Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Pengakuan wanita tua


__ADS_3

Perempuan yang terkurung di dalam sebuah ruangan rahasia itu mengalami dilema, entah harus merasa senang atau sedih. Di satu sisi dia merasa bahagia karena akhirnya dapat bertemu dengan ibu kandungnya yang terpisah selama 8 tahun.


Namun, di sisi lain dia juga mengkhawatirkan anaknya yang kini berada jauh darinya. Dia bahkan tidak tahu bagaimana nasib anak dan kedua mertuanya. Apakah mereka juga di sekap seperti dirinya atau bisa melepaskan diri dari kelompok orang yang menghadang mereka di pinggir jalan.


"Imel, kamu yang sabar. Istirahatlah, besok pagi buta sekali suruhan suamimu pasti akan menemuimu disini," ujar wanita yang tidak lain adalah ibu kandung dari Imel.


"Iya, Mah, tapi bolehkan Imel tidur di pangkuan Mama?" tanya perempuan itu penuh harap.


Wanita tua itu langsung merubah posisi agar sang anak dapat tidur di pangkuannya. Begitu sang ibu sudah siap, Imel langsung merebahkan tubuhnya dengan kepala yang berada di pangkuan wanita itu.


Meskipun wanita tua itu memiliki aroma tidak sedap karena sudah sekian lama tidak membersihkan diri, dia hanya di berikan waktu untuk mandi dan berganti baju seminggu sekali oleh sang suami.


Namun, Imel sama sekali tidak memperdulikan tentang aroma tidak sedap yang keluar dari tubuh sang ibu. Perempuan itu begitu nyaman berada di pangkuan ibunya hingga tertidur setelah mendapat belaian lembut di kepalanya oleh tangan keriput wanita tua itu.


"Maafkan saudaramu ya, Nak. Dia sudah salah jalan karena mengikuti Papamu," ujar wanita tua itu.


Cairan bening lolos begitu saja dari sudut mata wanita tua yang nasibnya sangat malang itu. Melihat sang anak dalam keadaan menderita sangat membuat hatinya teriris. Selama ini dia rela menjadi tawanan suami kejamnya, demi melindungi sang putri bungsu dari kekejaman pria itu.


Ibu kandung dari istri Reiner itu bahkan menyanyikan lagu-lagu yang merdu dari bnibir pucatnya. Mencoba memberikan ketenangan untuk putrinya lewat untaian bait per bait yang dia alunkan.


Nyanyian bercampur tangisan yang berasal dari wanita tua itu membuat Imel begitu nyenyak dalam tidurnya. Hanya sang ibu selalu menjaga agar tetesan air mata tidak jatuh ke tubuh sang putri dan mengganggu istirahatnya.


Kini fajar sudah muncul di peraduan, tepat pukul setengah 5 pagi. Dua orang masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh dua wanita berbeda generasi. Kedatangan dua pria itu membangunkan seorang wanita tua yang tertidur dengan bersandarkan papan kayu sebagai sandaran ranjang.


Kedua pria itu saling pandang, tetapi langkahnya tetap tidak berhenti. Mereka semakin mendekati dua wanita yang berada di atas ranjang kayu berukuran kecil itu. Melihat kedua pria yang datang, wanita tua itu sedikit terkejut karena salah satu dari pria itu bukanlah pria yang beberapa kali mengunjunginya.


"Tenang, Bu, jangan buat keributan!" Boy langsung memberi peringatan agar wanita itu tidak panik karena mendapati salah satu dari mereka berubah.


Wanita tua itu menurut, lagi pula salah satu di antaranya adalah remaja muda yang sangat dia kenali. Selain itu, dia juga tidak mau mengganggu tidur sang putri.

__ADS_1


"Itu ...."


"Iya, dia anakku, Imel. Istri dari pemimpin kalian," sela wanita tua itu ketika salah satu pria itu akan menebak siapa yang tidur di pangkuannya.


Kedua pria itu mengangguk, lalu saling pandang begitu lama. Mereka tidak menyangka bahwa prediksi mereka akan tepat sasaran.


"Tolong jaga Nona, Bu. Kami akan tetap memantaunya dari dekat," ucap Ferry.


