
Tepat tengah malam rombongan Reiner dan Dean baru saja keluar dari mobil yang mereka parkirkan jauh dari markas yang akan mereka serangn. Mereka sengaja melakukannya tengah malam agar tidak terlalu mengundang perhatian lawan.
Mereka yang sudah berkomunikasi dengan Boy dan Ferry yang berada di dalam markas membuat mereka tahu bahwa keadaan markas sedang tidak dalam kondisi ketat. Entah sebagian penjaga yang bertugas tiba-tiba malam ini terlihat menghilang.
Dean mencoba merentas kamera pengintai yang berada di setiap sudut markas itu agar mereka tidak ketahuan akan menyerang oleh lawan.
"Aku tidak menyangka bahwa Rico tega melakukan ini pada istriku," ujar Reiner geram.
"Nona sudah mengalami ketidak adilan ini sejak kecil, Tuan. Karena sejak kecil Nona tidak memiliki sedikitpun sisi jahat dalam dirinya," ucap Dean menjelaskan.
Reiner mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dia jadi membayangkan bagaimana nasib sang istri ketika masih hidup bersama dengan orang tua dan kembaran yang kejam.
"Apakah Aldev juga tahu tentang ini?" tanyanya memastikan.
Dean menggelengkan kepala, dari informasi yang dia dapatkan. Alvino sama sekali tidak tahu bahwa sang ayah memiliki wanita lain selain ibunya. Walaupun Alvino dan Imel pernah bertemu ketika acara pemakaman Amel yang ternyata hanya bohongan itu, mereka hanya di kenalkan sebagai sepupu. Rico hanya mengakui Imel sebagai anak dari saudaranya, sementara Imel tidak pernah bisa membantah atau membela dirinya.
"Kurang ajar, orang tua itu tidak akan aku beri ampun!" geram dengan apa yang dia ketahui, Reiner meninju pintu mobil dengan tangannya sebagai pelampiasan emosi.
"Tenang, Tuan, anda akan dapat memberinya pelajaran nanti. Sekarang simpan dulu tenaga dan amarah anda untuk menghadapi mertua Anda itu," ujar Dean yang tidak suka jika tuan mudanya justru melampiaskan kekesalan pada benda-benda di sekitarnya.
"Cih! Aku tidak Sudi memiliki mertua sepertinya!" seru Reiner yang tidak mau menerima kenyataan itu.
"Sudah, Tuan. Kita masuk sekarang!" ajak Dean ketika sudah berhasil merentas kamera pengintai itu.
Reiner tidak membawa banyak pasukan, pria itu hanya membawa 10 orang yang terbagi dalam dua mobil. Mereka langsung menyebar untuk masuk ke dalam markas. 3 orang masuk melewati pintu depan di pimpin oleh Reiner, 3 orang lagi masuk melalui pintu samping di pimpin oleh Dean dan 4 orang lainnya masuk melalui pintu belakang di pimpin oleh Jorce.
__ADS_1
Mereka masuk dengan langkah waspada, walaupun Boy dan Ferry sudah memberikan aba-aba, akan tetapi mereka juga tidak boleh lengah. Rombongan itu bahkan memakai headset yang masing-masing tersambung dengan semua anggota.
Agar ketika salah satu dari mereka mengalami kesulitan, mereka akan dapat menyelamatkan satu sama lain. Apa lagi tujuan mereka adalah menyelamatkan istri dan mertua pemimpin Deadly Scorpion.
Saat masuk melalui pintu depan, Reiner melihat ada 3 orang yang berjaga disana. Dia langsung berlari dan menerjang penjaga itu di ikuti oleh kedua pasukannya. Mereka saling adu pukulan, tendangan hingga Bogeman maut. Tanpa waktu yang lama, anggota Reiner berhasil melumpuhkan ketiga penjaga yang bertugas di pintu masuk depan.
"Dasar lemah!" serunya mengejek.
Sementara Dean, pria itu dengan mudah melenggang masuk tanpa ketahuan oleh penjaga yang stay di ruangan CCTV. Remaja itu hanya tertawa tanpa suara ketika melihat orang itu hanya bekerja dengan sia-sia.
"Kau lihat saja sampai matamu juling, kau tidak akan pernah bisa melihat kedatangan kami."
