Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Telletubies


__ADS_3

Ara mengira bahwa Syifana merasa iri pada Ali. Padahal dari penglihatannya Ibu Salma adil dalam memperlakukan mereka. Jangankan Syifa yang putri kandung mereka, dirinya yang hanya menantupun di perlakukan dengan baik. Ara bahkan merasa Ibu Salma sangat menyayangi dirinya.


"Syifa iri sama Abang?" tanya Ara.


Syifana menoleh ke arah Ara dengan tangan yang sibuk melanjutkan masakan ibunya. Gadis itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Ara.


"Syifa bukan iri, Kak. Hanya saja memang Abang paling jago rebut hati semua orang. Ayah, Ibu, bahkan Bude Nur juga."


"Ah, Bude Nur yang tinggal di Pekalongan itu, yah. Kakaknya Ibu?" tanya Ara memastikan jika ingatannya masih berfungsi dengan baik.


Gadis remaja itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ternyata Kak Ara masih mengingat anggota keluarga yang kemarin berhalangan hadir dan hanya mengucapkan selamat atas pernikahannya lewat sambungan telfon.


"Kak Ara pengen kenal sama Bude Nur, Syifa. Tapi kapan yah Abang mau kenalin Kakak sama Bude?"


"Kak Ara enggak takut? Bude galak loh," ujar Syifana bergurau.


Ara menggelengkan kepalanya. "Kakak 'kan enggak bandel kaya kamu," ucap Ara seraya berlari keluar dari dapur.


"Awas ya, Kak. Syifa balas nanti," Teriak Syifana yang tidak bisa meladeni candaan kakak iparnya.


Ara yang tengah berlari dari dapur ke arah ruang tamu menghentikan langkahnya. Wanita itu terpaku dengan pemandangan di depannya. Di sana, sang suami sedang berlutut di kaki sang ibu. Sedangkan Ibu Salma berusaha menarik Ali agar berdiri.


"Sayang, tolong jangan begini. Ibu sudah memaafkan kamu sebelum kamu meminta maaf," ujar ibu Salma lembut.


Ali mendongak menatap sang ibu dengan sendu. Air mata sudah menganak sungai di pelupuk matanya. Sebentar lagi pasti akan luruh di depan sang ibu. Dia sadar, selama inj sudah sering menyakiti hati sang ibu sejak ia bersama dengan Clarissa.


Ibu Salma memaksa Ali untuk berdiri dan menariknya ke dalam pelukannya. Beliau rindu dengan putranya yang sangat ia cintai.


"Bu, terima kasih sudah memilihkan Ali istri yang baik seperti Ara. Dia sama sekali tidak pernah merendahkan Ali walaupun derajat dia lebih tinggi dari pada Ali," ucap Ali setelah melerai pelukan keduanya.


"Ara baik 'kan, Sayang. Firasat seorang ibu tidak pernah salah,"


Ketika mendengar percakapan sepasang ibu dan anak itu, tidak terasa air mata Ara jatuh membasahi pipinya. Dia terharu karena mendapat suami dan mertua yang sangat menyayangi dirinya, meskipun saat awal perkenalan Ali tidak menerimanya dengan baik.

__ADS_1


"Ya Allah, boleh 'kan aku berharap mereka selamanya menjadi milikku? tolong jangan pisahkan kami," gumam Ara dalam hatinya.


Setelah perbincangannya dengan sang ibu, Ali menoleh ke samping. Dilihatnya sang istri sedang berdiri dengan mata berkaca-kaca.


"Moon, kamu kenapa?" tanya Ali seraya berjalan mendekat pada istrinya.


Ibu Salma tersenyum saat melihat sang putra mulai peka pada istrinya. Ali sudah berubah menjadi putranya yang dulu, perhatian dan peka dengan sekitarnya.


Saat sampai di depan Ara, Ali segera menggenggam jemari Ara lembut seraya mengelusnya dengan tangan kanan. Dengan ekspresi khawatir Ali membawa jemari Ara untuk di kecup mesra.


"Aku enggak apa-apa, Sun. Hanya terharu dengan kedekatan kamu sama Ibu," Ungkap Ara menjelaskan.


"Oh, aku kira kenapa tadi." Ali mengacak-acak rambut Ara karena gemas.


