
Ara masih terdiam dengan pandangan menunduk, bingung untuk menjawab tuduhan suaminya.
"Moon? Kamu bohong?" Ali mengulangi pertanyaannya.
"Maaf," jawab Ara lirih.
"Ya sudah, sana wudhu. Ikut aku solat," Perintah Ali pada istrinya.
Ara menurut, gadis itu segera berlari ke arah kamar mandi untuk mensucikan dirinya. Ara melakukan itu seperti yang di ajarkan oleh Ali, gadis itu memang pandai dan mudah menyerap ilmu yang di berikan padanya dalam waktu singkat.
Ara keluar dari kamar mandi setelah selesai berwudhu, segera mengambil mukena dan menggelar sajadahnya di belakang sang suami.
Mereka berdua melaksanakan sholat tahajud bersama.
Setelah selesai solat, Ali memimpin doa untuk kelangsungan keluarga kecil yang baru mereka bina. Ali dan Ara mengadahkan kedua tangan mereka untuk meminta pada Tuhan yang Maha Esa.
"Ya Allah, jadikanlah keluarga kami menjadi keluarga yang sakinah, Mawaddah dan warahmah. Berikan kami keturunan yang baik, Sholeh dan sholekha. Dan berikan kesehatan untuk kami semua, Aamiin,"
Ali membalikkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya, Ara segera mencium tangan sang suami. Gadis itu masih sedikit takut jika sang suami akan marah karena kebohongannya.
Ali beranjak dan merapikan peralatan solatnya, lalu berjalan menuju ranjang dengan diam. Ara memperhatikan kegiatan suaminya, gadis itu tahu. Sang suami kecewa karena kebohongannya. Ara segera menyusul sebelum Ali memakai selimutnya dan menutup matanya.
"Sun," Panggil Ara dengan lirih setelah duduk di samping suaminya. Ali tidak menjawab dan justru meletakkan bental guling di tengah ranjang. Itu artinya, Ali sedang tidak mau berdekatan dengan Ara.
Ara mengambil guling tersebut dan mendekapnya dengan erat. Agar Ali tidak merebutnya. Masalah ini, harus segera di selesaikan, pikir Ara.
"Kamu marah, Sun?" tanya Ara dengan takut, Ara takut jika sang suami kembali emosi padanya.
__ADS_1
"Tidak." Ali segera masuk ke dalam selimutnya, Lalu merebahkan diri untuk bersiap tidur.
"Sun, maaf." Ara sedikit memberanikan diri dengan menarik selimut yang di kenakan oleh Ali.
"Kamu tidak salah, tidak perlu minta maaf." Ali merebut kembali selimut itu.
"Aku salah, Sun. Maaf," Ara menundukkan pandangannya.
"Kamu tidak salah, memang seharusnya kamu tidak memberikan itu padaku." Ali menjawab dan menutup badan hingga kepalanya dengan selimut.
"Bukan aku tidak mau memberi, aku hanya masih takut. Kalau kamu marah, ya sudah, aku mau tidur di kamar tamu." Ara berdiri dari duduknya untuk pergi dari kamar itu.
Mendengar ucapan sang istri, Ali membuka selimut dan menarik tangan Ara hingga gadis itu kembali terjatuh di ranjang.
"Berani kamu keluar dari kamar ini, aku akan pulang sendiri." Ali mengancam Ara ketika gadis itu akan memberontak.
"Kamu ini, kalau suami ngambek itu di rayu. Bukan malah mau pergi !" Ali sedikit meninggikan suaranya. Beruntung kamar di mantion Aditia kedap suara. Jadi tidak perlu takut jika ada yang mendengar suaranya.
"Aku harus merayu seperti apa?" Ara bertanya dan memandang suaminya. Ara mana paham dengan kata merayu, selama ini, dia hanya di sibukkan dengan urusan Deadly Scorpion dan juga urusan ARDA Corp.
"Seperti ini," Ali menarik tengkuk Ara dan menyatukan kedua bibir mereka. Ara hanya membulatkan matanya, Jadi, suaminya marah karena kegiatan ini belum selesai.
