
Seorang pria dengan jubah dan topeng yang menutupi seluruh wajahnya masuk ke dalam ruangan itu, di ikuti oleh dua pria berbadan kekar yang menggunakan pakaian serba hitam.
Beruntung remaja yang tadi masih di tempat itu berhasil keluar dari tempat menyeramkan itu lewat cendela. Meskipun dia harus bertaruh nyawa karena tepat di balik cendela itu adalah sebuah tempat tanpa balkon bahkan hampir tanpa pijakan.
Remaja itu dengan susah payah berpegangan pada dinding yang hanya mempunyai diameter 3cm menempel dinding. Apalagi di bawah sana beberapa kali ada penjaga yang berpatroli.
Entah mendapat keberuntungan dari mana, mereka yang berada di bawah sama sekali tidak melihat dia yang bergelantungan di dinding cendela dekat dengan ruangan yang di rahasiakan.
Setelah bersusah payah, remaja itu akhirnya dapat mencapai ke balkon ruangan lain. Dia segera naik dan bersembunyi ketika di tempat itu juga masih ada orang lain.
"Lo tahu, Tuan Rico sekarang kembali aktif lagi karena Tuan Aldev sedang tidak sehat."
"Semua orang juga tahu kalau Tuan Muda sedang sakit," timpal salah satu orang itu.
Samar-sama remaja itu mendengar pembicaraan kedua orang yang ada di ruangan itu. Saat dia berusaha untuk menyalakan penyadap yang masih tersisa, kedua orang yang tengah berbincang itu justru pergi dari tempat itu.
"Jadi benar firasatku, orang bertopeng tadi kemungkinan adalah Rico Maladeva."
__ADS_1
Remaja itu kini membuka cendela untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Akan tetapi belum melangkah, ponsel di sakunya justru berdering. Dengan cepat dia mengambil ponsel miliknya dan menerima panggilan itu.
"De! Sejak kapan kau jadi orang kepercayaan Reiner?" tanya seseorang di seberang sana bahkan sebelum remaja itu menyapa.
Remaja itu menjauhkan ponsel yang sempat menempel di telinga kanannya. Walaupun suara itu tidak terlalu keras, akan tetapi dia tetap terkejut dengan teriakan seseorang yang menghubunginya.
"Maaf, Nona."
"Aku tidak peduli, De. Kau harus segera kembali!" titah seseorang yang tidak lain adalah Aracelia.
Ara merasa kesal atas jawaban tangan kanannya itu, remaja yang biasanya selalu menurutinya itu kini berani membantah. Ara membuang nafas kasar dan langsung mengakhiri sambungan telfonnya.
Wanita cantik yang masih berada di gedung kosong itu mengetikkan sesuatu di ponselnya, setelah selesai dia mengirim pesan itu ke nomor seseorang.
Tidak lama ponsel wanita itu berdenting, pertanda sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi berwarna hijau di ponselnya. Wanita itu tersenyum lega lalu melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
Wanita itu membuka pintu mobil sport miliknya, lalu masuk dan mendudukkan dirinya di jok kemudi. Mobil melaju membelah jalan di tengah kegelapan malam yang sunyi.
__ADS_1
20 menit mengendarai mobilnya, kini Ara sudah sampai di rumah pribadinya. Rumah yang dia tempati sejak sebelum menikah dulu. Dia turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah sederhana yang kini dia tinggali bersama sang suami.
Dulu jika dia keluar tengah malam selalu harus masuk mengendap-endap agar sang suami tidak memergoki aksinya, tetapi tidak untuk sekarang. Dia bisa berjalan dengan leluasa tanpa bersikap seperti seorang maling di rumahnya sendiri.
Wanita itu menaiki tangga untuk menuju kamarnya bersama sang suami. Membuka pintu dengan pelan karena takut jika dia mengganggu tidur suaminya.
Namun kegiatannya sia-sia. Sang suami tidak sedang tertidur, melainkan sedang melaksanakan sholat tahajud. Ara menutup pintu kamarnya sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Wanita berparas ayu bak artis China itu melangkah perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Masuk ke dalam kamar mandi, Ara melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Menyalakan shower yang secara langsung mengguyur tubuh rampingnya serta menggunakan sabun cair agar tubuhnya bersih dari debu yang menempel. Setelah selesai dengan ritual mandinya, Ara menggunakan handuk dan segera mengambil air wudhu.
Wanita itu keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi dada sampai paha mulusnya. Bersamaan dengan Ali yang sudah selesai dengan curahan hatinya pada sang kuasa.
Ali menoleh saat merasakan sang istri berdiri di belakangnya. Senyuman manis terbit di bibir laki-laki itu saat mendapati sang istri dengan rambut basah.
"Moon, kau mau menggodaku?"
Bersambung...
__ADS_1