Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
kemarahan mama seren


__ADS_3

Pria bertopeng yang tengah menodongkan senjata kepada Aldev itu mematung seketika. Suara dari belakang membuatnya terkejut. Seseorang yang sedang menjadi topik perdebatan antara dirinya dan Aldev kini juga berada di tempat yang sama.


Pistol yang dipegang olehnya tetap mengarah tepat ke jantung pria muda yang sama sekali tidak terlihat takut sedikitpun. Dia masih enggan untuk menurunkan senjata miliknya. Tiba-tiba seseorang menghadang tepat di depan senjata api itu dengan tatapan penuh amarah.


"Sebelum kau bun*h Al, silahkan B*nuh aku lebih dulu." Wanita itu semakin maju hingga pistol itu menempel dengan tubuhnya.


"Mama," larang Aldev ketika sang ibu melindunginya.


"Biar, Al, biarkan saja Papamu ini puas. Selama ini Mama hanya bisa melihat, saat kamu di siksa oleh Papamu. Sekarang tidak lagi! Mama akan membelamu walau harus berkorban nyawa sekalipun," ujar sang ibu tanpa gentar sedikitpun.


Pria bertopeng itu akhirnya menurunkan senjatanya. Membuang benda itu jauh dari jangkauan mereka bertiga.


"Cukup, Seren! Kau sudah keterlaluan selalu memanjakan dia. Aku ini butuh penerus yang kuat dan tidak terkalahkan! Lihat anakmu sekarang! Dia bahkan lemah hanya karena perempuan." Tunjuknya kepada Aldev yang berada di belakang punggung sang ibu.


Sebelah sudut bibir wanita cantik itu terangkat hingga membentuk lengkungan. "Kau tidak berkaca, Sayang? Bahkan kau juga mempermainkan perempuan! Kau pikir aku tidak tahu dengan semua kelakuanmu di belakangku, selama ini?" tanyanya dengan lantang.


Tangan kanan pria bertopeng itu terangkat, hampir saja tangan itu mendapat landasan pipi mulus sang wanita. Namun, Aldev begitu sigap maju untuk menggantikan sang ibu, sehingga wajahnya yang kini menjadi landasan pacu tangan kekar sang pria bertopeng.


"Entah apa kesalahanku, sampai mendapat istri dan anak pembawa sial seperti kalian!" serunya penuh emosi.


"Stop, Rico! Kau benar-benar keterlaluan. Kau sendiri yang berhianat dan kau menyalahkan aku dan putramu! Mulai sekarang, urus saja bisnismu ini sendiri. Kalau kau butuh penerus, cari saja anak-anakmu yang lain." Mama Seren menarik Aldev pergi dari tempat itu.


Wanita paruh baya yang masih cantik di umurnya yang tidak lagi muda itu membawa sang putra untuk keluar dari markas sang suami. Meskipun hatinya hancur berkeping-keping, akan tetapi Mama Seren tidak ingin terlihat lemah. Apa lagi di depan putranya sendiri.


Aldev mengikuti langkah sang ibu yang tetap menggandeng lengannya. Pria muda itu menatap sang ibu dengan sedih. Dia sangat tahu bagaimana perasaan ibu kandungnya itu. Rasa bersalahpun hadir di jiwa pria tampan berusia 25 tahun itu.


Mereka keluar dari markas besar tersebut, Mama Seren dengan perlahan membawa putranya masuk ke mobil. Aldev masih saja menurut, pria itu sebenarnya sangat tidak terima dengan penghianatan sang Papa terhadap Mamanya.

__ADS_1


"Jalan, Pak!" perintah Mama Seren kepada sopir pribadinya.


Mobil itu melaju keluar dari halaman besar markas. Mama Seren mengalihkan pandangan, berusaha untuk tidak bertatap muka dengan sang putra yang berada di sampingnya.


"Mah," panggil Aldev seraya menggenggam kedua tangan ibunya.


"Al minta maaf," ujarnya lagi dengan penuh sesal.


Mama Seren akhirnya menoleh, menatap sang putra yang matanya sudah berkaca-kaca. "Kamu tidak perlu meminta maaf, Al. Ini semua bukan kesalahan kamu, semua ini berasal dari Papamu yang serakah dan kejam itu. Entah kenapa bisa, dulu Mama jatuh cinta pada pria seburuk dia."


"Mama menyesal karena mencintai Papa?" tanyanya menyelidik.


Sang ibu menggeleng. "Entahlah, hanya satu yang tidak Mama sesalkan dari hidup bersama Papaamu adalah karena memilikimu, Al. Tolong jangan mengikuti jejak Papamu," pinta sang ibu memohon.


