
Selepas kepergian Reiner dan Ali, Aldev menatap Clarissa yang masih diam berdiri dengan pandangan menunduk kebawah. Tangannya ia remas sendiri sebagai bentuk rasa cemas atas karir yang selama ini ia rintis. Apa lagi pria yang kemarin menjanjikan akan membantunya justru hilang tanpa kabar.
"Ehem, kau mencintai pria pengecut tadi?" tanya Aldev.
Clarissa mendongak lalu menatap heran pada pria di depannya. Untuk apa dia menanyakan perasaannya pada Ali, setahu Clarissa Ali tidak mempunyai teman seperti pria yang di yakini bukan orang sembarangan.
"Bukan urusan kamu," jawab Clarissa acuh.
"Aku peringatkan, jauhi dia atau kau akan berada dalam masalah besar!" Perintah Aldev tidak main-main.
Clarissa tersenyum sinis. Menurutnya siapapun dia, pria itu tidak punya hak untuk mengatur dirinya.
"Aku tidak akan pernah menjauhi Ali, dia pacarku. Dan aku tidak punya kewajiban untuk mengikuti perintahmu!" tolak Clarissa mentah-mentah.
"Wow, rupanya kau belum tahu siapa aku?"
Clarissa menghentikan langkah ketika mendengar pertanyaan tadi, dia memang tidak terlalu tahu siapa pria itu. Tapi dia sangat yakin pria yang tega menghajar Ali habis-habisan mempunyai kuasa yang kuat.
"Memang kamu siapa, sampai aku harus menuruti keinginanmu?" tanya Clarissa dengan sedikit berani.
"Anda tidak tahu siapa Tuan Muda saya, Nona?" sela Andri.
Sebagai tangan kanan Aldev, Andri maju saat identitas Tuan Mudanya di pertanyakan. Wanita rendahan itu berani sekali menentang Tuan Aldev, pikir Andri.
Aldev menahan tangan Andri ketika tangan kanannya itu mulai terpancing emosi, di bandingkan dengan Jonathan, Andri lebih sering tersulut emosi.
"Stop, Andri. Jika wanita itu tidak mau menerima perintahku, biarkan saja. Dia sendiri yang akan menyesal," ujar Aldev santai.
"Baik, Tuan." Andri mundur ke belakang Aldev.
Karena tidak mendapatkan respon baik dari Clarissa, Aldev memutuskan untuk keluar dari tempat itu. Suasana di tempat itu sudah cukup membosankan, karena tempat ini adalah tempat Favorit gadis yang terus menolak cinta darinya.
"Sebelum pergi, selesaikan dulu pembayaran. Ganti semua yang sudah rusak karena perbuatanku tadi!" perintah Aldev pada Andri.
"Baik, Tuan." Andri segera melangkah menuju meja kasir untuk membayar semua kerugian.
__ADS_1
Aldev berniat untuk keluar dan menunggu Andri di dalam mobil saja. Sedangkan Clarissa, wanita itu masih memperhatikan Aldev dengan seksama. Mencoba mengingat siapa pria yang berani memerintah dirinya.
Dengan langkah tegap, Aldev berjalan melewati Clarissa. Pria itu sudah tidak perduli pada perempuan j*lang yang sangat mengganggu.
"Tuan!" panggil Clarissa saat Aldev melewati dirinya.
Aldev menghentikan langkahnya, lalu menatap garang pada wanita tidak punya harga diri di sampingnya.
Pria yang sangat mencinta Ara itu sangat muak dengan keadaan. Ara menolak dirinya demi laki-laki yang mencintai wanita lain.
"Kalau boleh saya tahu, ada hubungan apa anda dengan g-gadis c-cu ... em, maaf, maksudku istri Ali itu?" tanya Ara dengan terbata saat mulutnya hampir menghina wanita culun yang merebut Ali darinya.
Aldev benar-benar muak dengan kelakuan wanita murahan di hadapannya. Untuk apa membahas dirinya dengan Ara.
"Kau tidak perlu tahu, yang jelas. Ara seribu kali lipat lebih berharga dari wanita sepertimu! aku tidak akan membiarkan Ara di sakiti oleh siapapun." ancam Aldev.
Pemimpin anggota Wild Wolf berwajag tampan itu kembali melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari tempat menyebalkan ini.
Clarissa menarik kesimpulan dari jawaban Aldev barusan, wanita itu sangat paham perasaan pria itu terhadap istri Ali.
Aldev menertawakan wanita yang berani sekali ingin memprofokasi dirinya. Bagi Aldev, untuk saat ini kebahagiaan Ara adalah segalanya. Tidak bersamapun dia masih bisa menjaga Ara dari jauh.