Obrolan ketiga orang itu mengganggu tidur Imel, perempuan itu membuka mata secara perlahan. Ketika melihat kedua orang yang tidak asing baginya, Imel langsung bangkit dari posisinya dari berbaring menjadi duduk bersila.


"Kalian datang?" tanya Imel dengan sedikit senyuman di bibirnya.


Setidaknya dia lega karena anggota sang suami ada yang mengetahui keberadaan dirinya. Peluang untuk dia dan sang ibu untuk bebas semakin besar.


"Iya, Nona, kami di tugaskan oleh Tuan agar memantau orang tua kandung anda." Ferry mengeluarkan tab dari saku jaketnya.


"Fer, bagaimana keadaan mertua dan anakku? Mereka baik-baik saja, 'kan?" tanya Imel kepada tangan kanan suaminya.


"Mereka aman, Nona. Hanya saja di mansion ada seseorang yang menyamar sebagai anda sehingga mereka tidak tahu bahwa anda sedang di culik," jelas Ferry memberi tahu.


Perempuan itu terkejut dengan penjelasan dari orang kepercayaan suaminya, jika orang-orang di mansion tidak ada yang tahu tentang hilangnya dia, bagaimana dia akan selamat.


"Reiner juga tidak tahu, bahwa ada seseorang yang menggantikanku disana?" tanyanya ketika mengingat sang suami.


"Tuan tahu, Nona. Karena ini semua sudah di prediksi olehnya, untuk itu dia juga terus mengacuhkan Nona akhir-akhir ini."


"Jangankan Tuan, Nyonya besar sampai Nona kecil saja bisa merasakan bahwa perempuan yang berada di mansion bukanlah anda, Nona," sela Boy memberi tahu tentang keadaan mansion sebenarnya.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Imel dengan mata memicing.

__ADS_1


"Wajahnya memang mirip dengan anda, tetapi kelakuannya berbeda 1000 derajat dari anda. Sangat tidak klop jika di katakan kembar identik," jelas Boy tanpa memfilter ucapannya.


Remaja muda itu memang jauh dari kata pendiam, lebih suka berbicara dan lagi ucapannya itu tidak pernah di saring lebih dulu. Hanya saja, dia memiliki kelebihan yaitu selalu jujur tentang apapun itu.


"Benar, Imel, Kelakuan kakak kamu itu sekarang sangat berbeda darimu. Dia semakin hilang kendali karena didikan papamu itu," ucap wanita paruh baya itu membenarkan perkataan dari Boy.


"Boy, kau lancang sekali!" seru Ferry seraya menyikut perut Boy yang ada di sampingnya hingga mengaduh kesakitan.


"Tidak apa-apa, dia itu musuh kita, Kak." Boy kini beranjak. Remaja itu tidak mau lagi menjadi korban sikutan dari tangan kanan pemimpinnya.


"Papa Rico memang keterlaluan, Mah!" seru Imel tanpa sadar.


"Papa Rico?" tanya Kedua pria itu bersamaan.


Perempuan cantik itu terkesiap ketika sadar dengan ucapannya barusan. Dia menyebutkan nama sang ayah yang selama ini di minta untuk di rahasiakan.


"Apakah maksud anda Rico adalah Rico Maladeva, Nona? Ayah dari Tuan Alvino Maladeva?" tanya Ferry dengan mengintimidasi.


Pria itu tidak peduli bahwa perempuan itu adalah istri dari atasannya. Bagi dirinya semua informasi yang berharga dan para saksi kunci yang akan dapat membongkar kasus itu adalah tetap urusannya. Entah siapapun itu orangnya dan dimanapun keberadaannya.


Imel masih diam membisu, perempuan itu takut jika pengakuannya akan membuat sang suami semakin menjauhinya, lebih parah lagi jika nanti pria itu akan menceraikannya.


"Benar, Papa kandung Imel adalah Rico Maladeva. Ketua gangster terkejam, bahkan pada keluarganya sekalipun!"


Wanita tua yang merupakan ibu kandung Imel yang menjawab, dia juga sudah tidak tahan lagi dengan semua yang terjadi. Lagi pula pengorbanannya selama ini tetap di hianati oleh pria yang menjadi suaminya selama hampir 35 tahun ini.


Sementara kedua pria itu langsung terdiam dengan saling pandang. Entah apa yang ada di dalam pikiran kedua pria itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2