Ali sedikit memaksa Ara untuk membuka mulutnya, guna mengajak sang istri untuk berperang lidah. Karena sang istri tak kunjung membuka mulutnya, Ali sedikit menggigit bibir sexy berwarna merah muda itu hingga Ara membuka mulutnya.
Ali semakin bersemangat untuk memberikan rangsangan pada istrinya, Ara yang sudah terhanyut dengan permainan suaminya, ikut mengikuti permainan itu. Merasakan respon positif dari sang istri, Ali berlanjut dengan tangan kanannya menjelajah dengan nakal di beberapa bagian tubuh mungil sang istri, dengan tangan kiri masih menahan tengkuk istrinya agar tak melepaskan pagutan kedua daging kenyal yang mungkin akan menjadi candu untuk keduanya.
Tubuh Ara bergetar saat merasakan sensasi lain yang di berikan oleh suaminya, hingga tanpa sadar gadis itu melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. Ali yang semakin bersemangat karena rangsangan yang dia berikan pada istrinya berhasil, segera membaringkan tubuh Ara di ranjang empuk itu.
__ADS_1
Masih dengan kedua bibir yang bertaut, Ali berusaha membuka kancing pajamas yang di gunakan oleh Ara. Ara yang sadar dengan kelakuan suaminya segera menahan tangan itu. Hal itu membuat Ali menghentikan pagutannya dan menatap Ara dengan pandangan sayu. Tidak mungkin mereka menghentikan kegiatan itu ketika sang jagoan sudah on fire.
"Ayolah Moon, aku janji akan pelan-pelan." ujar Ali dengan suara serak, Ali masih berusaha mengalihkan tangan istrinya yang menahan kegiatannya.
Ara menatap suaminya yang benar-benar sudah dalam kabut ga*rah. Ara tidak tega jika harus menghentikan kesenangan suaminya. Akhirnya, gadis itu menurut. Melepaskan kedua tangannya yang tadi menahan kegiatan sang suami.
"Bolehkan?" Ali memastikan bahwa respon Ara memang bukan karena terpaksa.
Ara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, gadis itu menutup matanya ketika Ali kembali menyatukan pagutan yang tadi sempat terlepas. Ali mengabsen semua benda yang menempel pada tubuh istrinya dan menggantinya dengan selimut.
Saat semua sudah terlepas, Ali segera menuntun Ara untuk melakukan hal yang sama pada dirinya. Ali tidak mau jika pekerjaan ini, hanya dirinya yang mendominasi. Pria itu ingin bercinta karena sama-sama menginginkan.
Ara menurut dengan perintah Ali, jari mungilnya mulai membuka satu persatu kancing baju milik Ali, hingga pada kancing terakhir. Ara membuka setiap kain yang menempel di tubuh suaminya. Hingga mereka berdua sama-sama dalam keadaan polos dan hanya tertutup selimut tebal.
Ali memasukkan kepalanya ke dalam selimut, pria itu asik bermain dengan bukit kembar menantang milik istrinya. Ali memberikan rangsangan yang lebih agar sang istri tidak merasakan ketegangan. Dia tidak mau, jika Ara merasakan kesakitan yang luar biasa ketika melakukan kegiatan mereka.
Rintihan kecil keluar dari bibir tipis Ara ketika Ali masih asik di dalam sana. Mendengar suara indah Ara, Ali menerbitkan senyum kemenangan. Lalu keluar dari dalam selimut tebal yang membungkus kedua tubuh polos pasutri baru yang sedang berniat melakukan ritual malam pertama.
"Keluarkan Moon, jangan di tahan. Aku suka suara seksimu." Ali berkata dan kembali melakukan kegiatan yang membuat Moodnya kembali baik setelah kekecewaan yang tadi ia dapatkan.
Ara hanya mengangguk dengan pipi merah merona, dia kelepasan mengeluarkan suara yang membuat jiwa sensitif suaminya membara.
"Kenapa, berhenti Sun?" tanya Ara heran ketika Ali berhenti di tengah-tengah kegiatannya.
BERSAMBUNG...
Thanks For Reading...
__ADS_1
_Nurmahalicious_