Clarissa terkejut dengan respon yang di berikan pria tampan di hadapannya. Bukan menerima saran darinya pria itu justru menertawakan dia. Apa ada yang lucu dengan saran yang dia berikan?
"Aku memang sangat mencintai Ara. Tapi bagiku, Ara bahagia sudah menjadi kebahagiaan untukku! dan aku sendiri yang akan menghabisi siapa saja yang berani menyakiti wanitaku!" jelas Aldev seraya menebar ancaman.
"Wah, budak cinta rupanya. Aku tidak menyangka, pria tampan dan berkelas seperti anda dengan mudahnya mengalah dari Ali yang bukan siapa-siapa!" Clarissa mencoba memprofokasi Aldev.
Mendengar ucapan Clarissa, Aldev membulatkan matanya. Berani sekali j*lang itu menghina dirinya. Bersamaan dengan datangnya Andri, Aldev berusaha bersikap wajar. Namun, tangan kanannya itu cukup peka terhadap sekitar.
"Maksud anda apa, Nona? berani sekali anda menghina Tuan Muda-ku!" hardik Andri pada Clarissa.
Clarissa semakin berani setelah kedatangan pria yang di ketahuinya bernama Andri, pria itu yang akan membantu dirinya untuk memprofokasi Aldev karena pria itu lebih terlihat arogan dan susah untuk mengendalikan dirinya.
"Aku tidak menghina, aku hanya heran saja. Jaman sekarang masih ada laki-laki bodoh yang mau menderita demi melepaskan cinta, dengan alibi kebahagiaannya lebih penting dari dirinya. Cih! lemah sekali."
__ADS_1
Mendengar perkataan Clarissa, Andri semakin terpancing emosi. Pria yang lebih tinggi dari Aldev itu segera menarik dan mencengkeram lengan Clarissa. Sedangkan Aldev, dia sudah benar-benar muak dan memutuskan pergi meninggalkan kedua orang yang sedang berdebat itu.
Setelah kepergian Aldev, Clarissa dengan berani menawarkan kerja sama dengan Andri. Dia harus memanfaatkan keadaan dan juga emosi yang di miliki Andri. Walaupun tangannya sakit akibat cengkraman Andri, Clarissa berusaha menampakkan dirinya baik-baik saja.
"Bantu aku mengubah pendirian Tuan Mudamu. Aku akan membantunya mendapatkan Ara," tawar Clarissa pada Andri.
"Aku tidak akan pernah bekerja sama denganmu!" jawab Andri.
"Apa kau tidak ingin melihat Tuan-mu bahagia dengan wanita yang di cintainya?" Clarissa tidak gentar untuk memprofokasi Andri.
Andri diam, cengkraman pada lengan Clarissa terlepas. Berusaha mencerna apa yang di katakan oleh wanita di hadapannya. Ya, tawaran Clarissa ada baiknya untuk Tuan Aldev. Selama ini, Aldev berusaha melakukan aktifitas seperti biasa. Namun, laki-laki itu sering hilang kendali saat sendirian.
'Apakah aku harus menerima tawaran dari wanita murahan ini?' batin Aldev bertanya.
Wanita licik itu tertawa dalam hati, kemungkinan rencananya akan berhasil dengan bantuan pria arogan bernama Andri.
"Kau boleh hubungi aku jika Tuanmu berubah pikiran." Clarissa menyodorkan kartu nama dirinya.
Saat masih dengan pikirannya, ponsel Andri berdering. Panggilan masuk dari Tuan Mudanya, dengan cepat Andri mengangkat telfon dari Aldev.
"Kau lama sekali, Andri!" bentak Aldev ketika sambungan telfon tersambung.
Bersambung...
Thanks For Reading...
Eh, aku punya rekomendasi cerita bagus banget nih. Punya temen othor yang keren abis. Kece badai membahana. Ini sedikit penjelasan ceritanya. Mampir ke sana ya, sambil nunggu Ara dan Ali update.
Hati siapa yang tidak hancur, saat sebuah hari istimewa yang diharapkan akan berbuah kebahagiaan. Tapi apa yang di dapatkan oleh Amber Wilson sang wanita tangguh ini, sebuah kesedihan dan perasaan kecewa, ketika sang kekasih tak kunjung datang tepat dihari pernikahan mereka. Sang kekasih yang begitu ia cintai mendadak menghilang dan tanpa jejak.
Hari-hari Amber ia habiskan hanya untuk menunggu sang kekasih, ia masih sangat berharap kekasih hatinya itu datang dan kembali padanya, tapi lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan.
Mampir ya ke karya Uma_bie dengan judul Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard.
__ADS_1