Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Rasa khawatir Nona


__ADS_3

Di dalam sebuah bangunan tua, tempat itu terlihat kosong. Walau bangunan itu sudah berusia puluhan tahun tak dihuni, akan tetapi tempat itu terlihat masih terawat. Banyak barang-barang mewah yang menghiasi tempat itu.


Seorang wanita dengan pakaian casual dan sepatu cats berdiri di ujung tepi bangunan. Dia menatap ke bawah, memperhatikan seorang pria yang tengah berjalan dengan tergesa menuju ke arahnya. Pria itu menaiki tangga dengan langkah berwibawa.


Ketika pria itu sudah tidak terlihat oleh netranya, Ara mengalihkan pandangan pada pemandangan di hadapannya. Bulan yang bersinar di temani bintang yang berkelap-kelip.


Tempat itu memang berada di Rooftop gedung, wanita itu sengaja mencari tempat yang lebih nyan untuknya berbicara dengan tangan kanan sang kakak. Ada banyak hal yang perlu dia diskusikan dengan pria itu.


"Nona," panggil pria yang kini sudah ada di belakang tubuhnya.


Wanita itu menoleh, lalu menepuk pegangan besi di samping. Sebagai tanda jika dia menyuruh pria itu untuk berdiri di sampingnya. Paham dengan maksud Nona Mudanya, pria itu mendekat. Berdiri tepat di samping wanita cantik dengan rambut yang di kuncir tinggi.


"Dean dimana, Fer?" tanya wanita yang tidak lain adalah Aracelia.


"Dean sedang menyelesaikan tugas dari Tuan Muda, Nona," jawab Ferry.


"Misi apa, Dean adalah tangan kananku. Kenapa memberi dia perintah tapi tidak konfirmasi dulu padaku?"


Ara memang sudah merasakan firasat yang membuatnya terus memikirkan tangan kanannya itu. Remaja yang biasanya tidak pernah menolak panggilan darinya itu kini mengacuhkan dia, bahkan nomornya sangat sulit di hubungi.


"Kemarin ada yang menyerang Tuan Muda, Nona. Mereka mengancam atas nama Nona Imel dan Nona kecil," jelas Ferry tanpa menutupi apa tujuan Dean di tugaskan di tempat itu.


"Kenapa harus adikmu? Kenapa tidak kamu saja yang kesana?" Ara tetap tidak terima karena tangan kanannya yang justru dalam bahaya sekarang.


Ferry menoleh sekejap mata, tidak berani menatap mata tajam wanita yang sangat berpengaruh di Deadly Scorpion.


"Awalnya memang harusnya saya yang pergi, tetapi Dean melarang saya, Nona. Dia menyuruh saya untuk menjaga Tuan Muda dan Nona Muda," jawab Ferry sesuai dengan kesepakatannya dengan sang adik.

__ADS_1


Kini Ara membalikkan tubuhnya menghadap Ferry. Mata tajam wanita itu menatap pria di hadapannya dengan sinis.


"Kau tidak takut kalau Dean tewas dalam misi ini?" tanya Ara mengintrogasi.


Ferry hanya tersenyum tipis ketika paham arah pembicaraan nona mudanya itu. Dia mengkhawatirkan adiknya yang memang sudah lama menjadi orang kepercayaan Ara.


"Nona, Dean ikut kita sudah sejak kapan?"


Ferry sengaja membalikkan pertanyaan. Soal rasa sayangnya terhadap sang adik tidak boleh di ragukan. Akan tetapi mereka memang sudah sejak kecil berkecimpung di dunia yang keras.


Ara kembali menatap langit hitam yang berhiaskan bintang-bintang di atas sana. Wanita itu menerawang jauh ke masa-masa awal menjadi keluarga Aditia Sanjaya.


"Pertama kali aku melihat dia, dulu masih sangat kecil. Kira-kira umurnya sekitar 6 tahun, ya 'kan?"


Ara mencoba bernostalgia dengan masa-masa dulu. Saat dia juga masih sangat baru di kenalkan dengan dunia permafiaan. Pada saat itu, dia juga baru berumur sekitar 12 tahun.


