Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Op*rasi


__ADS_3

Ali tersenyum saat melihat Ara salah tingkah, gadis itu menundukkan pandangan. Bermaksud menyembunyikan air matanya.


"Jangan menangis, Moon, aku tidak suka wanita cengeng. Kau bilang, mau meluluhkan hatiku dalam waktu satu tahun. Tapi, baru hari pertama menjadi istriku. Kamu, sudah mau menyerah?"


Mendengar ucapan Ali, Ara segera menggelengkan kepalanya. Mana mungkin dia menyerah begitu cepat, perjuangannya masih panjang, demi sang sahabat.


"Tidak, Da-eh, Sun, aku tidak akan menyerah," Ara menjawab dengan gugup saat bibirnya hampir memanggil Ali dengan nama Danish.


"Baguslah, ayo sholat dulu. Moon." Ali mengakhiri obrolan mereka di sana.


Ara segera mengambil mukena miliknya, lalu mengikuti Ali ke dalam mushola di mantion besar papi Adit.


Ali mengambil shaf di depan, sedangkan Ara di belakang sebelah kanan Ali. Ara memakai mukena yang baru saja di belinya.


"Bagaimana niatnya, Sun?" Ara berinisiatif bertanya pada suaminya.


"Ikuti aku ya Moon, kalau aku Imaman kamu ganti dengan Makmuman," Ali memberitahu sang istri dan Ara mengangguk mengerti.


"Ushallii fardhal 'ashri arba'a raka'atin mustaqbilal qiblati adaan imaman lillaahi ta'ala," Niat yang di ucapkan oleh Ali.


"Ushallii fardhal 'ashri arba'a raka'atin mustaqbilal qiblati adaan makmuman lillaahi ta'ala." Ara megucapkan niat sesuai dengan yang di ajarkan oleh Ali. Gadis itu cukup pintar dalam menyerap ilmu yang di berikan kepadanya.


"Allahu Akbar." Ali melaksanakan sholat ashar sebagai imam di ikuti oleh Ara sebagai makmum. Ara dengan baik mencerna apa saja yang di baca oleh suaminya. Dari mulai Ali melakukan takbir hingga Salam, gadis itu mengikuti tanpa ada keraguan sedikitpun di hatinya.


"Assalamualaikum warrahmatullah." Ali dahulu mengakhiri sholatnya dengan salam. Di ikuti Ara, setelah itu Ali membalikkan tubuhnya, dan mengulurkan tangannya untuk di cium oleh sang istri


Ara mencium tangan laki-laki yang di cintainya dengan rasa nyaman, hingga tanpa terasa, lagi lagi air mata mengalir dari mata gadis itu. Dia menangis bukan karena cengeng. Hanya saja, Ara bersyukur bisa memiliki suami yang bisa membimbingnya.


"Kamu menangis, Moon?" Ali bertanya ketika merasakan ada air yang menetes di tangannya. Buru-buru Ara berusaha menghapusnya. Namun, tangan Ara di tahan oleh Ali. Pria itu yang akhirnya menghapus air mata yang mengalir di pipi istrinya.

__ADS_1


"Jangan menangis, Moon." ucap Ali seraya menghapus air mata Ara dengan jemarinya. Ali yang sedang menghapus air mata Ara terlalu fokus memandang wajah teduh istrinya.


"Setelah menikah, kenapa Ara semakin terlihat cantik. Padahal, dia tidak mengubah apapun yang ada di dirinya kecuali saat pernikahan dulu?" batin Ali memuji kecantikan sang istri.


Ara masih terdiam, matanya menatap bibir Ali yang sedang menerbitkan senyum tipis. Ara merasa gugup ketika tiba-tiba Ali mendekatkan wajahnya. Pria yang dulu dingin itu, saat ini mencium keningnya lagi, Rasa nyaman seketika menjalar di hatinya. Walaupun ini kedua kalinya, Namun, kali ini berbeda. Di tempat ini tidak ada orang lain yang mengharuskan Ali untuk berakting.


