
Mobil mercedes Benz berwarna hitam mengkilat melaju membelah jalanan yang agak padat oleh lalu lalang kendaraan lain di kota padat penduduk ibukota Jakarta.
Ali mengendarai mobil yang baru di belikan oleh Ara sebagai mobil pribadi milik Ali sendiri. Awalnya laki-laki itu menolak pemberian dari istrinya. Namun karena Ara mengancam akan membatalkan rencana bulan madu konyol mereka jika Ali menolak mobil itu, membuat Ali akhirnya menerima pemberian sang istri.
"Moon, kenapa harus beli mobil lagi? bukankah di rumah sudah banyak mobil kamu?" Ali kembali bertanya pertanyaan sang sama sejak mengetahui Ara membeli mobil baru untuknya.
Ara menoleh pada suaminya yang masih fokus pada jalan di depannya. Wanita itu menghembuskan nafas kasar. Sejak tadi pertanyaan itu yang selalu Ali ucapkan, entah sudah berapa kali suaminya itu mengucap pertanyaan itu berulang kali.
"Kamu mau aku buang saja mobil ini, Sun?" tanya Ara kemudian membuang pandangan ke arah luar cendela mobil.
Mata tajam Ali yang sejak tadi masih fokus pada jalanan kini beralih ke samping kemudi. Tangan kirinya kemudian menyentuh dan menggenggam tangan lentik sang istri.
"Kamu sekarang baperan, yah, Moon." Ali membawa tangan itu ke atas pahanya. Mata yang tadi menatap sang istri kini beralih pada jalan di hadapannya lagi.
"Oh, kamu mau aku batalkan rencana bulan madu konyol kita ini? baik, kita putar balik. Jadi aku tidak perlu mengatakan pada Ibu dan Ayah tentang kekonyolan kamu dan Mami," ancam Ara saat Ali justru mengejeknya terlalu terbawa perasaan.
__ADS_1
Ali menginjak pedal rem saat lampu merah menghalangi jalan mereka. Kesempatan itu di gunakan Ali untuk merayu sang istri dengan mendaratkan kecupan mesra di tangan mungil istrinya. Ali bahkan tidak melepaskan kaitan kedua tangan mereka.
"Jangan, Moon. Kamu mau membuat Mami marah sama aku?" tanya Ali pada istrinya yang masih saja memandang keluar cendela.
Ara hanya mengedikkan bahunya sebagai tanda ia tidak tahu dan tidak mau peduli. Sebenarnya Ara hanya bercanda, tidak mungkin dirinya mengecewakan keluarga dan suami tercintanya.
Saat lampu berubah warna dari merah menjadi hijau Ali terpaksa melepas kaitan jemari tangan mereka berdua untuk mengatur tuas presneling pada mobil mewah itu.
Ali diam dengan pandangan ke jalan dan melirik sang istri. Ara masih saja tidak mengucapkan apapun hingga mobil kembali melaju dengan kecepatan standart.
"Harusnya ya memang seperti itu. Orang lain di kasih mobil itu senang, Sun. Sedangkan kamu malah mengajakku berdebat," ucap Ara mengalihkan pandangan pada sang suami.
Laki-laki yang awalnya menikah karena terpaksa dan hanya demi permintaan sang Ibu itu hanya tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.
Ali sadar, awal hubungan dirinya dengan sang istri memang berkaitan dengan harta. Akan tetapi itu hanya karena dirinya yang terbujuk oleh rayuan wanita ular bernama Clarissa, sang mantan pacar selama lima tahun ke belakang.
__ADS_1
"Iya, iya, terima kasih, Moon. Mobil ini aku sangat menyukainya, tapi aku lebih suka kamu."
"Gombal!"
"Aku enggak gombal, Sayang!"
Rona merah tercipta di kedua pipi wanita berkacamata itu. Hati Ara berbunga-bunga ketika mendengar sang suami memanggilnya dengan panggilan Sayang.
Ara menundukkan wajahnya demi menyembunyikan rasa gugupnya ketika sang suami memanggilnya begitu. Ara masih terlalu canggung untuk bermesraan dengan sang suami walau hanya berupa panggilan sayang.
"Turun,"
Bersambung...
Thanks For Reading...
__ADS_1
_Nurmahalicious_