"Benar, Nona Ace. Saat itu, kami kehilangan orang tua kami saat usia Dean baru menginjak 5 tahun. Saya yang memang sudah bersama dengan Tuan Rei, hanya bisa membayar pengasuh untuk mengurusnya. Tetapi adikku itu sangat pintar, dia selalu membuat ulah dan berakhir berganti pengasuh setiap bulannya. Semua menyerah setelah mendapat gaji pertamanya." Ferry menarik nafas dalam dan tertawa ringan.


Ara terkekeh saat ingatannya kembali pada 12 tahun yang lalu. Saat itu, Dean sedang lucu-lucunya. Anak kecil tetapi begitu pintar dan cerdik. Dia bahkan masih ingat ketika pertama kalinya Dean menembak, hal itu terjadi tanpa sengaja. Salah satu anggota Deadly Scorpion yang teledor menaruh sebuah pistol yang masih berisi amunisi di nakas yang bisa di raih oleh pria kecil itu.


"Kau ingat, Fer. Ketika pertama kali dia menembak, usianya baru 7 tahun waktu itu. Kita semua kaget dan khawatir, tetapi anak itu justru tertawa bahagia." Ara menepuk keningnya sendiri.


Ferry mengangguk. "Ingat, Nona. Jadi untuk saat ini, apakah anda masih akan tetap mengkhawatirkan adikku itu?"


Ara terdiam, tidak menjawab pertanyaan dari Ferry. Wanita itu sibuk menatap kemerlip bintang di langit tinggi. Setelah sekian detik, dia baru menoleh ke arah Ferry yang masih berdiri di sampingnya.


"Kamu benar, Fer, Dean itu sangat cerdik. Untuk bisa mengalahkan dia, aku saja harus mencari tak-tik begitu lama."

__ADS_1


Pria tampan kepercayaan Reiner itu tersenyum bangga. Selain dirinya yang menjadi tangan kanan Reiner, Dean, sang adik juga menjadi orang kepercayaan adik dari bosnya.


"Tapi, kau tetap harus mengawasinya, Fer. Aku tidak mau hal buruk terjadi padanya," ujar Ara memberi perintah.


"Baik, Nona. Apakah hanya ini saja yang ingin anda bicarakan?"


*****


Seorang pria muda yang menggunakan topi hitam sedang mengendap-endap. Mengawasi dan memastikan bahwa tempat itu memang aman. Dia menyentuh handle pintu besar di depannya, berusaha membuka pintu itu.


"Ah, sial! Terkunci. Aku harus membobol sistem keamanan ini lebih dulu," monolog pria itu.


Remaja itu merogoh sebuah tab di saku jaket yang sudah dia design sendiri untuk menaruh benda-benda yang memang di butuhkan.


Setelah mendapatkan barang yang dicari, remaja pria itu mengotak-atik tombol-tombol yang keluar di layar sentuh itu.


"Nah, selesai."


Pria itu kembali memegang handle pintu itu dan menurunkan sedikit, pintu itu terbuka dengan mudah. Pria itu segera masuk ke dalam ruangan yang memang sejak kedatangannya di tempat itu sudah dia incar.


Begitu masuk ke dalam sebuah ruangan mewah dengan ornamen sedikit menyeramkan itu, dia kembali merogoh sesuatu di saku jaket miliknya. Remaja itu menempelkan sebuah benda kecil di bawah meja besar di ruangan itu.


Dia kembali berjalan menuju sebuah nakas kecil yang terdapat pot bunga mawar berwarna hitam yang tumbuh subur disana. Dia juga meletakkan sebuah kamera kecil di sela-sela bunga yang bagi sebagian orang melambangkan kisah cinta yang tragis.


"Kenapa ruangan ini sangat banyak terdapat bunga mawar berwarna hitam? Bukankah itu sangat aneh?" lagi-lagi remaja itu bermonolog.


Selesai dengan urusannya meletakkan beberapa barang yang akan membantu misinya, pria itu mengambil tab miliknya. Kembali memeriksa keadaan di luar lewat rentasan cctv di tempat itu.

__ADS_1


"Sial!"


Bersambung...


__ADS_2