Semua kamera pengintai sudah di program oleh Dean dengan satu file yang sama dengan sebelum di rentas olehnya. Jadi orang itu hanya menonton rekaman yang berputar-putar saja.
Keempat orang yang masuk melewati pintu belakang, ternyata di ruang belakang memiliki lebih banyak penjaga. "Sial, mereka lebih banyak, kelaurkan pistol kalian masing-masing. Bidik tepat di kepala atau jantung mereka sekalian agar kita tidak membuang-buang peluru!" perintah Jorce kepada ketiga orang yang mengikutinya. Merekapun langsung melakukan perintah dari pimpinan regu itu.
"Ah, dasar kutu busuk!" gerutu Jorce ketika mereka adu tembak, pria itu sebenarnya lebih suka adu jotos dari pada harus adu senjata.
Namun, pesan dari pimpinannya adalah mereka harus melakukan itu dengan cepat. Tujuan mereka datang ke tempat itu adalah untuk menyelamatkan istri dari pimpinan mereka, bukan mencari masalah lebih besar.
Pasukan Reiner dan Boy bergegas cepat agar sampai di ruangan yang di jadikan sebagai ruang tawanan Imel dan ibunya itu. Mereka harus segera membebaskan kedua wanita itu sebelum Rico menyadari penyerangan yang mereka lakukan.
Dean yang sudah lebih dulu mengetahui ruangan rahasia itu segera masuk, meninggalkan kedua anggotanya untuk menunggu sang pemimpin. Ketika Reiner sampai di sana, mereka langsung membiarkan Reiner untuk masuk ke dalam ruangan itu menyusul Dean yang sudah lebih dulu masuk.
Dean segera mendekat ketika melihat Boy sedang berjaga di depan pintu ruangan yang di jadikan sebagai ruangan penyekapan. "Boy, kenapa markas ini sangat sepi?" tanya Dean ketika sudah berada di depan remaja itu.
__ADS_1
"Tuan Rico membawa sejumlah pasukannya untuk bertransaksi, makanya aku menyuruh kalian untuk melakukan penyerangan malam ini juga!"
Dean mengangguk, akhirnya apa yang mengganjal di hatinya sudah mendapat jawaban. Pria itu sempat berpikir bahwa ini hanyalah skenario penjebakan yang sudah di rencanakan.
Ketika mereka sudah berada di dalam, pihak lawan akan mengepung mereka dan melakukan pembantaian.
Walaupun sebenarnya dia tidak merasa sedikitpun takut dengan itu, hanya saja dia memikirkan bahwa nyawa kedua wanita yang akan mereka selamatkan akan lebih berbahaya lagi kalau sampai hal itu terjadi.
"Baguslah, lalu dimana Kakakku?" tanyanya ketika tidak melihat sang kakak berada di markas.
"Kak Ferry ikut dalam transaksi senjata ilegal dan barang haram itu," jawab Boy persis seperti apa yang terjadi.
Dean terlonjak kaget, meski begitu remaja yang usianya tidak jauh dari Boy itu masih bisa mengendalikan diri. Rasa khawatir tiba-tiba merasuki hatinya. Dia begitu takut jika saja sang kakak akan tertangkap oleh pihak berwajib. Apa lagi akhir-akhir ini sering terjadi penangkapan mafia-mafia ketika beroperasi.
"Kenapa kau tidak melarangnya, Boy?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Dean.
"Kau benar-benar menyebalkan, Kak. Kau tahu kami disini menyamar sebagai anak buahnya, bagaimana bisa kita menolak perintah yang di putuskan oleh Rico sendiri!"
Dean semakin khawatir ketika mengetahui bahwa itu keputusan dari Rico, dia takut jika sebenarnya rencana mereka sudah tercium oleh pihak lawan. Untuk itu Kakaknya di bawa agar menjadi jaminan selanjutnya.
"De, Boy, kalian kenapa malah berada disini? Ferry mana, dari tadi aku tidak melihatnya?" tanya Reiner yang baru saja datang.
"Kakak di bawa transaksi, Tuan!"
"Apa?"
__ADS_1
Reiner terkejut karena sang tangan kanan tidak memberinya kabar bahwa dia ikut bertransaksi ilegal. Tiba-tiba dia teringat dengan beberapa mafia yang tertangkap akhir-akhir ini. Bagaimana jika Ferry akan masuk dalam daftar itu.
Bersambung...