Kesal karena rambutnya di acak-acak Ali, Ara memonyongkan bibirnya sebagai tanda merajuk. Namun Ali justru tertawa lepas saat melihat Ara semakin imut saat melakukan itu.


"Kamu lucu, Moon." Ali mencubit hidung Ara membuat Ara semakin merajuk.


Wanita itu melepaskan dirinya dari sang suami dan berlari ke arah mertuanya. Ara bersembunyi di balik punggung Ibu Salma untuk menyelamatkan diri dari kejahilan Ali.


Mendapat perlakuan manja dari menantunya Ibu Salma justru merasa bahagia. Dengan senang hati wanita paruh baya itu membalikkan tubuhnya dan memeluk sang menantu dengan sayang.


"Biar Ibu pukul nanti suami kamu," ujarnya seraya memelototi Ali.


Pria kesayangan keluarga Mahendra itu pura-pura mendesahkan nafas kasar. Sang ibu justru membela istrinya dari pada dirinya. Walaupun dalam hatinya ia bahagia karena ibu dan istrinya memiliki kedekatan yang baik, bahkan seperti layaknya ibu dan anak kandung.


"Ibu curang, kenapa hanya istriku yang di peluk? Ali juga mau," rajuk Ali.


"Sini, Sayang." Ibu Salma melambaikan tangannya.


Ali segera berlari dan memeluk kedua wanita berharganya. Sungguh Allah sangat baik pada dirinya memberi keluarga yang sangat saling menyayangi.


Ketiga orang itu berpelukan dengan posisi Ibu Salma di apit oleh sepasang suami istri baru itu. Saat ketiganya larut dengan pelukan hangat dan rasa kasih sayang yang tercurahkan. Sebuah suara mengagetkan mereka hingga mereka menoleh pada sumber suara secara bersamaan.

__ADS_1


"Ah! Kalian enak-enakan disini jadi telletubies sedangkan Syifa di suruh jadi koki tunggal di dapur. Kalian kebangetan," Syifana berujar dari arah dapur dengan tangan menyilang di dadanya.


"Ha-ha, Adek kesayangan Abang merajok. Sini, Dek, kita berpelukan."


Dengan senang hati gadis remaja itu berlari dengan membentangkan tangannya. Bersiap untuk memeluk ketiga orang yang di sayanginya.


Syifana masuk ke dalam dekapan tiga orang itu. Mereka berangkulan mirip dengan adegan di film anak-anak yang berjudul Telletubies itu.


"Wah, hangat sekali pelukan kita. Padahal Syifa bau asap dapur," ujar Ali bergurau.


Laki-laki itu memang hobi menggoda sang adik satu-satunya yang sangat ia sayangi. Dengan begitulah dia menyalurkan rasa sayangnya pada gadis remaja di pelukannya.


Walaupun Syifa tahu maksud sang kakak hanya bercanda. Namun gadis remaja itu mendongak pada Kakak yang lebih tinggi darinya. Dengan bibir cemberut Syifana memukul perut Ali pelan.


"Biarin aja, abis ini, Abang tidak boleh makan masakan Syifa." Syifana menjulurkan lidahnya sebagai ledekan untuk kakak kesayangannya.


"Helleh, yang masak 'kan Ibu, bukan kamu." Ali menjewer telinga Adiknya pelan.


"Yang masak Syifa tau," Syifana tetap kekeh bahwa dirinya yang memasak menu hari ini.


"Yakin? kamu gak takut hidung kamu jadi panjang?" Goda Ali mencubit hidung sang Adik.


Masih dengan berpelukan tapi mereka masih sempat-sempatnya saling ledek. Ara dan Ibu Salma hanya tertawa ketika mendengar guyonan adik kakak itu. Mereka terlihat seperti Tom & Jerry di film kartun padahal mereka saling menyayangi.


"Ah, aku jadi rindu Rei. Sedang apa ya dia di markas?" Batin Ara bertanya.


Mereka berempat masih asik dengan drama berpelukan dan ejek-ejekan yang di lakukan oleh Ali. Hingga tidak sadar di belakang mereka berdiri seorang pria yang menatap interaksi keempat orang di hadapannya.


"Sejak kapan Telletubies pindah kesini?"


Bersambung...


Thanks For Reading...

__ADS_1


_Nurmahalicious_


__ADS_2