Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Pulang Ke Indo


__ADS_3

Kaget dengan pertanyaan yang di lontarkan sang suami, Ara hanya diam membeku tanpa menjawab apapun dengan ponsel yang masih menempel di telinga kanannya. Beruntung Reiner sangat peka untuk mendekati adiknya itu dan menyenggol Ara untuk menyadarkan wanita cantik itu.


"Eh, iya kenapa, Sun?" Ara kembali bertanya saat sudah sadar dari lamunannya.


"Kamu enggak dengar pertanyaan ku?" Ali masih enggan untuk mengulangi pertanyaan. Laki-laki itu bahkan tidak berniat memanggil sang istri dengan nama ataupun panggilan spesial yang ia berikan.


"Em, tentang Daddy, alhamdulilah Daddy udah baik-baik saja, Sun. Kamu enggak perlu khawatir," ujar gadis itu berusaha bersikap setenang mungkin.


"Alhamdulilah kalau begitu. Kalian kapan pulang? ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, tapi tidak bisa kalau hanya lewat sambungan telfon."


Gadis cantik itu kembali merasakan ketegangan. Ia sudah lebih dari tahu tentang apa yang akan di bahas oleh Ali. Suaminya itu pasti akan meminta penjelasan tentang apa yang sudah di katakan oleh Clarissa. Namun usapan lembut di bahunya kembali bisa menenangkan hati gadis berbaju merah muda itu. Ara menatap sang kakak lalu melempar senyuman tipis sebagai rasa terima kasihnya.


"Kita belum tahu, Sun, tapi nanti coba aku tanyakan sama dokter yang menangani Daddy." Ara berucap dengan mata terpejam.


Setelah obrolan itu, sepasang suami istri itu tidak membicarakan masalah lain. Masing-masing dari mereka kini tengah berperang dengan isi kepala dan juga hatinya satu sama lain. Ara yang lebih dulu memutuskan untuk mengakhiri sambungan telfon dari sang suami.

__ADS_1


"Sudah dulu, yah," tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Ara langsung memencet tombol gagang telfon berwarna merah.


"Sabar, aku pasti bantu jelaskan pada suamimu." Reiner dengan lembut mengusap kepala sang adik.


Gadis itu membalas rasa sayang yang di berikan oleh sang kakak dengan senyum manisnya. Kakaknya itu tidak pernah suka saat melihat dirinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.


*****


Kini Ara, Daddy Haris, Reiner dan beberapa ajudan yang mengawal mereka sedang menaiki pesawat jet pribadi yang tengah mengudara. Setelah mendapatkan izin pulang dari dokter, mereka segera bergegas untuk kembali ke negara tercinta.


Menempuh perjalanan panjang dari negara Jepang menuju Indonesia, Ara tertidur dengan bersandarkan bahu sang ayah. Daddy Haris yang meminta Ara untuk melakukan itu. Ia sangat ingin memperlakukan sang putri dengan baik agar putrinya itu tidak pernah merasakan sendirian.


"Sabar, Sayang. Kamu putri Mommy dan Daddy yang kuat, kamu adalah keturunan Mommy. Tidak heran jika sekarang kamu hebat sepertinya. Jika saja bukan karena menyelamatkan Daddy, Mommy pasti masih bersamamu." Daddy Haris berbisik seraya mengelus puncak kepala sang putri.


"Rei," panggil Daddy Haris pelan.

__ADS_1


Reiner yang berada tidak jauh dari Ara dan Daddy Haris bangkit lalu melangkah mendekat ketika mendengar panggilan dari sang ayah. Laki-laki itu bersimpuh di samping kursi yang di duduki oleh Daddy Haris.


"Kenapa, Dad?" tanya Reiner sepekan mungkin. Ia juga tidak mau istirahat sang adik terganggu.


"Setelah sampai di rumah, kamu tolong panggilkan Ali. Daddy yang akan menjelaskan segalanya pada suami Aracelia," ucap laki-laki paruh baya itu dengan tegas.


"Tidak, Dad. Masalah ini biar Ara dan Rei yang tangani. Daddy istirahat saja biar keadaan Daddy secepatnya pulih," ujar Reiner menolak dengan lembut.


Laki-laki muda yang biasanya tidak pernah membantah perintah dari orang tuanya itu saat ini tidak menyetujui keputusan sang ayah. Menurut Reiner, masalah ini harus di tangani sendiri oleh Ara. Ia sebagai kakak juga akan membantu jika memang di perlukan, tetapi untuk saat ini biarkan masalah ini di selesaikan sendiri oleh gadis yang kini masih terlelap di bahu ayahnya itu.


"Daddy tidak tega pada adikmu ini, Rei."


"Sudah, Dad. Daddy percaya kalau Ara wanita hebat, 'kan?" Reiner masih berusaha menenangkan Daddy Haris agar tidak terlalu memikirkan masalah yang kini di alami oleh Aracelia.


Saat kedua laki-laki berbeda generasi itu sedang membicarakan sesuatu yang serius. Tiba-tiba terdengar lenguhan lembut dari bibir seorang gadis yang kini masih bersandar pada bahu tegap sang ayah. Kedua laki-laki itu kompak menatap gadis kesayangan mereka itu dengan sedikit menahan tawa.

__ADS_1


"Kalian ngapain?"



__ADS_2