin sedari mereka kecil.
"Iya, iya, lain kali Ara tidak akan menebak dengan benar. Ara pura-pura tidak tahu saja ya?" Ara merayu Aldev agar pria itu tidak melanjutkan acara merajuknya.
__ADS_1
Aldev mengelus kepala Ara lalu dengan sengaja merusak tatanan rambut Ara hingga membuat Ara menjerit. Susah payah dirinya berdandan malam ini dan malah di buat berantakan oleh Aldev.
"Agh, Kak Al. Kenapa di berantakin sih?" gerutu Ara melepaskan pelukan di lengan Aldev. Buru-buru gadis itu mengambil kaca dan sisir untuk membetulkan tatanan rambutnya kembali.
"Kamu mau seperti apapun tetap cantik, Bee," ucap Aldev tulus seraya mencubit pipi Ara gemas.
"Itu menurut Kak Al, kalau tidak ada yang mau denganku bagaimana? memang Kak Al mau tanggung jawab!" keluh Ara dengan kesal.
Gadis itu memajukan bibirnya sebagai bentuk rasa kesalnya pada Aldev. Seenaknya saja merusak penampilannya. Tidak tahu kalau dia sangat berusaha bahkan tanpa bantuan satupun pelayan ataupun menyewa jasa perias handal.
"Kalau tidak ada yang mau, Kak Al mau kok menikahi kamu, Bee."
Mendengar ucapan Aldev, Ara menoleh dan membulatkan mata dan bibirnya menganga. Apakah Aldev sedang menyatakan cinta padanya? atau hanya gurauan receh yang sengaja Aldev buat.
Bersambung...
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_
Mampir kuy ke karya bestie othor yang keceh badai ini. Ceritanya keren banget tau.
Eni Pua dengan judul Istri Titipan Talak 3.
Dimas Darmawan, seorang dokter muda yang terpaksa menikahi mantan istri sahabatnya yang bernama Winda Alicia.
mantan suami Winda, Bayu merencanakan pernikahan Dimas dan Winda agar Bayu bisa rujuk kembali dengan Winda setelah jatuh talak 3.
Hanya 6 bulan pernikahan, dan mereka harus bercerai.
Apa yang membuat Bayu begitu gigih berusaha rujuk dengan Winda?
Dapatkah Dimas menjaga istri titipan talak 3 sahabatnya?
Ataukah cinta akan tumbuh diantara mereka dan menjadi dilema bagi Dimas?
__ADS_1