Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Kesedihan Mami Jane


__ADS_3

Mami Jane berdiri dari duduknya dan memberikan segelas Air putih untuk Papi Adit, tangannya dengan lembut mengusap punggung suami tercintanya. "Papi enggak apa-apa, kan?" tanya Mami Jane memastikan.


"Tidak apa-apa," jawab Papi Adit singkat.


Ali masih memperhatikan interaksi kedua mertuanya yang masih terlihat harmonis walau di usia yang sudah paruh baya. Mereka masih terlihat saling mencintai dan saling menjaga satu sama lain.


"Mi, Pi, boleh Ali bertanya?" Ali memberanikan diri untuk bertanya pada kedua mertuanya.


Mami Jane dan Papi Adit menoleh ke arah Ali, lalu tersenyum lebar. Menantunya itu terlalu bersikap formal pada mereka.


"Tentu saja, boleh, Ali. Kamu mau bertanya apa?" Suara lembut Mami Jane yang mengalun dengan indah di ruangan itu. Mami Jane mendudukkan diri di kursi miliknya.


"Em, k-kalian sudah menikah berapa tahun? kenapa sampai sekarang masih terlihat saling mencintai satu sama lain. Ali ingin tahu, apa yang sering kalian lakukan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga?"


Papi Adit kembali menerbitkan senyuman saat mendengar pertanyaan dari menantunya, bukankah keluarga Mahendra juga harmonis hingga saat ini? pikir Papi Adit.

__ADS_1


"Kami sudah empat puluh tahun menikah, Ali. Selama pernikahan, Papi tidak pernah sekalipun absen untuk memberi Mami kejutan-kejutan kecil yang membuat Mami semakin mencintai Papi." Mami Jane menghela nafas panjang demi menetralkan perasaannya.


"Apa lagi kami tidak seberuntung orang lain, yang langsung memiliki momongan. Reiner dan Catrine hadir di kehidupan kami setelah sebelas tahun pernikahan kami," Tanpa terasa air mata mengalir dari kedua matanya.


Papi Adit bangkit dari duduknya dan berpindah tempat di sebelah Mami Jane. Papi Adit mengelus bahu Mami Jane yang sedikit bergetar, "Tidak apa-apa, Mi, Mami tidak perlu mengingat yang sudah berlalu. Bukankah kita sudah memiliki Reiner dan Ara?" ujar Papu Adit berusaha menenangkan istrinya.


Mami Jane teringat dengan perjuangan mereka untuk mendapatkan Reiner dan juga Catrine bukanlah perjuangan yang mudah, apa lagi Catrine justru meninggal dengan cara tragis.


Ali terlihat sangat tidak enak hati karena pertanyaannya justru membuat sang mertuanya sedih. Ali menatap kedua mertuanya dengan mata berkaca-kaca, sebagai seorang laki-laki, Ali cukup mengerti bagaimana keinginan seorang laki-laki untuk segera memiliki momongan, Namun harus menguatkan istrinya yang lebih rapuh dari pada sang suami.


"Maaf, Mi, Pi, Ali tidak bermaksud membuat kalian bersedih. Maafkan Ali," ucap Ali tulus.


"Tidak apa-apa, Ali. Kamu bagian dari keluarga ini, jadi sudah sepantasnya mengerti tentang sejarah keluarga kita."


"Iya Pi, tapi Ali merasa tidak enak karena membuat Mami teringat dengan masa sulitnya," Ali menundukkan pandangannya.

__ADS_1


"Mami tidak apa-apa, Ali, Jangan terlalu di pikirkan. Mami memang sering teringat dengan Chatrine," ujar Mami Jane setelah bisa menghentikan isakan yang keluar dari bibir tipisnya.


"Papi dan Mami hanya minta satu hal pada kamu, jangan kecewakan Ara, dia putri kesayangan kami. Dia adalah pengganti Chatrine saat kami terpuruk kehilangannya," pinta Papi Adit pada Ali.


Ali mengangguk, setelah mendengar hal ini, mana mungkin dirinya akan mengecewakan istri yang tulus mencintai dirinya.


"Ali pasti akan mencintai Ara dengan tulus, Mi, Pi, Ali janji tidak akan meninggalkan Ara, apapun yang terjadi." tekad Ali.


"Apapun itu? walaupun Ara mengecewakan kamu?" tanya Mami Jane lirih.


"Asal Ara tidak menyembunyikan apapun dari Ali. Ali tidak akan pernah meninggalkan Ara, Mi,"


Mami Jane terkesiap, bagaimana jika Rahasia yang dijaga Ara akan terbongkar dan merusak rumah tangga mereka?


Bersambung...

__ADS_1


Thanks For Reading...


_Nurmahalicious_


__ADS_2