
Bulan sudah bersinar, menerangi kegelapan langit malam. Sepasang suami istri tengah berada di dalam sebuah mobil sport yang melaju dengan kecepatan standart. Sang pria memegang stir mobil dan mengetuk-ngetuk jarinya di atas stir.
"Moon," panggil sang suami kepada istrinya.
Wanita yang berada di sampingnya menoleh. "Iya," jawabnya singkat.
"Apa kamu tidak merasa bahwa Daddy terlalu cepat mengambil keputusan?" tanya sang suami menatap istrinya.
"Daddy tidak pernah salah mengambil keputusan, Sun. Kita semua percaya kalau kamu memang sanggup," ujar sang istri seraya mengelus lengan suaminya.
"Tapi, aku merasa belum pantas," ujarnya dengan suara pelan.
Ara tersenyum lembut. "Cepat atau lambat, perusahaan itu memang akan menjadi hak kamu, Sun. Jadi, terima saja apa yang sudah di percayakan oleh Daddy. Bukankah sejak awal ini juga kemauan kamu?"
Mendengar ucapan terakhir istrinya, Ali terdiam. Dia juga ingat dengan kelakuan kurang ajarnya ketika awal menjalani hubungan dengan sang istri. Hanya karena rayuan Clarissa, dia sampai menjadi seorang pria matre yang rela menukar hubungan dengan harta.
Sementara Ara, wanita itu juga diam, menyesali ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya itu. Dia sadar, ucapannya itu pasti menyakiti hati suaminya. Perjanjian yang sudah mereka hancurkan, kali ini justru di ungkit kembali.
__ADS_1
"Maaf, Sun,"
Ali hanya membalas sang istri dengan senyum canggung. Sebagai pria, dia juga sadar bahwa ini semua memang salahnya. Sang istri tidak salah jika kembali membahas perkara yang memang pernah menyakiti hatinya.
Mobil yang di kendarai oleh Ali memasuki gerbang tinggi rumah minimalis, hunian yang mereka tempati bersama sejak awal pernikahan terjadi. Ali menghentikan laju mobilnya ketika sudah memasuki garasi mobil yang berjejer rapi mobil milik sang istri.
Keduanya turun bersamaan, lalu segera masuk ke dalam rumah yang hanya di huni oleh dua orang itu. Tempat itu sekarang sudah tidak di jaga ketat oleh penjaga, Ara memerintah semua penjaga yang berada di tempat itu untuk kembali ke markas, demi kenyamanan sang suami.
Pintu rumah terbuka setelah Ara memasukkan kunci dan membukanya. Mereka segera masuk dan langsung menuju kamar. Ara hanya masuk ke dalam kamarnya untuk meletakkan barang-barang miliknya, seperti tas dan sepatu. Sementara Ali langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ara turun ke bawah dan menuju mini pantry miliknya. Dia akan memasak menu sederhana lagi untuk suaminya, yang sekarang berubah menjadi pria rakus. Terbukti tadi pagi, pria itu memakan semua masakannya seorang diri. Hingga dengan terpaksa dia hanya memakan roti bakar untuk sarapannya.
"Aku masak apa, yah?" monolog wanita itu seraya membuka kulkas.
Dia memutuskan untuk mengambil ikan bawal dan jengkol untuk di masak. Tangan lentiknya begitu cekatan mengolah apa yang menjadi targetnya. Wanita itu membersihkan sendiri ikan yang itu dengan tangannya, mencuci, memberikan bumbu hingga menggoreng ikan itu dengan minyak panas.
Selesai dengan ikan bawal, kini Ara berganti untuk mengolah jengkol. Wanita itu merebusnya lebih dulu sebelum akhirnya di geprek dan di goreng. Setelah itu memberikan bumbu rempah dan mengolahnya menjadi semur jengkol.
__ADS_1
Hampir 45 menit berkutat di dapur, Ara kini telah selesai mengolah kedua menu favoritnya. Menata piring, gelas, hingga sendok ke meja makan. Menyajikan kedua menu itu berdampingan bersama dengan nasi.
Saat Ara baru saja selesai menata semua makanan yang di buatnya di atas meja, bertepatan dengan Ali yang baru saja turun dari lantai atas. Laki-laki itu tampak segar dengan rambut yang sedikit masih basah. Suaminya itu memakai celana pendek dengan stelan kaos polos.
"Wah, sudah matang masakannya?"
"Iya, tapi aku belum mandi," jawab Ara singkat.
Ali menatap istrinya dari bawah ke atas. Istrinya itu memang masih menggunakan pakaian saat dia ke kantor tadi, hanya di tambah celemek yang menjadi lapisan pertama agar percikan noda masakan tidak mengotori bajunya.
"Kamu tidak mandi pun, aku mau kok makan kamu." Ali mengedipkan sebelah matanya.
Ara tertawa lepas, lalu memukul lengan suaminya itu sedikit keras. "Kamu sekarang berubah jadi Alimes*m, yah!" ejeknya sebelum berlari pergi dari tempat makan.
"Moon!"
Bersambung...
__ADS_1