Aldev semakin mengeratkan genggaman tangan mereka. Berusaha meyakinkan wanita paruh baya itu bahwa dia akan belajar dari semua yang terjadi pada kehidupannya.


"Mama tidak akan meninggalkan kamu, jika kamu tidak meniru kelakuan Papamu, Al. Tapi, kalau kamu melakukan apa yang papamu lakukan, Mama sendiri yang akan memberimu pelajaran yang setimpal."


Pria tampan dan gagah itu melerai genggaman tangannya dengan sang ibu. Tanpa meminta izin dia menjatuhkan kepalanya di pangkuan ibunya. Aldev bahkan memejamkan matanya untuk merasakan betapa wanita yang membuatnya hadir ke dunia ini begitu mencintainya. Mama Seren mengelus kepala sang putra penuh kasih.


"Tidurlah, Al. Mama tahu kamu selama ini selalu mengalami hal buruk, maafkan Mama karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik." Tangan itu tetap saja mengelus rambut hitam putranya.


Aldev tidak menjawab, hanya ada dengkuran halus yang keluar dari bibir pucatnya. Mama Seren menatap wajah sang putra yang terlelap menghadapnya. Pria itu tanpa malu bersikap seolah-olah anak yang masih berusia 7 tahun yang manja kepada ibunya.


Tetesan demi tetesan cairan bening keluar dari kedua sudut mata indah wanita paruh baya itu hingga membentuk anak sungai yang deras. Beberapa kali Mama Seren mencoba menyeka cairan yang lolos dari kedua sudut matanya itu agar tidak jatuh ke wajah putranya. Wanita cantik itu tidak mau istirahat sang putra terganggu akibat air matanya yang turun.


Sang sopir hanya sesekali melirik ke kursi penumpang lewat spion tengah mobil. Pria yang sebenarnya berprofesi bukan hanya sebagai sopir pribadi, melainkan merangkap sebagai bodyguard Mama Seren itu tidak berani bertanya apapun.

__ADS_1


Biasanya Nyonya besarnya tersebut akan bercerita dengan sendirinya jika memang sedang ingin bercerita. Namun, jika wanita itu memutuskan untuk diam, diapun tidak memiliki kuasa apapun untuk mencari tahu.


Sekian lama sudah wanita itu menangis dalam diam, hanya air mata yang menjadi saksi kehancurannya saat ini. Mencoba untuk tidak menangis saat itu juga, akan tetapi diapun hanyalah manusia biasa yang memiliki hati yang rapuh.


Mengetahui sang suami mencintai beberapa wanita lain selain dirinya membuatnya tersakiti, apa lagi dia harus menerima jika sang putra kini juga sudah mengetahui tentang kebejatan dari ayahnya.


"Rico! Kamu akan menyesal suatu saat nanti. Kamu yang menabur, kamu juga akan menuai. Kamu sudah melakukan kejahatan, kamu juga yang akan menerima konsekwensinya. Aku hanya bisa mengiklaskan apapun yang akan terjadi nanti," gumamnya seraya mengusap kasar air mata yang masih saja mengalir di wajahnya.


Beberapa saat menempuh perjalanan, kini mereka sudah sampai di mansion pribadi Alvino Maladeva. Untuk saat ini, dia akan menemani sang putra untuk tinggal disana tanpa gangguan dari pria pengecut yang selalu bersembunyi di balik topengnya itu.


Ketika mobil sudah berhenti, Mama Seren langsung membangunkan sang putra yang masih terlelap dengan mengelus lembut bahu kekar putranya itu.


"Al, bangun, Sayang! Kita sudah sampai," ujarnya begitu lembut.


Mata Aldev yang semula terpejam, kini mengerjap akibat mendengar suara lembut dari ibunya. Pria itu membuka mata lalu menguceknya dengan pelan. Pria itu langsung bangkit dari posisinya lalu tersenyum lembut ke arah sang ibu.


"Terima kasih, Mam."


Pria itu mengedarkan pandangan ke setiap sudut, saat sadar mereka berada di mansion pribadinya Aldev mengangkat wajahnya sebagai kode bahwa dia bertanya kepada sang ibu atas keputusan yang di ambil.


"Iya, Al, Mama akan tinggal disini bersama kamu. Kita akan hidup berdua tanpa Papa," jelas wanita yang sudah melahirkan Aldev ke dunia.


"Tapi, Mama yakin?" tanyanya memastikan.


"Mama yakin, atau kamu yang tidak mau tinggal bersama Mama?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2