
Setelah berlarian, Rachel segera mendekat dan duduk di pangkuan sang Papi. Gadis kecil itu begitu manja pada Reiner
"Papiy, mak Mila kan baik. Ahel tidak mau mak Mila pelgi." mencium pipi Reiner.
Mendengar ancaman yang di lontarkan oleh Tuan Mudanya, Baby sitter bernama Amira itu semakin menundukkan kepalanya. Bagaimana jika ucapan Tuan Mudanya benar-benar serius, ia akan kehilangan penghasilan yang ia gunakan untuk menghidupi orang tuanya di kampung.
"Sayang." mencubit perut Reiner.
"Awh, Sayang. Kenapa aku di cubit?" teriak Reiner kesal saat mendapatkan cubitan dari sang istri.
Imel beralih pada Amira yang masih saja menundukkan pandangannya, ia tersenyum saat melihat ketakutan yang di tunjukan oleh orang kepercayaannya untuk menjaga sang buah hati.
"Mbak, jangan takut. Rei hanya bercanda kok, dia tidak mungkin berani memecat kamu tanpa ijin dari aku. Lagi pula Rachel sayang sekali pada kamu," jelas Imel menenangkan Amira.
Setelah meyakini bahwa Nona Mudanya benar membelanya, Amira berani mendongakkan wajahnya dan memandang Imel dengan mata berkaca-kaca.
"Nona serius?" tanya Amira memastikan.
Selain ia tidak mau kehilangan pekerjaan, ia juga tidak mau jika harus berpisah dengan gadis kecil yang begitu ia sayangi. Amira sudah bekerja menjaga Rachel sejak bocah kecil itu baru saja lahir.
Imel mengangguk. "Tanya saja pada Ahel, Ahel sayang Mbak Mira kan?"
Rachel berlari mendekat dan segera memeluk kaki Amira, sedangkan Amira segera menjongkokkan badannya untuk mensejajarkan posisinya dengan Nona kecilnya.
"Ahel sayang mak Mila," ucapnya seraya memeluk wanita tersayangnya.
"Mbak Mila juga sayang non Ahel," jawabnya seraya membalas pelukan Nona kecilnya.
Reiner yang melihat kedekatan keduanya akhirnya mengalah, mau bagaimanapun Rachel dan Imel memang mencintai wanita bernama Amira itu. Lagi pula ia memang hanya bergurau soal pemecatan itu.
"Sayang, kita ke kamar yuk." Menowel hidung Imel.
"Apa sih." Imel mengibaskan tangan Reiner.
"Ini sebagai ganti rugi barusan." Reiner mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Imel mendengus karena paham dengan maksud kedipan sang suami, Reiner pasti menagih ingin meneruskan hal tadi. Suaminya ini raja mes*m saat berada di mantion.
"Ayolah," Rengekan Reiner sudah seperti anak kecil yang meminta balon pada orang tuanya.
"Iya, iya." Imel berdiri di ikuti Reiner.
"Mbak, jaga Ahel yah. Aku tinggal ke dalam dulu, kalau Ahel susah di atur panggil saja Hendra."
"Baik, Nona."
"Mamiy, Papiy, Ahel tidak akan nakal. Ahel tidak mau mak Mila di suluh pelgi," ucap Rachel semakin mengeratkan pelukannya pada Amira.
Seperti gayung bersambut, Reiner merasa menang karena ancamannya berhasil membuat Rachel tidak mengacaukan keinginannya. Hal ini jarang terjadi karena sifar Rachel memang hampir sama dengan dirinya dalam hal kejahilan.
"Anak pintar, nanti Papiy belikan pabrik ice cream untuk Ahel." mengelus rambut anaknya.
Mungkin jika yang mendengar adalah orang baru yang tidak tahu siapa Reiner akan menganggap itu hanya gurauan saja. Sungguh orang kaya menghadiahkan pada gadis kecil bukan hanya ice cream, namun juga beserta dengan pabriknya.
"Yei, Ahel bisa makan ice cleam telus ya, Piy." bersorak kegirangan.
"Terserah kau, Rei." Imel berjalan lebih dulu di susul Reiner di belakang.
"Mak Mila, Ahel bakal punya Pablik ice cleam,"
"Kalau Ahel punya pabrik ice cream, nanti Ahel harus sering-sering berbagi ya pada yang membutuhkan." mengelus rambut gadis kecil itu.
"Ciap." Ahel meletakkan tangannya di keningnya sebagai tanda hormat.
*****
Di mantion yang berbeda, Ara dan Ali sedang melakukan makan malam. Mereka makan dengan diam tanpa suara, hanya ada dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan.
"Moon," panggil Ali pada sang istri.
Ara menoleh pada sang suami yang berada di depannya. Gadis itu menaruh sendok yang sedang ia gunakan untuk makan demi mendengarkan pembicaraan sang suami.
__ADS_1
"Kenapa, Sun?" tanya Ara lembut.
Ali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana ia harus membicarakan masalah ini, ia terlalu malu jika harus mengatakan pada keluarganya tentang rencana konyol Mami Jane.
Sedangkan Ara hanya memicingkan matanya, Ali terlihat seperti orang kebingungan dan gugup. Hal apakah yang akan menjadi pembahasan mereka kali ini?
"Kenapa, Sun?" tanya Ara sekali lagi.
"Em, gimana yah!"
"Kenapa?" Ara mulai kesal dengan tingkah suaminya.
"Nanti kamu yah yang bilang sama Ibu dan Ayah," ucapnya lirih.
"Bilang tentang apa?" Ara semakin tidak paham.
Ara memutuskan untuk meminum air putih karena sudah selesai makan. Gadis itu baru saja meneguk air putih, bahkan belum menelannya. Namun terpaksa terhenti karena ucapan Ali.
"Bilang tentang rencana Honeymoon massal usulan Mami."
Air putih yang sedang melewati kerongkongan Ara terpaksa menyembur keluar, Ara terkejut dengan ucapan Ali barusan. Ia kira hal itu hanya gurauan semata, namun ternyata mereka serius dengan rencana konyol itu.
"Kalian serius, Sun?"
Bersambung...
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_
Maaf yah aku jarang banget update sekarang.
Kak boleh ya mampir ke karyaku yang lain.
__ADS_1
Ini cerita sederhana dan Real story. Mohon dukungannya ya Kak. Terima kasih sudah setia pada author abal-abal ini. Heehe, always Miss You.