Ali tersadar ketika sudah beberapa menit bibirnya mendarat di kening Ara, dengan rasa canggung Ali melepaskan kecupan mesra untuk Ara.


"Maaf, Moon. Aku terlalu terbawa suasana." Pria itu menggaruk lehernya sebagai pelampiasan rasa malunya.


"Tidak apa-apa, Sun." Ara menjawab dengan kepala tertunduk. Gadis itu berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.


"Aku, menciummu di sini, sebagai bukti bahwa aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu. Moon," Ali berkata dengan yakin, pria itu menarik sang istri ke dalam pelukannya.


"Danish, apakah ini berarti, kamu sudah bisa mencintai aku?" Ara memberanikan diri bertanya saat masih dalam pelukan hangat Ali.


"Aku belum tahu, tapi, di hadapan tuhan. Aku berjanji akan berusaha mencintai kamu, Moon." Ali mengecup kepala Ara yang masih tertutup oleh mukenah.


Ali melepaskan pelukannya pada Ara ketika teringat, mereka bahkan belum berdoa setelah selesai sholat tadi.


"Moon, kita kan belum berdoa." ucapnya seraya menjauhkan dirinya dari sang istri.


"Iya, Sun. Ayo pimpin aku berdoa," pinta Ara dengan lembut.


"Baiklah," Ali mengucapkan beberapa doa untuk semua orang yang di kasihinya. Begitu juga dengan Ara.


"Ya Allah, terima kasih karena sudah mengizinkan aku memiliki Danish, tapi, tumbuhkanlah rasa cinta di hatinya. Agar aku tidak perlu takut lagi untuk kehilangan dia," Ara berdoa dalam hatinya.


*****

__ADS_1


Reiner sedang ada di dalam markas Deadly Scorpion, dari info yang mereka dapat. Malam ini, mereka akan mencoba menggagalkan atau lebih baiknya menangkap pelaku B*gal yang meresahkan di suatu daerah.


"Tuan, apa kita tidak perlu mengabari Nona Ace?" tanya Ferry pada pimpinan Deadly Scorpion.


"Harusnya tidak perlu, tapi kau tahu sendiri. Adikku itu, akan mengamuk jika tidak di ajak beroprasi. Coba kau suruh Dean untuk menghubungi dia, kalau mau ikut, beritahu saja alamatnya." Reiner beranjak setelah selesai memberi komando pada anak buahnya. Pria dewasa itu segera menyiapkan beberapa peralatan yang mungkin akan di butuhkan.


Dean segera menjalankan tugas yang diberikan padanya, Orang kepercayaan Nona Ace itu segera menghubungi sang Nona.


"Hallo, ada apa, Dean?" tanya seseorang di sebrang sana.


"Nona, kami akan beroprasi malam ini, apakah Nona mau ikut atau tidak?" tanya Dean memastikan.


"Boleh, aku ikut. Kau kirim saja lokasinya, nanti, aku menyusul. Aku harus mencari kelengahan Danish lebih dulu," ucap Ara pada orang kepercayaannya.


"Baik, Nona, segera saya kirimkan lokasinya. Tapi, apakah tidak apa-apa, jika Nona ikut?" Dean masih saja ragu dengan keputusan Nona mudanya.


"Dean, kau tahu, kan. Tujuanku ikut beroprasi karena aku tidak mau, ada korban sepertiku lagi !" tanpa sadar gadis itu membentak si penelfon dengan suara tinggi.


"Moon, kau bicara pada siapa? Kenapa berteriak?" Ali mendekat dan bertanya pada istrinya. Tumben sekali, gadis culun yang biasanya hobi menangis itu bisa membentak orang.


Mendengar pertanyaan Ali, Ara menoleh dan segera mematikan panggilan telfonnya.


"Sun !"


BERSAMBUNG...


Maaf gays, kemarin aku tidak update karena ada kendala.


Tetap dukung karyaku ya. Biar aku tidak down. Yang mau kirim hadiah, aku terima dengan senang hati. Jangan lupa like, komen, rate dan jangan hapus dari rak Favorit yah..

__ADS_1


Thank For Reading...


_Nurmahalicious_


__ADS_2